Media sosial kembali diramaikan oleh perbincangan unik sekaligus sensitif: benarkah orang yang lahir antara tahun 1985–1995 atau generasi milenial justru terlihat lebih muda dibanding Gen Z? Diskusi ini viral di berbagai platform media sosial dan banyak dibagikan ulang.
Banyak warganet kemudian mulai menyimpulkan satu hal: milenial seperti “menolak tua”. Fenomena ini memunculkan reaksi beragam. Sebagian milenial mengaku tersanjung, sementara Gen Z merasa penilaian tersebut terlalu menyederhanakan realitas. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?
Awal Mula Perdebatan di Media Sosial
Perbincangan ini dipicu oleh perbandingan visual antara milenial dan Gen Z. Nama aktris Nicola Coughlan kerap disebut sebagai contoh milenial yang terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya, meski sudah memasuki "kepala tiga".
Di sisi lain, banyak Gen Z justru dinilai tampak lebih dewasa dari usia mereka, baik dari raut wajah, gaya berpakaian, maupun pembawaan. Dari sinilah muncul pertanyaan apakah ini sekadar ilusi media sosial atau memang ada faktor lain yang membuat perbedaan antargenerasi terlihat jelas?
Faktor Perawatan Kulit: Milenial dan Sunscreen
Sejumlah pakar dermatologi menilai perlindungan kulit sebagai faktor utama. Milenial disebut sebagai generasi pertama yang cukup disiplin menggunakan tabir surya sejak usia muda. Kampanye mengenai bahaya sinar UV mulai masif saat mereka remaja sehingga penggunaan sunscreen menjadi kebiasaan jangka panjang.
Paparan sinar matahari tanpa perlindungan adalah salah satu penyebab utama penuaan dini, mulai dari keriput, flek hitam, hingga penurunan elastisitas kulit. Dalam konteks ini, kebiasaan kecil namun konsisten memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Sebaliknya, meski Gen Z sangat melek skincare, sebagian dari mereka masih mengabaikan sunscreen atau baru menggunakannya secara serius di usia yang lebih dewasa.
Vaping dan Prosedur Kosmetik Dini
Isu lain yang ikut disorot adalah meningkatnya tren vaping dan prosedur kosmetik dini di kalangan Gen Z. Nikotin sendiri diketahui dapat merusak kolagen dan elastin kulit sehingga mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan.
Meski sering dianggap “lebih aman” daripada rokok, vaping tetap membawa risiko pada kesehatan kulit. Selain itu, tren prosedur kosmetik seperti membuat wajah tampak lebih tirus memiliki dampak jangka panjang pada kesan wajah yang terlihat lebih cekung dan tua dari usia sebenarnya. Para ahli menekankan bahwa intervensi estetika yang terlalu dini ini bisa mengubah struktur wajah secara permanen, terutama jika tidak didasarkan pada kebutuhan medis.
Tekanan Mental dan Beban Psikologis Gen Z
Tak hanya soal fisik, faktor psikologis juga berperan besar. Gen Z tumbuh di era krisis berlapis, mulai dari pandemi, ketidakpastian ekonomi, hingga tekanan media sosial yang intens. Paparan gawai berlebihan dan budaya “always online” membuat stres kronis menjadi masalah serius.
Stres yang tidak terkelola berdampak langsung pada tubuh, termasuk kulit. Kortisol yang tinggi dapat memicu inflamasi, jerawat, gangguan tidur, dan mempercepat penuaan. Tidak heran jika sebagian Gen Z terlihat lebih “lelah” secara visual. Sementara itu, meski milenial juga menghadapi tekanan hidup, mereka mengalami masa remaja tanpa tekanan media sosial seintens sekarang sehingga proses perkembangan mentalnya jauh berbeda.
Apakah Ini Kompetisi Antargenerasi?
Perdebatan ini seharusnya tidak dilihat sebagai kompetisi mengenai siapa yang lebih awet muda. Penuaan adalah proses alami yang dipengaruhi banyak faktor, seperti genetik, lingkungan, kesehatan mental, dan gaya hidup. Label “milenial awet muda” atau “Gen Z cepat tua” berisiko menyederhanakan realitas dan menambah tekanan sosial, terutama bagi anak muda yang sudah terbeban oleh standar visual di media sosial.
Alih-alih saling membandingkan, diskusi ini justru membuka ruang refleksi soal disiplin menjaga kesehatan kulit, mengelola stres, membatasi paparan nikotin, dan menjaga keseimbangan hidup, terlepas dari generasi mana pun.
Hentikan Adu Visual Milenial dan Gen Z
Fenomena milenial yang terlihat lebih muda daripada Gen Z bukan mitos semata, tetapi juga bukan kebenaran mutlak. Ini adalah hasil kombinasi gaya hidup, kebiasaan perawatan, tekanan psikologis, dan konteks zaman yang berbeda.
Daripada sibuk membandingkan generasi, mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah kita sudah cukup peduli pada kesehatan diri sendiri hari ini? Karena pada akhirnya, usia biologis bukan hanya soal tahun lahir, melainkan juga cara kita hidup. Jadi, alih-alih terseret arus media sosial, ada baiknya untuk berhenti mengadu visual milenial dan Gen Z.