Realita Pahit Dunia Kripto: Mengapa Jutaan Token Akhirnya Mati dan Lenyap?

M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Realita Pahit Dunia Kripto: Mengapa Jutaan Token Akhirnya Mati dan Lenyap?
Ilustrasi Cryptocurrency (Unsplash/@traxer)

Tidak bisa dimungkiri, sudah banyak orang yang menjadi kaya raya karena kripto. Bahkan, bukan hanya kripto. Mereka yang terjun ke judi daring (online), skema Ponzi, hingga investasi abu-abu lain pun ada yang mendadak bergelimang harta.

Fakta ini sering dijadikan pembenaran, “Buktinya ada yang berhasil.” Namun, sebelum ikut-ikutan masuk, ada beberapa hal penting yang perlu dicatat dengan kepala dingin, bukan dengan euforia.

Pertama, jumlah token kripto hari ini sudah nyaris tidak masuk akal. Tercatat ada sekitar 120 juta token kripto yang pernah dibuat. Siapa pun bisa menciptakannya tanpa izin dan tanpa batasan berarti. Jika dahulu banyak orang memprotes bank sentral yang mencetak uang, dunia kripto justru jauh lebih ekstrem. Setiap orang bisa mencetak "uangnya" sendiri. Ke depan, bukan mustahil satu orang memiliki satu token atas namanya sendiri. Kelangkaan, yang seharusnya menjadi nilai utama, justru hilang.

Kedua, sebagian besar token itu mati. Dari puluhan juta token yang pernah ada, hanya sekitar 10.000 token yang masih aktif diperdagangkan. Pasar pun sangat timpang. Bitcoin menguasai sekitar 59 persen kapitalisasi pasar, disusul 10–20 token besar lain yang menguasai sekitar 20 persen. Sisanya? Ratusan hingga ribuan token kecil saling berebut remah-remah likuiditas. Bitcoin memang terus meroket sejak awal kemunculannya, tetapi ia adalah pengecualian, bukan aturan.

Ketiga, dan ini yang paling krusial: semua token yang naik tajam sangat bergantung pada uang baru. Tanpa investor baru, harga tidak bergerak. Agar nilainya terus naik, kripto membutuhkan aliran dana segar: orang-orang baru yang datang dengan mimpi menjadi kaya raya. Ketika aliran ini melambat, harga pun stagnan atau jatuh. Inilah alasan mengapa promosi, ajakan, dan euforia komunitas begitu masif.

Keempat, meski sering diklaim open source, transparan, dan tanpa bandar, secara mekanisme ekonomi kripto sangat mirip dengan skema Ponzi atau piramida raksasa. Pemain lama diuntungkan oleh masuknya pemain baru. Nilai naik karena permintaan baru, bukan karena nilai intrinsik yang bertambah. Itulah sebabnya ajakan “ayo masuk”, “jangan ketinggalan”, dan “to the moon” menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya kripto.

Kelima, klaim bahwa kripto adalah alat transaksi masa depan perlu disikapi secara realistis. Faktanya, hanya sekitar 0,01 persen dari total nilai kripto yang benar-benar digunakan untuk transaksi sehari-hari. Mayoritas kripto hari ini hanyalah instrumen spekulasi, bukan alat tukar. Ia lebih tepat disebut permainan investasi berisiko tinggi (high risk, high return). Dan seperti semua permainan berisiko tinggi, peluang jatuhnya juga besar.

Keenam, menyamakan kripto dengan emas adalah perbandingan yang keliru. Emas memiliki nilai guna nyata di berbagai sektor seperti perhiasan, industri, hingga cadangan moneter. Ia memiliki fungsi di dunia fisik. Sementara itu, kripto pada dasarnya adalah algoritma dan kode digital. Nilainya sepenuhnya bergantung pada kepercayaan dan persepsi pasar. Ketika kepercayaan itu hilang, nilainya bisa lenyap dalam sekejap.

Pada akhirnya, kripto adalah cermin telanjang hakikat kehidupan: segala sesuatu bisa hilang dengan cepat. Dalam hitungan hari, bahkan jam, nilai aset bisa runtuh. Dalam situasi seperti itu, harta yang dulunya paling besar pun tidak bisa dibawa ke mana-mana. Game over.

Karena itu, sebelum ikut-ikutan masuk, pikirkanlah seratus kali. Penting untuk memiliki kesadaran dan kewarasan sebelum dan sesudah terjun. Jangan mempertaruhkan hidup pada mimpi instan. Jauh lebih masuk akal untuk tetap produktif, berkarya, dan memberi manfaat bagi orang lain. Soal kaya atau tidak, biarlah itu menjadi bonus, bukan tujuan yang membutakan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak