Bahaya Laten Tradisi Perang Sarung di Kalangan Remaja

M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Bahaya Laten Tradisi Perang Sarung di Kalangan Remaja
10 remaja di Cianjur, Jawa Barat, diamankan saat hendak melakukan perang sarung di Jalan Lingkar Timur. Dari tangan mereka diamankan sejumlah sarung dimodifikasi dan sebilah golok, Minggu (24/3/2024). Antara/Ahmad Fikri.

Ramadan di Indonesia selalu lekat dengan tradisi yang hangat dan penuh makna. Namun, di balik nuansa religius itu, muncul fenomena yang terus berulang dan kian mengkhawatirkan: perang sarung. Aktivitas yang awalnya dianggap permainan ringan ini kini kerap berubah menjadi pemicu kekerasan, bahkan tawuran antarkelompok remaja. Pertanyaan yang patut diajukan bukan sekadar mengapa perang sarung terjadi, melainkan bagaimana tradisi ini bertransformasi menjadi praktik yang berbahaya dan sulit dikendalikan.

Fenomena ini bukan lagi sekadar kenakalan musiman. Ia telah berkembang menjadi gejala sosial yang kompleks, melibatkan faktor identitas kelompok, dinamika psikologis remaja, hingga lemahnya pengawasan sosial. Dalam banyak kasus, perang sarung tidak lagi menggunakan sarung sebagai alat simbolis, melainkan telah dimodifikasi dengan benda keras yang berpotensi melukai.

Tradisi yang Berubah Arah

Perang sarung pada mulanya dikenal sebagai permainan khas Ramadan. Sarung digulung dan digunakan untuk saling memukul secara ringan, sering kali diiringi tawa dan tanpa niat mencederai. Namun, seiring berjalannya waktu, makna permainan ini mengalami pergeseran.

Di berbagai daerah, sarung tidak lagi sekadar kain, melainkan diisi dengan batu, gir, bahkan benda logam. Transformasi ini menandai perubahan dari permainan menjadi kekerasan terselubung. Apa yang semula bersifat rekreatif, kini berubah menjadi ajang adu kekuatan dan keberanian.

Perubahan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Hal ini dipengaruhi oleh budaya kompetisi yang semakin intens di kalangan remaja. Ada dorongan untuk menunjukkan dominasi, baik secara individu maupun kelompok. Dalam konteks ini, perang sarung menjadi medium untuk membangun reputasi.

Lebih jauh lagi, media sosial turut memperkuat fenomena ini. Aksi perang sarung yang direkam dan disebarluaskan menciptakan efek viral yang memicu imitasi. Remaja tidak hanya bermain, tetapi juga "memproduksi tontonan". Validasi digital menjadi bahan bakar baru yang memperparah eskalasi kekerasan.

Psikologi Remaja dan Dinamika Kelompok

Untuk memahami alasan perang sarung dapat berkembang menjadi tawuran, penting untuk melihatnya dari perspektif psikologis. Masa remaja adalah fase pencarian jati diri, tempat kebutuhan akan pengakuan sangat tinggi. Dalam situasi ini, kelompok sebaya memiliki pengaruh yang dominan.

Ketika seorang remaja menjadi bagian dari kelompok yang terlibat perang sarung, ada tekanan untuk berpartisipasi. Menolak bisa dianggap sebagai bentuk kelemahan. Sebaliknya, ikut serta dapat meningkatkan status sosial dalam kelompok. Dinamika ini diperkuat oleh apa yang dikenal sebagai mentalitas kolektif. Individu cenderung kehilangan kontrol personal ketika berada dalam kerumunan. Tindakan yang mungkin tidak dilakukan secara individu menjadi mungkin terjadi ketika dilakukan bersama.

Perang sarung pun menjadi pintu masuk menuju konflik yang lebih besar. Benturan kecil dapat berkembang menjadi permusuhan antarkelompok, terutama jika disertai ejekan atau provokasi. Dalam banyak kasus, konflik ini tidak berhenti di satu malam, melainkan berlanjut menjadi tawuran yang terorganisasi. Faktor lain yang turut berperan adalah minimnya literasi emosional. Banyak remaja belum memiliki kemampuan mengelola emosi secara matang. Akibatnya, konflik kecil mudah membesar karena tidak ada mekanisme penyelesaian yang sehat.

Dari Pembiaran ke Pencegahan Kolektif

Salah satu alasan fenomena ini terus berulang adalah adanya pembiaran yang bersifat kultural. Perang sarung sering dianggap sebagai bagian dari "tradisi anak muda" yang akan hilang dengan sendirinya. Pandangan ini justru berbahaya karena mengabaikan potensi eskalasi. Pendekatan yang selama ini dilakukan cenderung reaktif. Aparat bergerak setelah terjadi keributan, bukan mencegah sejak awal. Padahal, pencegahan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas.

Keluarga memiliki peran penting sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter. Pengawasan dan komunikasi yang baik dapat mencegah remaja terlibat dalam aktivitas berisiko. Orang tua perlu memahami bahwa perubahan perilaku anak, sekecil apa pun, bisa menjadi indikator yang perlu diperhatikan.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam memberikan edukasi, tidak hanya akademik, melainkan juga sosial dan emosional. Program yang mendorong empati, resolusi konflik, dan pengendalian diri dapat menjadi bekal penting bagi remaja. Di tingkat komunitas, perlu ada inisiatif untuk menyediakan alternatif kegiatan yang positif selama Ramadan. Kegiatan olahraga, seni, atau keagamaan dapat menjadi saluran energi yang lebih konstruktif. Ruang-ruang ini penting untuk mengalihkan perhatian dari aktivitas yang berpotensi merusak.

Penegakan hukum tetap diperlukan, terutama untuk kasus yang melibatkan kekerasan. Namun, pendekatan ini harus diimbangi dengan strategi preventif yang berkelanjutan. Tanpa itu, perang sarung hanya akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda.

Pada akhirnya, fenomena ini mengingatkan kita bahwa tradisi tidak selalu statis. Tradisi bisa berubah, bahkan menyimpang, jika tidak dijaga dengan nilai yang tepat. Perang sarung yang semula permainan kini telah menjadi cermin dari persoalan sosial yang lebih dalam.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak