Kolom
Kartun Edukatif atau Etalase Politik? Membongkar Agenda Terselubung di Film Melangkah dari Timur
Belakangan kita memang hidup di zaman yang serba aneh. Orang bisa menjadi terkenal karena joget, menjadi pejabat karena politik, lalu kisah masa kecilnya dibuatkan animasi. Tinggal tunggu sebentar, mungkin besok pengalaman antre fotokopi juga sudah punya serial delapan episode. Kali ini yang muncul adalah “Melangkah dari Timur”, serial animasi yang mengisahkan masa kecil Bahlil Lahadalia melalui tokoh bernama Baha.
Sekilas tidak ada yang aneh. Baha adalah anak dari Indonesia Timur yang hidup dalam keterbatasan. Ia bersekolah, membantu keluarga, menghadapi persoalan ekonomi, lalu berusaha mengejar pendidikan.
Cerita semacam ini tentu mudah disukai. Tentang anak kecil, perjuangan, kemiskinan, pendidikan, masa depan. Paket lengkap. Kalau ditambah musik piano pelan, rasanya tinggal menunggu tulisan “jangan pernah menyerah pada keadaan” muncul di layar.
Serial produksi Patopo Animation Bandung tersebut terdiri dari delapan episode. Episode pertamanya dirilis melalui kanal YouTube “Melangkah dari Timur” pada 25 Agustus 2026. Ceritanya terinspirasi dari masa kecil Bahlil dan didramatisasi untuk kebutuhan penceritaan. Tokoh Baha menjadi pintu masuk bagi penonton untuk mengenal perjalanan hidup seorang anak dari Timur yang kelak tumbuh menjadi Menteri ESDM.
Justru di sini saya mulai merasa sedikit terganggu. Bukan karena seorang anak tidak boleh diceritakan sebagai sosok yang berjuang. Tentu boleh. Masalahnya adalah ketika kehidupan seorang pejabat politik dipilih, dipotong, disusun, lalu diceritakan kembali sebagai kisah kepahlawanan. Sebab setiap cerita memiliki pekerjaan rumah yang jarang dibicarakan, yaitu apa yang dipilih untuk ditampilkan dan apa yang ditinggalkan di luar layar?
Robert M. Entman dalam “Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm” yang diterbitkan di Journal of Communication pada 1993 menjelaskan framing sebagai proses memilih aspek tertentu dari realitas dan membuatnya lebih menonjol dalam komunikasi. Dengan kata lain, framing bukan sekadar persoalan benar atau salah. Sebuah cerita dapat benar sekaligus tetap menghasilkan gambaran yang sangat selektif mengenai seseorang.
“Melangkah dari Timur” memilih beberapa bagian yang sangat efektif untuk membangun narasi heroik dengan keterbatasan ekonomi, perjuangan pendidikan, ketekunan, keluarga, serta perjalanan dari kehidupan sederhana menuju keberhasilan. Polanya mudah dibaca. Anak miskin berjuang. Anak itu belajar. Anak itu berhasil. Dari sini penonton tidak hanya memperoleh cerita masa kecil. Penonton memperoleh sebuah cara tertentu untuk melihat Bahlil.
Ini yang menurut saya menarik. Kita sedang melihat kehidupan manusia bekerja seperti naskah film. Masa kecil menjadi babak pertama. Kemiskinan menjadi konflik. Pendidikan menjadi jalan keluar. Kesuksesan menjadi klimaks. Padahal kehidupan nyata biasanya jauh lebih berantakan, lebih semrawut. Tidak ada narator yang membereskan kontradiksi kita. Tidak ada editor yang membuang adegan yang tidak cocok dengan karakter utama.
Konsep politainment David A. Schultz dalam “Politainment: The Ten Rules of Contemporary Politics” membantu menjelaskan keganjilan tersebut. Schultz melihat politik kontemporer semakin berkelindan dengan entertainment. Politik tidak harus hadir dalam pidato, baliho, debat, atau kampanye. Ia bisa datang melalui cerita yang lucu, menghibur, emosional, lalu diam-diam membentuk cara publik mengenali seorang tokoh.
Riegert dan Collins dalam kajian mereka mengenai politainment juga menjelaskan persinggungan antara politik dan hiburan. Ketika figur politik hadir melalui format hiburan, publik tidak hanya menerima informasi politik. Mereka menerima karakter. Mereka mendapatkan cerita. Mereka diajak mengenal tokoh melalui emosi sebelum masuk ke persoalan politiknya.
Di sinilah “Melangkah dari Timur” terasa janggal bagi saya. Kita tidak sedang melihat seorang menteri memberikan pidato tentang dirinya. Kita melihat seorang anak bernama Baha menjual kue, belajar dalam keterbatasan, lalu perlahan diarahkan menuju sosok Bahlil. Jauh lebih ringan. Jauh lebih mudah ditonton. Bahkan mungkin jauh lebih mudah disukai.
Persoalannya, kemiskinan kemudian berisiko berubah menjadi ornamen dalam cerita keberhasilan individu. Indonesia Timur hadir sebagai latar perjuangan. Keterbatasan pendidikan menjadi bagian dari konflik. Semua itu membuat keberhasilan Baha terasa semakin heroik. Padahal kemiskinan dan ketimpangan pendidikan bukan sekadar tangga yang harus dilewati seseorang sebelum menjadi sukses. Ia merupakan persoalan struktural yang dialami banyak orang.
Saya tidak sedang mengatakan seluruh kisah tersebut palsu. Itu tuduhan yang terlalu gampang. Saya juga tidak akan buru-buru menyebutnya propaganda. Apalagi produsernya menyatakan proyek tersebut digagas oleh tim produksi dan Bahlil tidak mengetahui proses pembuatannya sejak awal. Kita belum memiliki dasar untuk menuduhkan intensi politik tertentu kepada Bahlil.
Yang bisa kita lakukan adalah membaca bagaimana representasi itu bekerja. Ketika seorang pejabat politik mendapatkan kisah masa kecil dalam bentuk animasi, kisah tersebut telah masuk ke wilayah budaya populer. Ia tidak lagi sekadar biografi. Ia menjadi tontonan. Ia menjadi karakter. Ia menjadi cerita heroik yang dapat dikonsumsi siapa saja, termasuk anak muda yang mungkin lebih tertarik menonton animasi tujuh menit daripada membaca profil seorang menteri.
Dan mungkin di situlah masalahnya. Politik sekarang tidak selalu datang dengan wajah politik. Kadang ia datang sebagai anak kecil bernama Baha. Ia membawa kue, pergi sekolah, menghadapi kemiskinan, lalu tumbuh menjadi tokoh besar.
Kita tertawa, kita terharu, lalu kita selesai menonton. Padahal seharusnya ada satu pertanyaan kecil yang mengganggu setelah layar berhenti: “Siapa yang memilih cerita ini untuk kita lihat?” Semuanya tidaklah netral.