Lifestyle

Tren Bahasa Gen Z: Campur Aduk, Makin Asyik, atau Malah Bikin Pusing?

Tren Bahasa Gen Z: Campur Aduk, Makin Asyik, atau Malah Bikin Pusing?
Ilustrasi Gen Z (Pexels/MART PRODUCTION)

Kamu pasti pernah mendengar atau membaca orang berkata, "Aku literally capek banget hari ini, like, pengin rebahan aja atuh."

Kalimat seperti ini mungkin terdengar berantakan bagi sebagian orang, tetapi justru terasa akrab di telinga anak muda. Bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa Inggris, diselipi bahasa daerah, lalu digunakan begitu saja dalam percakapan sehari-hari.

Fenomena ini menjadi salah satu ciri komunikasi Generasi Z yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan digital. Bagi Gen Z, mencampur bahasa bukan sekadar persoalan kosakata. Ada unsur kebiasaan, identitas, humor, hingga keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulan.

Namun, muncul pertanyaan menarik seperti, kapan kebiasaan ini terasa natural dan keren, kapan justru terdengar dipaksakan, dan bagaimana bahasa daerah tetap mendapat tempat di tengah dominasi bahasa Indonesia dan Inggris?

Ketika Campur Bahasa Menjadi Gaya Komunikasi

Fenomena mencampur dua bahasa atau lebih dikenal dengan istilah code-switching dan code-mixing. Dalam praktiknya, seseorang bisa berpindah bahasa antarkalimat atau menyisipkan kata dari bahasa lain dalam satu kalimat.

Kebiasaan ini semakin mudah ditemukan di media sosial, mulai dari TikTok, Instagram, hingga percakapan melalui WhatsApp. Kata seperti literally, random, overthinking, healing, dan relatable sering digunakan meskipun tersedia padanan dalam bahasa Indonesia.

Bukan berarti Gen Z tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Pemilihan kata tersebut muncul karena terasa lebih singkat, ekspresif, atau sesuai dengan konteks percakapan. Ada pula istilah yang maknanya terasa berbeda ketika diterjemahkan secara langsung.

Selain itu, paparan terhadap konten berbahasa Inggris membuat sebagian anak muda terbiasa berpikir dan berkomunikasi menggunakan kosakata dari kedua bahasa. Akibatnya, mencampur bahasa menjadi kebiasaan spontan, bukan selalu upaya untuk terlihat keren.

Keren karena Natural, Canggung karena Dipaksakan

Meski sudah menjadi bagian dari gaya komunikasi anak muda, penggunaan bahasa campuran tetap memiliki batas yang berkaitan dengan konteks dan kenyamanan lawan bicara.

Dalam percakapan santai bersama teman, kalimat seperti “Aku lagi overwhelmed banget sama kerjaan” mungkin terasa wajar karena kedua pihak memahami maksudnya. Campuran bahasa tersebut bahkan bisa membantu seseorang menyampaikan perasaan dengan lebih tepat.

Sebaliknya, penggunaan bahasa Inggris secara berlebihan dalam situasi yang tidak membutuhkannya dapat menimbulkan kesan dibuat-buat. Misalnya, ketika seseorang sengaja mengganti hampir setiap kata sederhana dengan istilah Inggris hanya agar terdengar lebih pintar atau mengikuti tren.

Masalahnya bukan terletak pada penggunaan bahasa Inggris itu sendiri, melainkan pada ketidaksesuaian antara pilihan bahasa, situasi, dan tujuan komunikasi. Jika lawan bicara kesulitan memahami maksudnya, bahasa yang seharusnya menjadi alat komunikasi justru menciptakan jarak.

Pada akhirnya, kemampuan berbahasa bukan hanya tentang seberapa banyak kosakata asing yang dikuasai, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan jelas. 

Bahasa Daerah Tidak Hilang, Justru Punya Ruang Baru

Di tengah maraknya bahasa Indonesia dan Inggris, bahasa daerah ternyata masih memiliki tempat tersendiri dalam komunikasi Gen Z. Kata seperti atuh, mah, dan teh dalam bahasa Sunda, misalnya, sering muncul dalam percakapan anak muda di Bandung.

Menariknya, bahasa daerah kerap digunakan untuk membangun kedekatan emosional, menyampaikan candaan, atau menegaskan identitas lokal. Kalimat “I'm tired banget, euy” mungkin terdengar sederhana, tetapi menunjukkan bagaimana bahasa global dan lokal dapat hidup berdampingan dalam satu ungkapan.

Media sosial juga membuka ruang bagi bahasa daerah untuk berkembang. Konten komedi, cerita keseharian, dan video dengan dialek lokal membuatnya lebih mudah ditemukan oleh pengguna dari berbagai wilayah. Bahasa yang sebelumnya identik dengan percakapan lingkungan sekitar kini dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Namun, keberadaan bahasa daerah dalam percakapan campuran tidak otomatis menjamin kelestariannya. Jika penggunaannya hanya terbatas pada partikel populer tanpa memahami makna dan konteksnya, sebagian kekayaan kosakata daerah tetap berisiko semakin jarang digunakan.

Bukan Soal Bahasa Mana yang Paling Keren

Bahasa terus berkembang mengikuti perubahan zaman, begitu pula cara Gen Z menggunakannya. Mencampur bahasa Indonesia, Inggris, dan daerah bukan sesuatu yang harus langsung dianggap sebagai kemerosotan kemampuan berbahasa.

Yang lebih penting adalah memahami kapan gaya komunikasi tersebut sesuai digunakan dan kapan kita perlu menyesuaikan diri. Dalam obrolan santai, bahasa campuran bisa menjadi cara berekspresi yang menyenangkan. Dalam situasi formal, bahasa yang lebih terstruktur membantu pesan tersampaikan secara profesional.

Kita tidak perlu memilih antara menjadi modern atau mempertahankan identitas lokal. Gen Z bisa menikmati tren global sekaligus bangga menggunakan bahasa daerahnya. Karena bahasa yang keren bukan hanya bahasa yang sedang populer, melainkan bahasa yang mampu menyampaikan pikiran, membangun kedekatan, dan tetap menghargai orang yang diajak bicara.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda