News
Pakai Baju Adat Jawa ke Sekolah, Siswa SMAN 4 Yogyakarta Bangga Kenakan Gagrak
Suasana berbeda terlihat di lingkungan SMAN 4 Yogyakarta saat sejumlah siswa datang ke sekolah mengenakan baju adat Jawa lengkap dengan jarik. Tradisi ini menjadi pengalaman menarik bagi para siswa karena mereka dapat merasakan langsung memakai busana khas Yogyakarta yang dikenal sebagai gagrak.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (13/3/2026), ketika para siswa mengikuti aktivitas belajar seperti biasa dengan mengenakan pakaian adat Jawa khas Yogyakarta. Pemandangan siswa berjalan di lingkungan sekolah dengan balutan jarik dan busana tradisional pun menjadi hal yang menarik perhatian.
Salah satu siswi kelas X, Rizkya Putri Adilla, mengaku senang bisa datang ke sekolah dengan pakaian adat tersebut. Menurutnya, kesempatan seperti ini tidak dimiliki oleh semua daerah di Indonesia.
“Pastinya senang banget ya, karena tidak semua daerah memiliki satu hari khusus untuk menggunakan baju adat seperti di Jogja,” ujar Rizkya Putri Adilla.
Ia menambahkan bahwa bagian yang paling ia sukai dari busana yang dikenakan adalah jarik. Menurutnya, penggunaan jarik membuat penampilan siswa terlihat berbeda dibandingkan saat mengenakan seragam sekolah.
“Kalau dari saya sendiri, yang paling saya suka itu bagian jariknya. Karena baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memakai jarik, jadi terlihat lebih anggun dan kalem,” lanjutnya.
Bagi Rizkya, tradisi mengenakan pakaian gagrak juga membuat para siswa merasa lebih dekat dengan budaya Jawa. Ia menilai kesempatan memakai baju adat di sekolah menjadi cara sederhana untuk mengenal budaya sejak usia muda.
“Sebagai orang Jogja dan memiliki satu hari khusus untuk menggunakan baju gagrak, pastinya merasa sangat senang dan merasa lebih dekat dengan budaya Jawa,” katanya.
Ia juga berpendapat tradisi seperti ini perlu terus dilestarikan oleh generasi muda. Menurutnya, kebiasaan mengenakan pakaian adat di sekolah bisa menjadi langkah awal bagi pelajar untuk menjaga budaya daerah.
“Menurut saya iya, terutama di Jogja ini kan sudah diberikan satu hari khusus. Itu bisa menjadi awalan yang baik bagi generasi muda, khususnya Gen Z, untuk melestarikan budaya ini,” ujarnya.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, penggunaan pakaian adat gagrak biasanya dilakukan pada hari Kamis Pon dalam kalender Jawa. Tradisi ini menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mengingat sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang jatuh pada hari Kamis Pon.
Melalui kebijakan tersebut, aparatur sipil negara hingga pelajar dianjurkan mengenakan pakaian tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas budaya Yogyakarta.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 4 Yogyakarta, Efvinggo Fasya Jaya SP, S.Pd, menjelaskan bahwa kebijakan penggunaan baju gagrak di sekolah telah berlangsung cukup lama.
“Kebijakan ini sudah berlaku sejak tahun 2014 ketika peraturannya mulai diterapkan, dan sempat mengalami revisi pada tahun 2015.”
Menurutnya, pada awal penerapan aturan tersebut, sebagian siswa sempat merasa kaget karena belum terbiasa menggunakan pakaian tradisional ke sekolah. Namun setelah dilakukan sosialisasi dan diberikan pemahaman, para siswa mulai menerima kebijakan tersebut dengan antusias.
“Tentu respons siswa pertama-tama sedikit kaget karena belum pernah ada aturan seperti itu. Tetapi setelah dilakukan sosialisasi dan pengertian terhadap siswa, ternyata siswa juga antusias untuk mengikuti penggunaan gagrak ini,” jelasnya.
Ia menilai tradisi tersebut memiliki makna penting di tengah perkembangan teknologi dan modernitas yang semakin pesat. Menurutnya, siswa tetap perlu dikenalkan pada nilai-nilai budaya yang menjadi identitas daerah.
“Di tengah hiruk pikuk perkembangan teknologi sekarang, kita tetap diminta untuk melestarikan budaya Jawa, utamanya budaya Yogyakarta,” tuturnya.
Efvinggo menambahkan bahwa penggunaan pakaian gagrak tidak hanya sekadar mengenakan busana tradisional, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran budaya bagi siswa.
“Harapannya siswa juga bisa memaknai pakaian gagrak yang mereka kenakan, termasuk memahami unggah-ungguh dan nilai budaya khas Yogyakarta.”
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, nilai budaya dapat berjalan berdampingan dengan kemajuan teknologi yang dihadapi generasi muda saat ini.