Lifestyle

5 Skill Non-AI yang Wajib Dimiliki Fresh Graduate di Era Otomatisasi

5 Skill Non-AI yang Wajib Dimiliki Fresh Graduate di Era Otomatisasi
Seorang wanita melakukan gestur bersulang dengan lengan robot canggih, mencerminkan teknologi modern dan inovasi di bidang robotika. (Pexels/Pavel Danilyuk)

Lulus kuliah ternyata belum otomatis membuat seseorang menjadi manusia yang dibutuhkan pasar kerja. Ijazah sudah di tangan, CV sudah dibuat, LinkedIn sudah dipoles sampai fotonya terlihat seperti calon direktur. Tinggal satu masalah kecil, yaitu perusahaan ternyata mencari kemampuan yang benar-benar bisa digunakan.

Masalahnya menjadi lebih rumit ketika AI mulai mengerjakan pekerjaan yang dahulu dianggap aman. Menulis, merangkum, membuat presentasi, menganalisis data sederhana sampai menyusun ide kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan 39 persen keterampilan utama yang dibutuhkan pekerjaan akan berubah hingga 2030. Sebanyak 22 persen pekerjaan saat ini juga diproyeksikan mengalami disrupsi, dengan 170 juta pekerjaan baru tercipta dan 92 juta pekerjaan terdampak penghilangan.

Lantas, fresh graduate harus menjadi apa? Robot yang lebih murah dari robot? Rasanya bukan itu perlombaannya. Justru kemampuan manusia perlu diperkuat. WEF menempatkan lima kemampuan berikut sebagai lima core skills teratas yang dianggap penting oleh pemberi kerja pada 2025.

1. Analytical Thinking

Kemampuan pertama adalah “analytical thinking” atau kemampuan berpikir analitis. Sebanyak 69 persen perusahaan dalam survei WEF menganggap kemampuan ini sebagai core skill, menjadikannya peringkat pertama.

Berpikir analitis bukan sekadar pintar mengerjakan soal. Kemampuan ini berarti mampu membedakan masalah, membaca informasi, menemukan hubungan antarfakta, lalu mengambil keputusan berdasarkan alasan yang masuk akal. Fresh graduate yang hanya bisa berkata “kata AI begini” akan segera menemukan masalah baru: orang lain juga punya AI.

2. Resilience, Flexibility, & Adaptability

Peringkat kedua ditempati “resilience, flexibility, and agility” atau tahan banting dan adaptif, dengan 67 persen perusahaan menganggapnya sebagai kemampuan inti.

Dunia kerja tidak selalu memberi pekerjaan sesuai deskripsi lowongan. Hari ini menjadi penulis, besok diminta mengurus media sosial, lusa harus menghadiri rapat yang sebenarnya tidak tahu kenapa diundang. Kemampuan beradaptasi membuat seseorang tidak mudah ambruk ketika keadaan perubahan cepat terjadi.

3. Leadership and Social Influence

Leadership and social influence atau kepemimpinan dan kemampuan memengaruhi berada di posisi ketiga dengan 61 persen.

Fresh graduate tidak harus menjadi ketua tim untuk membutuhkan kemampuan ini. Kemampuan menyampaikan gagasan, meyakinkan orang lain, mengambil tanggung jawab dan menggerakkan sebuah pekerjaan merupakan bentuk kepemimpinan yang jauh lebih berguna daripada sekadar memasang kata “leadership” di CV.

4. Berpikir Kreatif

Sebanyak 57 persen perusahaan menempatkan creative thinking atau kemampuan berpikir kreatif sebagai kemampuan inti.

AI bisa menghasilkan seratus ide dalam beberapa detik. Masalahnya, seratus ide belum tentu menghasilkan satu ide yang benar-benar menarik. Kreativitas manusia diperlukan untuk memahami konteks, menemukan sudut pandang baru dan menentukan mengapa sebuah gagasan layak dikerjakan.

5. Motivasi dan Kesadaran Diri

Peringkat kelima ditempati motivation and self-awareness, yang dianggap sebagai core skill oleh 52 persen perusahaan.

Ini terdengar sederhana sampai seseorang harus bekerja ketika tidak ada dosen yang mengejar tugas. Fresh graduate perlu tahu apa yang dikuasai, apa yang belum dikuasai dan ke mana kemampuan tersebut hendak dibawa. Kesadaran diri membuat seseorang tidak sekadar sibuk, tetapi tahu alasan di balik kesibukannya.

Jadi, menjadi manusia yang tetap berguna di tengah otomatisasi ternyata tidak membutuhkan jurus rahasia. Lima kemampuan tersebut justru terdengar sangat biasa: berpikir dengan baik, tahan menghadapi perubahan, mampu bekerja dengan manusia, punya gagasan dan mengenali diri sendiri.

Masalahnya memang di situ. Hal-hal yang terdengar sederhana biasanya paling malas dilatih. Padahal ketika mesin semakin pintar mengerjakan pekerjaan rutin, manusia justru akan semakin mahal ketika mampu melakukan sesuatu yang tidak selesai hanya dengan menekan tombol “generate”.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda