News

Kuda Lumping Diplomasi: Misi Jakarta Merayu Pawang di Panggung Board of Peace

Kuda Lumping Diplomasi: Misi Jakarta Merayu Pawang di Panggung Board of Peace
Ilustrasi kuda lumping dalam sistem birokrasi yang penuh problematika. (Pexels/Francie)

Gegap gempita panggung hubungan internasional mendadak bising oleh tabuhan gendang rancak dari Washington. Presiden Amerika Serikat baru saja membuka sebuah sirkus geopolitik baru bernama Board of Peace. Lembaga tersebut diklaim sepihak sebagai jalan tol menuju perdamaian abadi kawasan Timur Tengah. Manuver tersebut sekadar karpet merah sang presiden menggusur peran Perserikatan Bangsa-Bangsa yang selalu dianggap lamban. Keputusan Indonesia ikut terjun ke dalam gelanggang kontroversial tersebut langsung memicu perdebatan sengit jutaan warga Nusantara.

Langkah berani Jakarta merapat ke dewan eksklusif tersebut ibarat pertunjukan kesenian kuda lumping di acara hajatan kampung. Sang penari merangsek maju ke tengah arena dengan gagah berani. Pemain kuda lumping rela mengunyah beling risiko geopolitik tingkat tinggi hanya demi berharap tepuk tangan dunia. Publik seolah lupa satu hal paling mendasar: di sudut panggung selalu ada sang pencetus bertindak bak pawang pemegang cambuk kendali.

Pertanyaannya sekarang sangat penting bagi akal sehat para warga penikmat kopi di pos ronda. Apakah elite politik sedang menari murni demi memperjuangkan kemerdekaan kemanusiaan di sana? Atau bangsa tercinta justru sekadar kesurupan mengikuti irama iringan musik sang pawang?

Ilusi Kuda Troya di Tengah Gelanggang

Kubu pendukung langkah diplomasi pemerintah biasanya menyodorkan argumen pragmatis yang sepintas terdengar memukau telinga publik. Berada di luar arena pastinya menjadikan Indonesia sekadar penonton pasif. Kalau cuma berdiam di pinggir lapangan, negara gampang dituduh sekadar pandai mengutuk lewat lisan tanpa mampu mengubah keadaan nyata. Bergabung bersama dewan bentukan negara adidaya tersebut lantas dipandang sebagai jalan masuk taktik Kuda Troya Nusantara versi modern.

Pemerintah pusat menaruh harapan besar sanggup memengaruhi arah kebijakan langsung dari jantung pusat pengambilan keputusan tertinggi. Rencana pengiriman personel militer sebagai pasukan penjaga perdamaian ke zona konflik seolah menjadi penegas keseriusan taktik tersebut. Narasi buatan para petinggi negara terdengar sangat heroik bak mewujudnyatakan kedewasaan prinsip politik luar negeri bebas aktif warisan pendiri bangsa. Sayangnya, taktik Kuda Troya tersebut menyembunyikan satu lubang kelemahan sangat fatal.

Sang tuan rumah acara pastinya sangat menyadari muatan tersembunyi di dalam perut kuda kayu tersebut sejak hari pertama undangan disebar ke berbagai penjuru. Kekuasaan hak veto mutlak masih bersemayam tepat di dalam genggaman tunggal sang ketua dewan. Fakta dominasi kursi pimpinan oleh negara sekutu terdekatnya langsung menghancurkan ilusi soal kemampuan mengubah sistem dari dalam. Niat suci memadamkan api peperangan langsung berbenturan keras melawan tembok tebal kepentingan nasional sang pawang utama.

Sandiwara Panggung dan Hilangnya Akal Sehat

Kubu kontra memandang manuver pemerintah murni sebagai langkah bunuh diri diplomasi terlampau ceroboh. Dewan baru tersebut dicurigai bukan sekadar wadah netral pengentas krisis kemanusiaan global. Forum tersebut tidak lebih dari instrumen hegemoni gaya baru guna melanggengkan kekuasaan sepihak pembuat aturan. Coba pakai logika dasar anak tongkrongan saja saat melihat susunan acaranya.

Kehadiran perwakilan pihak berkonflik langsung di dalam susunan pimpinan dewan jelas mengikis habis sisa kepercayaan publik. Akal sehat mana pun pasti sulit menerima gagasan perdamaian dari lembaga yang justru memberi panggung utama pada pihak tertuduh pelaku kekerasan. Kekhawatiran elemen sipil terbukti bukan sekadar sentimen benci semata tanpa dasar argumen kuat. Eskalasi peperangan lintas batas pada akhir Februari kemarin membuka mata dunia secara telanjang bulat.

Lembaga berpoles embel-embel perdamaian justru membisu tidak berdaya ketika para pencetusnya memamerkan otot militer sungguhan di lapangan. Pada titik krusial tersebut, tarian kuda lumping diplomasi mulai terlihat kehilangan arah pijakan nilai kemanusiaan. Almarhum Gus Dur pernah menitipkan pesan sangat relevan buat kondisi panggung politik sekarang. Beliau menegaskan bahwa perdamaian tanpa keadilan hanyalah sebuah ilusi kosong belaka. Masuknya Republik Nusantara ke dalam sistem rancangan sepihak tanpa jaminan perlindungan keadilan berpotensi kuat melanggengkan praktik penindasan terstruktur.

Menolak Tunduk pada Pecutan Pawang

Penguasa Jakarta sekarang berdiri tegak di persimpangan jalan penentu wajah diplomasi ke depan. Keputusan terbaru menangguhkan sementara pembahasan teknis dewan perdamaian tersebut menjadi langkah rem darurat patut diapresiasi tinggi. Setidaknya jajaran elite politik membuktikan bahwa petinggi negara belum sepenuhnya mabuk kepayang oleh janji manis sang pawang. Namun, sekadar menangguhkan pembahasan teknis tidak pernah cukup menyelamatkan wibawa luhur bangsa.

Republik tercinta wajib berani menggariskan batas toleransi sangat tegas tanpa kompromi sedikit pun. Jika forum internasional tersebut terbukti gagal menekan mesin agresi militer berdarah, langkah paling logis yaitu segera angkat kaki dari gelanggang. Mempertahankan keanggotaan dalam klub eksklusif pelindung tindakan genosida sama saja dengan menggadaikan amanat suci konstitusi pembukaan UUD 1945. Publik terus menuntut ketegasan sikap penolakan atas segala bentuk penjajahan di atas dunia.

Pada akhirnya, pertunjukan kuda lumping geopolitik tersebut tidak boleh dibiarkan berlangsung selamanya. Sang penari harus segera sadar penuh dari fase kesurupan sebelum beling manipulasi merobek lambung kepentingan nasional secara permanen. Bangsa besar pembawa semangat Bandung mempunyai sejarah panjang sebagai pionir Gerakan Nonblok kebanggaan dunia ketiga. Negara berdaulat berhak penuh menuntut panggung tarian jauh lebih terhormat, alih-alih terus menari pasrah di bawah ancaman pecutan dewan perdamaian fiktif ciptaan asing. Keputusan mundur teratur berpeluang menyelamatkan sisa harga diri bangsa Nusantara.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda