Lifestyle

Lelah Batin dan Patah Hati? Coba 7 Langkah Pemulihan ala Penulis Satoshi Yagisawa Ini

Lelah Batin dan Patah Hati? Coba 7 Langkah Pemulihan ala Penulis Satoshi Yagisawa Ini
Coffee and Conversation with Satoshi Yagisawa di IIBF 2026. (Dok. Pribadi/Ines)

Memulihkan diri setelah patah hati, kegagalan, atau rasa lelah sering dianggap membutuhkan langkah besar, seperti liburan jauh atau perubahan hidup total. Kita kerap terjebak dalam ilusi bahwa satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan melakukan pelarian yang megah atau memaksa diri bersikap positif secepat kilat demi memenuhi tuntutan lingkungan yang serba terburu-buru. Padahal, sering kali yang paling kita butuhkan justru adalah izin untuk mengambil jeda sejenak, menerima kerapuhan, dan membiarkan segalanya berproses dengan ritme yang lebih lambat.

Pesan menyejukkan itulah yang sangat terasa dari sesi Coffee and Conversation with Satoshi Yagisawa di Indonesia International Book Fair beberapa waktu lalu. Dari perbincangan hangat bersama penulis novel Days at the Morisaki Bookshop tersebut, tampak bahwa proses memulai kembali tidak harus selalu bombastis, melainkan bisa dibangun lewat hal-hal kecil dan membumi. Berikut tujuh cara yang dapat dicoba.

1. Terima Bahwa Rasa Sakit Adalah Bagian dari Hidup

Rasa sakit dan kehilangan sering diperlakukan seperti masalah yang harus segera selesai. Yagisawa menyampaikan pandangan yang berbeda dalam sesi tersebut. Menurutnya, keduanya bukan sesuatu yang harus diselesaikan, melainkan dijalani bersama karena merupakan bagian dari kehidupan. Menerima hal ini dapat mengurangi tekanan untuk segera merasa baik-baik saja.

2. Bedakan Antara Sendirian dan Kesepian

Yagisawa menjelaskan bahwa sendirian dan kesepian adalah dua kondisi yang berbeda. Sendirian adalah waktu yang diambil seperti membaca atau merefleksikan diri, dan hal itu penting bagi setiap orang. Kesepian terjadi ketika seseorang membutuhkan pertolongan tetapi tidak ada yang membantu, sehingga ia bisa terjadi bahkan di tengah keramaian. Memahami perbedaan ini membantu kita mengenali kebutuhan yang sebenarnya, apakah ruang untuk diri sendiri atau kehadiran orang lain.

3. Membaca Buku yang Ringan dan Menenangkan

Sejumlah penelitian mengaitkan kebiasaan membaca untuk kesenangan dengan tingkat stres dan kesepian yang lebih rendah. Namun, bukti eksperimennya masih terbatas, sehingga membaca lebih tepat dipandang sebagai pendamping, bukan pengganti penanganan profesional. Novel Days at the Morisaki Bookshop menceritakan Takako, perempuan berusia 25 tahun yang patah hati dan menumpang tinggal di toko buku bekas milik pamannya di Jinbocho, Tokyo. Seorang pembaca yang ditemui seusai acara menyebut bukunya terasa seperti liburan di tengah penat, dengan alur datar yang tetap tidak membosankan.

4. Temukan Ruang yang Tidak Menuntut Apa-apa

Yagisawa menggambarkan kafe dan toko buku dalam karyanya sebagai tempat berada, yaitu ruang tempat para tokoh merasa diterima. Ia berharap kafe dalam novelnya menjadi tempat yang tidak menuntut seseorang menjadi apa pun. Dalam kehidupan nyata, ruang seperti ini bisa berupa kafe, perpustakaan, taman, atau sudut rumah yang nyaman.

5. Cari Pendengar atau Jadilah Pendengar

Sosok pemilik kedai dalam cerita Yagisawa tidak menggurui. Ia hadir dan mendengarkan. Menurut sang penulis, semua orang membutuhkan figur seperti itu. Tidak perlu banyak orang. Satu teman, anggota keluarga, atau konselor yang bersedia mendengarkan sudah cukup membantu.

6. Berjalan-jalan Tanpa Tujuan

Yagisawa mengatakan ide Morisaki datang secara tiba-tiba ketika ia berjalan-jalan, dan ia menekankan pentingnya menjaga momen-momen seperti itu. Berjalan santai tanpa target memberi jeda bagi pikiran, sekaligus membuka kemungkinan bertemu hal-hal baru di luar rutinitas.

7. Kurangi Membandingkan Diri dan Mulai dari Langkah Kecil

Media sosial kerap memunculkan perasaan tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Beristirahat sejenak dari media sosial atau membatasi akun yang memicu perbandingan bisa membantu. Setelah itu, fokus pada langkah kecil yang realistis, misalnya keluar rumah, menyelesaikan satu tugas, atau membalas satu pesan. Setiap langkah kecil termasuk memulai kembali.

Cara-cara di atas sesuai untuk rasa sedih dan lelah yang wajar. Jika perasaan tersebut berlangsung lama, mengganggu tidur, pola makan, atau aktivitas sehari-hari, atau disertai pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi psikolog, konselor, atau orang terdekat.

Kisah Takako dan para tokoh di novel Yagisawa mengingatkan bahwa pemulihan jarang berlangsung cepat dan lurus. Prosesnya sering dimulai dari hal yang sederhana, seperti ruang yang nyaman, pendengar yang baik, dan izin untuk tidak langsung pulih. Memulai kembali tidak harus dilakukan dengan langkah besar. Sering kali, yang dibutuhkan hanya kesediaan untuk mencoba satu hal kecil hari ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda