Lifestyle
Profesi Unik 'Ghostwriter' Aplikasi Kencan: Dibayar Mahal Cuma Buat Balas Chat Cari Jodoh!
Profil yang memikat di aplikasi kencan belum tentu ditulis oleh pemiliknya. Percakapan yang terasa hangat dan jenaka bisa saja dikerjakan orang lain yang dibayar untuk itu. Praktik ini melahirkan profesi baru yang disebut ghostwriter aplikasi kencan.
Bekerja di Balik Layar Orang Lain
Klien profesi ini umumnya orang berpenghasilan tinggi yang waktunya habis untuk pekerjaan. Mereka menyewa seorang penulis untuk menyusun bio, memilih foto, lalu membalas pesan calon pasangan atas nama mereka. Tugas si ghostwriter baru selesai ketika tanggal kencan berhasil disepakati. Setelah itu klien mengambil alih dan datang sendiri ke pertemuan pertama. Layanan sejenis diketahui mulai muncul di sejumlah negara dengan tarif yang bervariasi.
Pekerjaan ini menuntut lebih dari sekadar pandai merayu. Penulis harus memahami kepribadian klien lewat wawancara singkat lalu meniru cara bicaranya secara konsisten. Ia juga perlu membaca gelagat lawan bicara dan menjaga percakapan tetap mengalir selama berhari-hari. Kesalahan kecil seperti gaya bahasa yang tiba-tiba berubah bisa langsung menimbulkan kecurigaan.
Permintaan semacam ini juga tumbuh dari kelelahan yang dialami banyak pengguna aplikasi kencan. Menggulir profil dan membalas pesan setiap hari terasa seperti pekerjaan kedua. Orang yang sudah lelah di kantor sering kehilangan tenaga untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh. Jasa ghostwriter menawarkan jalan pintas yang terasa praktis.
Bagi klien, transaksi ini masuk akal secara hitungan waktu. Mencari pasangan lewat aplikasi menuntut ketekunan menyaring ratusan profil dan menjaga percakapan tetap hidup. Finkel dan rekan-rekannya dalam jurnal Psychological Science in the Public Interest mencatat bahwa akses ke banyak calon justru mendorong orang memperlakukan calon pasangan seperti barang dagangan yang dibandingkan satu sama lain. Dalam pola pikir seperti itu, menyerahkan proses penyaringan kepada orang lain terasa tidak jauh berbeda dengan menyewa asisten pribadi untuk mengatur jadwal.
Panggung Depan dan Tim Pemainnya
Sosiolog Erving Goffman sudah lama menggambarkan pergaulan sehari-hari sebagai pertunjukan. Setiap orang tampil sebaik mungkin di panggung depan dan menyembunyikan hal lain di belakang panggung. Goffman juga menulis bahwa sebuah pertunjukan sering dimainkan oleh satu tim, bukan satu orang saja. Konsep itu terasa pas untuk kasus ghostwriter. Penulis bermain di panggung depan lewat layar ponsel, sementara klien menunggu di belakang panggung sampai waktunya muncul.
Ada pula sisi lain yang jarang dibicarakan, yaitu posisi si penulis sendiri. Ia harus rela tidak pernah mendapat pengakuan atas percakapan yang berhasil. Jika hubungan itu berlanjut sampai pelaminan, namanya tetap tidak akan disebut. Pekerjaan ini menuntut kemampuan menulis sekaligus kesediaan menjadi tak terlihat.
Memoles diri di aplikasi kencan sebenarnya bukan hal baru. Ellison, Heino, dan Gibbs mewawancarai 34 pengguna sebuah situs kencan dan menemukan bahwa mereka menyusun profil berdasarkan versi ideal diri sambil tetap berusaha terlihat jujur. Penelitian Toma, Hancock, dan Ellison memberi gambaran yang senada. Kebohongan kecil soal tinggi atau berat badan ternyata lazim, tetapi selisihnya kecil karena orang sadar bahwa mereka akan bertemu langsung. Ghostwriter menggeser batas itu. Yang dipoles bukan lagi angka di profil melainkan seluruh gaya bicara.
Janji yang Harus Ditepati Orang Lain
Ellison, Hancock, dan Toma menyebut profil kencan sebagai sebuah janji. Isinya adalah gambaran tentang sosok yang akan ditemui ketika dua orang akhirnya bertatap muka. Masalahnya, janji yang dibuat ghostwriter harus ditepati oleh orang lain. Calon pasangan bisa saja jatuh hati pada selera humor dan kehangatan yang sebenarnya milik penulis bayaran. Finkel dan timnya menyebut komunikasi daring memang dapat menumbuhkan keakraban di antara orang asing. Namun keakraban itu juga dapat memunculkan harapan yang tidak realistis dan berujung kecewa saat pertemuan langsung. Pada kasus ghostwriter, jarak antara harapan dan kenyataan berpotensi lebih lebar.
Pembela praktik ini punya argumen yang tidak bisa diabaikan. Pidato pejabat ditulis oleh penulis pidato. Kartu ucapan romantis dibuat perusahaan percetakan. Klien tetap datang sendiri dan tetap bertanggung jawab atas hubungan yang terbentuk. Sebagian orang juga menyamakannya dengan meminta teman yang pandai menulis untuk membantu menyusun pesan pertama. Perbedaannya terletak pada skala dan bayarannya. Dalam sudut pandang ini ghostwriter hanya membukakan pintu. Ia tidak menentukan apakah dua orang itu cocok.
Perkembangan kecerdasan buatan menambah lapisan baru pada persoalan ini. Sebagian pengguna kini memakai alat berbasis AI untuk menyusun balasan pesan. Biayanya jauh lebih murah dan tersedia setiap saat. Pertanyaan etikanya tetap sama. Siapa sebenarnya yang sedang berbicara dengan calon pasangan itu?
Di Mana Batasnya
Pertanyaannya bukan sekadar boleh atau tidak. Ukurannya lebih sederhana. Apakah calon pasangan tetap merasa dihargai jika mengetahui siapa yang sebenarnya mengetik pesan-pesan itu? Jawabannya berbeda pada setiap orang. Ada yang menganggapnya strategi biasa. Ada juga yang merasa dibohongi sejak percakapan pertama.
Bagi yang tertarik memakai jasa semacam ini, ada satu hal praktis yang perlu dicek lebih dulu. Ketentuan layanan tiap aplikasi bisa mengatur siapa yang boleh mengoperasikan sebuah akun. Bagi yang menjalani profesinya, kejelasan soal peran juga penting. Ghostwriter yang jujur tentang batas pekerjaannya akan lebih mudah menjaga reputasi dan menghindari masalah di kemudian hari.
Profesi ini memperlihatkan bahwa waktu dan perhatian kini bisa dibeli, termasuk untuk urusan hati. Namun kedekatan yang dibangun di atas suara orang lain tetap harus diuji dalam pertemuan yang sesungguhnya. Di titik itu tidak ada penulis yang bisa menggantikan klien. Kepercayaan yang lahir dari percakapan tidak jujur akan sulit bertahan lama.