News

Mau Mudik Tapi Takut Boros? Simak Tutorial Mudik Seru Tanpa Bikin Dompet Boncos

Mau Mudik Tapi Takut Boros? Simak Tutorial Mudik Seru Tanpa Bikin Dompet Boncos
Ilustrasi lalu lalang di bandara (Pixabay/ClickerHappy)

Tradisi mudik dan liburan saat hari Lebaran selalu menjadi momen yang paling dinantikan, terutama bagi masyarakat Indonesia. Momen ini adalah momen berharga untuk berkumpul bersama keluarga, khususnya bagi para pekerja kota yang sering kali waktunya tersita di depan laptop 24/7.

Tahun ini, terdapat perbedaan pola pergerakan masyarakat dalam hal akomodasi. Berdasarkan data terbaru dari AirAsia MOVE (MOVE), masyarakat kini cenderung bertransformasi menjadi smart traveler, yakni tetap memprioritaskan kenyamanan, tapi dengan perencanaan keuangan yang jauh lebih terukur dan rasional.

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memperkirakan mobilisasi tahun ini sangat masif mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60% dari total populasi. Di tengah kepadatan ini, terdapat tiga tren menarik yang menunjukkan bagaimana cara pemudik merencanakan perjalanan untuk menyiasati fluktuasi harga di musim liburan.

1. Tren Mix Maskapai

Salah satu strategi yang dilakukan pemudik tahun ini adalah kebebasan dalam memilih maskapai. Banyak pengguna kini berani mengombinasikan maskapai yang berbeda untuk keberangkatan dan kepulangan.

Data dari platform MOVE menunjukkan bahwa hampir 300.000 kursi penerbangan terjual dalam bentuk tiket satu arah (one-way), baik untuk maskapai berbiaya rendah maupun premium. Strategi ini dianggap paling efektif bagi keluarga untuk mengamankan tiket keberangkatan terlebih dahulu sembari memantau harga terbaik untuk jadwal pulang nantinya.

2. Menghemat dengan Akomodasi Multi-Kamar

Kenaikan tarif hotel saat peak season Lebaran memang sulit dihindari. Namun, masyarakat punya cara pintar untuk tetap hemat dengan memilih akomodasi kolektif. Dibanding memesan banyak kamar hotel secara terpisah, banyak keluarga besar yang kini lebih melirik properti seperti vila, apartemen berlayanan, atau suite dengan beberapa kamar.

Dengan kapasitas yang mampu menampung lebih banyak orang dalam satu unit, biaya penginapan dapat dibagi rata antaranggota rombongan. Tren ini didukung oleh sistem pemesanan yang semakin praktis, di mana platform perjalanan secara otomatis merekomendasikan tipe akomodasi yang sesuai dengan jumlah tamu dewasa dan anak-anak.

3. Mengukur Anggaran Dengan Mengutamakan Kenyamanan

Di tengah tradisi pulang kampung yang terus berjalan, masyarakat kini semakin bijak mengelola anggaran. Tercatat rata-rata pengeluaran untuk pemesanan hotel di MOVE berada di angka Rp1,1 juta per malam. Angka ini mencerminkan preferensi terhadap penginapan yang tetap menawarkan kenyamanan standar tapi dengan harga yang masih bisa dijangkau.

CEO AirAsia MOVE, Nadia Omer, menekankan bahwa tren ini menuntut industri perjalanan untuk lebih adaptif. “Penting bagi kami untuk menghadirkan pilihan yang beragam, harga transparan, serta fleksibilitas tinggi agar masyarakat dapat merayakan tradisi sekaligus tetap cermat dalam merencanakan perjalanan mereka,” ujarnya.

Kesadaran masyarakat untuk menjadi pemudik dan wisatawan yang bijak menunjukkan bahwa makna Lebaran tetap menjadi prioritas dalam keluarga, tapi dibalut dengan penyesuaian pendanaan yang rasional. Dengan rata-rata anggaran penginapan yang lebih terencana dan pemilihan akomodasi kolektif, esensi berkumpul bersama orang tersayang kini terasa lebih berkualitas, sehingga kita bisa sepenuhnya fokus mensyukuri momen kemenangan bersama kerabat di hari yang fitri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda