Lifestyle

Weaponized Incompetence di Rumah: Mengapa Laki-laki Perlu Belajar Mengurus Pekerjaan Domestik?

Weaponized Incompetence di Rumah: Mengapa Laki-laki Perlu Belajar Mengurus Pekerjaan Domestik?
Ilustrasi seorang pria sedang kelelahan (dok.Pexels/Mart Production)

Beberapa waktu lalu, sebuah unggahan di Threads tentang laki-laki yang dinilai tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga menarik perhatian warganet.

Dalam unggahan akun @jurnalsibapak, seorang bapak diceritakan diminta mengganti popok anaknya. Namun, popok dipasang miring hingga bocor dan membuat kasur basah. Kesal, sang istri akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut.

“Pak, itu BUKAN kelemahan. Itu STRATEGI. Dan strategi itu punya nama di dunia psikologi: Weaponized Incompetence. Ketidakmampuan yang dijadikan senjata,” tulis akun tersebut.

Fenomena weaponized incompetence merujuk pada kondisi ketika seseorang menunjukkan atau mempertahankan ketidakmampuannya dalam mengerjakan suatu tugas sehingga orang lain akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut.

Dalam rumah tangga, pola semacam ini berisiko membuat perempuan menanggung beban domestik lebih besar. Padahal, tidak mampu melakukan suatu pekerjaan bukan berarti seseorang tidak dapat mempelajarinya.

Di tempat kerja, misalnya, seseorang yang belum mahir mengerjakan tugas tertentu dituntut untuk belajar dan beradaptasi. Hal yang sama semestinya berlaku dalam pekerjaan rumah tangga.

Memasak, mencuci, membersihkan rumah hingga mengasuh anak merupakan life skill yang dibutuhkan setiap orang. Namun, pekerjaan-pekerjaan tersebut masih kerap dipandang sebagai tanggung jawab perempuan.

Melihat persoalan ini, Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) menilai weaponized incompetence tidak bisa dilepaskan dari norma gender yang telah membentuk laki-laki sejak kecil.

Sebagai Koordinator Nasional ALB, Wawan Suwandi atau Jundi, mengatakan pembagian peran yang menempatkan pekerjaan domestik sebagai tugas perempuan membuat sebagian laki-laki tumbuh tanpa terbiasa mengurus kebutuhan rumah tangga.

“Padahal pekerjaan domestik itu life skill bagi setiap orang. Dia bukan pekerjaan yang hanya dilakukan oleh perempuan saja,” kata Jundi.

Norma Gender Tradisional Telah Mengakar Kuat

Gambar laki-laki dan perempuan sedang memasak bersama di dapur
Gambar laki-laki dan perempuan sedang memasak bersama di dapur

Norma gender tersebut memang tidak selalu hadir dalam bentuk aturan tertulis. Namun, ia dapat diwariskan dari generasi ke generasi hingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Anak laki-laki, misalnya, lebih sering dilayani dan tidak dibiasakan mengerjakan pekerjaan domestik. Sebaliknya, anak perempuan lebih banyak diperkenalkan dengan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci atau membantu mengurus anggota keluarga.

Menurut Jundi, pola tersebut pada akhirnya dapat membuat laki-laki tumbuh tanpa kemandirian dalam urusan domestik.

“Dari kecil dia dilayani, dimanja, terus tidak diberikan tanggung jawab,” ujarnya.

Ketika dewasa dan berumah tangga, kebiasaan tersebut dapat menjadi persoalan. Laki-laki yang tidak pernah diberi tanggung jawab domestik mungkin benar-benar tidak memiliki keterampilan untuk mengerjakannya.

Persoalannya, ketidakmampuan tersebut kemudian dapat membuat pekerjaan kembali dilimpahkan kepada perempuan.

Di sisi lain, norma gender juga memengaruhi cara laki-laki memandang maskulinitas. Pekerjaan rumah tangga dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan gambaran laki-laki yang selama ini mereka kenal.

“Ketika dilakukan oleh laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang tidak laki banget, bahkan dapat meruntuhkan maskulinitasnya,” kata Jundi.

Padahal, menurut ALB, kemampuan mengurus rumah tidak semestinya menjadi ukuran maskulinitas seseorang.

Jangan Langsung Diambil Alih, Beri Ruang untuk Belajar

Forum belajar maskulinitas yang diselenggarakan oleh Aliansi Laki-Laki Baru
Forum belajar maskulinitas yang diselenggarakan oleh Aliansi Laki-Laki Baru

Di samping itu, permasalahan baru muncul saat laki-laki mulai mencoba mengerjakan pekerjaan domestik. Sayangnya, hasil tersebut belum sempurna.

Sebagai contoh, seorang laki-laki baru mulai mencoba menyapu atau mengepel. Hasilnya dianggap kurang rapi. Mungkin tanpa disadari, pasangan tidak sabar atau tergoda untuk mengambil alih pekerjaan itu.

Menurut Jundi, seharusnya pada tahap tersebut laki-laki diberi ruang untuk belajar. Dari kesalahan-kesalahan itulah yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk kembali membebankan seluruh pekerjaan kepada perempuan.

"Kasih ruang dan kesempatan pada laki-laki untuk bertransformasi. Jadi dia mencoba, kan ada trial and error," ujar Jundi.

Jangan kaget saat seorang laki-laki mencoba masak untuk pertama kali dan hasilnya belum sempurna, bahkan gosong. Pengalaman tersebut bisa jadi bagian dari perubahan kebiasaan.

Jundi juga menegaskan bahwa sebagai pasangan untuk tidak mengejek perubahan yang dilakukan laki-laki. Dengan memberikan dukungan diyakini lebih membantu daripada menjadikan kesalahan itu sebagai bahan olokan.

"Beri kesempatan sambil dikasih informasi yang tepat," katanya.

Bukan Sekadar Membantu, Melainkan Terlibat

Potret keluarga yang sedang memasak ketupat di dapur.
Potret keluarga yang sedang memasak ketupat di dapur.

Sebenarnya, laki-laki tidak boleh memandang pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang menjadi tanggung jawab perempuan dan sesekali dibantu. Laki-laki harus menilai dirinya sebagai bagian dari orang yang juga bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut.

"Penggunaan istilahnya itu 'terlibat', bukan 'bantu'. Karena kalau bantu cuma bantu-bantu aja. Namanya terlibat, ya itu berarti memang dia menjadi bagian dari berperan," jelasnya.

Demikian, laki-laki jadi tidak perlu menunggu diminta untuk mengurus pekerjaan domestik, seperti mencuci piring, memasak, membersihkan rumah, atau mengurus anak.

Jundi mencontohkan sederhana. Ketika istri tengah sibuk menyiapkan sarapan atau memyiapkan keperluan anak untuk sekolah, laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Membiasakan perubahan tersebut tidak selalu mudah. Hal ini dilatarbelakangi dengan doktrin yang diterima laki-laki mengenai peran gender selama bertahun-tahun.

Mereka itu bukan tidak mampu mengurus rumah. Laki-laki hanya perlu diberi kesempatan untuk membangun kebiasaan tersebut.

Pada dasarnya, pekerjaan domestik tidak bisa jadi tolak ukur maskulinitas. Kemampuan membersihkan rumah hingga mengasuh anak bukanlah berpaku pada satu gender saja, karena itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda