Pernahkah tanpa sadar membuka Instagram Story milik sendiri, bukan sekali, melainkan berkali-kali? Bukan untuk mengecek jumlah penonton, bukan juga karena lupa. Jari seolah refleks menekan layar, memutar ulang potongan 15 detik yang baru saja kita unggah.
Sekilas tampak sepele, tetapi kebiasaan kecil ini ternyata menyimpan cerita yang lebih dalam tentang cara manusia modern memaknai diri, mencari pengakuan, dan menenangkan kecemasan di ruang digital.
Banyak anak muda melakukan hal serupa. Menonton ulang story sendiri bukan semata soal narsisme, melainkan proses diam-diam mengevaluasi diri. Kita memperhatikan ekspresi wajah, nada suara, pilihan kata, hingga momen yang dibagikan. Seolah-olah sedang melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain.
Dalam kajian komunikasi, media sosial, termasuk Instagram Story, sering dipahami sebagai ruang self-disclosure, yaitu tempat seseorang membuka diri secara selektif. Story digunakan bukan hanya untuk membagikan aktivitas, melainkan juga untuk menyampaikan perasaan, identitas, bahkan pesan tidak langsung kepada lingkungan sosial. Menontonnya ulang menjadi momen refleksi: apakah aku sudah menampilkan diriku dengan tepat?
Berbeda dengan unggahan permanen, story bersifat sementara karena akan hilang dalam 24 jam. Kesan sementara inilah yang membuat banyak orang merasa lebih aman berekspresi. Namun, justru karena sifatnya itu, muncul keinginan memastikan bahwa ekspresi singkat tersebut tidak keliru; bahwa ia cukup pantas, cukup relevan, dan diam-diam cukup diterima.
Di sisi lain, kebiasaan ini juga berkaitan dengan kecemasan sosial. Banyak orang merasa perlu mengontrol citra diri di media sosial agar tidak memicu penilaian negatif. Menonton ulang story bisa menjadi cara menenangkan diri: memastikan tidak ada kata, ekspresi, atau momen yang terasa berlebihan atau berpotensi disalahpahami.
Tidak sedikit pula yang melakukannya karena fear of missing out (FOMO). Biasanya FOMO dikaitkan dengan ketakutan tertinggal dari kehidupan orang lain. Namun, dalam konteks ini, FOMO juga bisa berarti takut "kehilangan momen diri sendiri". Apakah momen yang dibagikan itu cukup bermakna? Apakah ia akan diingat, meski hanya sehari?
Dari sudut pandang sosiologis, Instagram berfungsi sebagai ruang representasi diri. Kita membangun versi diri yang ingin dilihat publik, yaitu lebih rapi, lebih menarik, dan lebih terkendali. Story menjadi panggung kecil untuk menguji: apakah versi diriku ini layak ditampilkan?
Menariknya, media sosial juga menciptakan tarik-menarik antara identitas nyata dan identitas virtual. Ada diri yang kita jalani sehari-hari dan ada diri yang kita tampilkan di layar. Saat menonton ulang story sendiri, dua identitas ini seperti saling bercermin. Kita menilai, menimbang, bahkan terkadang meragukan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebiasaan menonton story sendiri bukan perilaku kosong. Hal ini adalah refleksi zaman, ketika perhatian, penerimaan, dan eksistensi sering kali diukur melalui layar ponsel.
Namun, para ahli sepakat bahwa perilaku ini masih tergolong wajar selama tidak menimbulkan kecemasan berlebih atau ketergantungan emosional. Masalah baru muncul ketika rasa percaya diri sepenuhnya bergantung pada respons digital, seperti jumlah penonton, reaksi, atau pesan masuk.
Di era media sosial, mungkin pertanyaan pentingnya bukan lagi "mengapa kita menonton story sendiri?", melainkan "apa yang sedang kita cari saat melakukannya?"
Instagram Story mungkin hanya berdurasi 15 detik. Namun, bagi banyak orang, ia menjadi ruang refleksi singkat—tentang siapa kita, bagaimana kita ingin dilihat, dan sejauh mana kita berdamai dengan diri sendiri.