Lifestyle

Scrolling saat Istirahat, Bisakah Menjadi Bentuk Jeda yang Kita Butuhkan?

Scrolling saat Istirahat, Bisakah Menjadi Bentuk Jeda yang Kita Butuhkan?
Ilustrasi Aktivitas Scrolling (Magnific.com/tirachardz)

Setelah seharian beraktivitas dan menyelesaikan berbagai pekerjaan, rasa lelah tentu tak bisa dihindari. Begitu ada waktu untuk beristirahat, sebagian orang memilih rebahan di kamar sambil membuka media sosial dan menggulir layar ponsel. Beragam video pendek pun bermunculan di beranda. Niatnya hanya ingin mengambil jeda sebentar setelah sibuk seharian, tetapi tahu-tahu waktu sudah berlalu berjam-jam hanya untuk scrolling.

Sebagian orang memilih melakukan scrolling di sela waktu istirahatnya karena merasa itu adalah kegiatan yang praktis, mudah dilakukan, dan bisa memberikan hiburan instan tanpa perlu banyak bergerak. Secara fisik, kita memang tidak terlihat seperti sedang melakukan sesuatu yang berat dan melelahkan.

Meskipun begitu, scrolling sambil rebahan atau duduk di depan layar ternyata tidak selalu membuat kita merasa lebih segar. Tanpa disadari, selama scrolling kita terus menerima beragam informasi dari video yang ditonton. Mulai dari berita, opini, iklan, kehidupan orang lain, hingga konten hiburan. Banyaknya informasi yang datang silih berganti ini bisa membuat kita merasa kewalahan, terutama ketika scrolling dilakukan dalam waktu lama.

Dampak yang mungkin terjadi setelah lama scrolling media sosial, alih-alih merasa lebih segar, yang kita rasakan justru kepala yang semakin penuh, mata lelah, waktu berlalu begitu saja, bahkan tidak jarang muncul pula perasaan tidak produktif atau membandingkan diri dengan orang lain.

Padahal jika diingat lagi, kita melakukan hal itu saat tubuh sedang capek-capeknya. Di titik inilah mungkin saatnya kita perlu bertanya pada diri sendiri: jika scrolling yang awalnya kita niatkan sebagai bentuk istirahat justru membuat tubuh makin lelah, apakah itu bisa disebut jeda?

Selama ini, beberapa di antara kita mungkin menganggap jeda adalah waktu di saat kita berhenti melakukan pekerjaan. Padahal tidak sesederhana itu. Selain berhenti sejenak dari rutinitas yang melelahkan, jeda juga berarti memberi kesempatan pada pikiran untuk tidak terus-menerus menerima dan memproses sesuatu.

Sementara saat scrolling, kita justru malah membuat pikiran kita bekerja keras dengan beragam informasi yang kita peroleh dari konten-konten di media sosial. Rasanya kita malah seperti memberikan jeda palsu pada tubuh kita sendiri, sebab di saat yang sama ada otak yang masih terus bekerja tanpa jeda.

Sebenarnya, tidak masalah jika kita sesekali mengisi waktu istirahat dengan scrolling media sosial. Namun, kita juga perlu memperhatikan durasi dan bagaimana perasaan kita setelah melakukannya. Jika terlalu lama menatap layar dan terus berpindah dari satu konten ke konten lain, kita bisa merasa semakin penat alih-alih lebih segar. Terlebih jika konten yang dikonsumsi memicu kecemasan atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Lantas jika bukan dengan scrolling, apa yang bisa kita lakukan saat istirahat?

Di era digital seperti sekarang, mungkin sulit bagi kita untuk berhenti scrolling sepenuhnya. Namun, kita bisa mulai dengan membatasi waktunya. Nggak harus langsung pasang target detoks media sosial selama 7 hari, kita bisa mengawalinya dengan hal paling sederhana.

Misalnya: jeda 10-15 menit tanpa membuka media sosial. Hanya duduk di teras, menikmati secangkir kopi, mengamati suasana sekitar rumah, mendengarkan lagu favorit, memejamkan mata dan merasakan angin yang perlahan menerpa tubuh kita, mengambil waktu untuk tidur sebentar, atau sekadar diam sambil membiarkan pikiran terasa tenang.

Sesekali membuka media sosial tentu bukanlah sesuatu yang salah. Namun, mungkin hal itu tidak selalu menjadi bentuk jeda yang benar-benar kita butuhkan. Sebab makna jeda sebenarnya bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi juga memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk memulihkan energi.

Kita tidak harus selalu mengisi waktu luang dengan sesuatu, apalagi jika hal itu justru membuat pikiran semakin penat. Barangkali, dengan memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk benar-benar beristirahat, kita bisa kembali menjalani aktivitas dengan perasaan yang lebih segar.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda