Lifestyle

Nggak Perlu Mahal, Healing Duduk di Taman Kota Sambil Baca Buku Ternyata Bikin Pikiran Plong

Nggak Perlu Mahal, Healing Duduk di Taman Kota Sambil Baca Buku Ternyata Bikin Pikiran Plong
Me Time di Taman (Dokumentasi Pribadi/ukhrowiiyh)

Beberapa waktu belakangan, saya merasa kehidupan berjalan sangat cepat. Hari-hari berlalu dengan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, mengejar deadline yang seolah tak ada habisnya. Di sela-sela semua itu, saya masih berusaha menyempatkan diri menulis beberapa artikel. Laptop sudah seperti bestie yang selalu menemani saya setiap hari.

Hari demi hari terlewati dengan siklus serupa, tentu terasa melelahkan. Bahkan di titik tertentu, saya kadang merasa sangat bosan dan muak ketika harus terus-menerus menghadap ke layar. Berawal dari perasaan bosan yang kian memuncak itulah akhirnya muncul kesadaran bahwa saya butuh untuk berhenti sebentar saja. Menjauh sejenak dari layar dan semua keributan di kepala, mungkin akan membuat hati dan pikiran saya sedikit lebih ringan.

Berbekal buku, pena, HP untuk memesan ojek online, dan uang tunai secukupnya, saya memutuskan untuk pergi ke taman sore harinya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kali ini tanpa tujuan tertentu seperti sebelum-sebelumnya saat ada agenda diskusi komunitas. Saya hanya ingin menikmati waktu untuk beristirahat sebentar setelah semua rutinitas yang terasa melelahkan.

Sekitar pukul 15.00 saya tiba di Taman Brantas, salah satu taman di Kota Kediri yang saya sukai. Selain karena lokasinya yang nggak begitu jauh dari rumah, keberadaan Sungai Brantas tepat di sisi barat taman membuat suasana di sana semakin sejuk dan syahdu. Tempatnya yang luas dan bersih dengan banyak kursi taman di berbagai sudut pun bikin saya betah berlama-lama. Apalagi kalau di sore hari seperti kali ini, Taman Brantas jadi salah satu spot dengan pemandangan sunset yang indah di tengah kota. Lalu makin dipercantik juga dengan lampu-lampu di Jembatan Brawijaya yang ikonik.

Saya memilih spot paling sepi di dekat area playground dekat sungai. Setelah merasa cukup nyaman, saya memejamkan mata sejenak, merasakan embusan angin sepoi-sepoi menerpa tubuh dan wajah. Lalu menghirup udara segar yang membuat teriknya mentari tak lagi terasa begitu panas. Perlahan, saya mulai membuka buku Sorry, my younger self, I can't make you happy... but I will karya Alvi Syahrin untuk menemani me time.

Lembar demi lembar terbaca. Buku pengembangan diri yang ditulis dengan bahasa yang begitu ringan, puitis, komunikatif, sekaligus penuh makna sukses membuat mata saya berkaca-kaca, meski sudah berulang kali membacanya. Suasana taman yang masih sepi membuat saya semakin terhanyut.

Tanpa terasa, hari semakin sore. Di area playground sudah mulai ramai dengan anak-anak bermain didampingi orang tuanya. Sedikit kurang nyaman, saya pun memutuskan untuk beranjak mencari spot lain yang jauh lebih tenang. Dengan langkah yang tenang, saya berjalan sembari memperhatikan suasana sekitar. Beberapa orang mulai berdatangan dari arah tempat parkir. Ada anak-anak sekolah, pemuda-pemudi yang olahraga sore, dan beberapa orang lain yang mungkin sekadar datang untuk beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sore hari di taman.

Spot kedua kali ini, saya memilih bangku di sisi selatan dekat dengan jembatan lama yang merupakan salah satu bangunan ikonik dan bersejarah di Kota Kediri. Deru kendaraan yang lalu-lalang terdengar cukup keras di sana. Meskipun demikian, saya memilih untuk tetap berusaha fokus pada buku yang saya baca.

Menjelang matahari terbenam, saya menutup buku. Masih di tempat yang sama, saya hanya berdiam diri menyaksikan anak-anak bermain skateboard di BMX Arena. Melihat tawa mereka yang begitu lepas dan ceria turut membuat hati saya lebih ringan, tanpa sadar saya tersenyum teringat jika dulu saya pernah melewati fase yang sama, bermain bersama teman-teman tanpa memikirkan banyak hal.

Langit mulai berwarna jingga kemerahan sebagai pertanda malam akan segera datang. Rupanya, semakin menjelang malam, taman pun semakin ramai dengan pengunjung yang terus berdatangan. Sebelum beranjak pulang, saya tak lupa mengabadikan keindahan senja dalam sebuah foto agar bisa dikenang kapan saja.

Tiga jam sore itu menjadi jeda singkat yang sangat berkesan. Tanpa liburan mewah maupun makanan mahal. Menikmati suasana taman, merasakan embusan angin dan udara segar, membaca buku, hingga melihat keceriaan anak-anak bermain ternyata lebih dari cukup untuk membuat hati dan pikiran saya lebih lega. Sekitar pukul 18.00, saya pulang dengan perasaan yang jauh lebih tenang.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda