News

Atasi Masalah Ini, Mahasiswa KKN Alternatif 104 UAD Sukseskan Program Bank Sampah di Sorosutan

Atasi Masalah Ini, Mahasiswa KKN Alternatif 104 UAD Sukseskan Program Bank Sampah di Sorosutan
Mahasiswa KKN Alternatif UAD melakukan pemilahan sampah anorganik (Dok. Pribadi/Putri Ghoniyan Rifkiani)

Persoalan sampah di wilayah Perkotaan Yogyakarta terus menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Guna mendukung langkah taktis pemerintah daerah dalam menekan laju timbulan limbah, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Alternatif Periode 104 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengambil peran nyata melalui optimalisasi program Bank Sampah di wilayah RW 10 Kelurahan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Program Bank Sampah yang digiatkan oleh para Mahasiswa ini berfokus pada pemilahan dan pengelolaan sampah anorganik langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Langkah ini merupakan bentuk dukungan langsung terhadap instruksi dan program prioritas dari Walikota Yogyakarta yang berkomitmen mengikis volume sampah anorganik agar tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir.

Kolaborasi Mahasiswa dan Warga RW 10 Sorosutan

Melalui program ini, Mahasiswa KKN Alternatif 104 UAD tidak hanya sekadar memberikan sosialisasi teori, melainkan mendampingi warga secara langsung dalam melakukan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, seperti plastik, kertas, kaca, dan logam. Sampah-sampah anorganik yang telah terpilah kemudian disetorkan ke sistem bank sampah setempat untuk ditimbang, dicatat, dan dikonversi menjadi nilai ekonomi bagi warga atau biasa disebut tabungan sampah.

Kehadiran para Mahasiswa UAD mendapat sambutan hangat serta partisipasi aktif dari pengurus RW beserta ibu-ibu PKK dan warga setempat. Program ini dirasa menjadi stimulan penting pasca-pandemi untuk menggerakkan kembali kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memberikan dampak finansial tambahan bagi rumah tangga.

Meninjau Data Krisis Sampah di Wilayah Yogyakarta

Aksi nyata mahasiswa UAD ini dilatarbelakangi oleh kondisi krusial persampahan di Kota Gudeg. Melansir dari Humas Pemda DIY, total volume sampah di Kota Yogyakarta yang harus ditangani setiap harinya diperkirakan berada di kisaran 180 ton. https://jogjaprov.go.id/berita/detail-berita/darurat-sampah-pembangunan-tps-3r-kranon-dan-karangmiri-dikebut

Guna mereduksi jumlah limbah tersebut, pemerintah daerah setempat terus mengebut pengoperasian tempat pengolahan darurat berbasis teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Mengutip data dari Humas Pemda DIY, tiga TPS 3R utama di Kota Jogja sejauh ini baru mampu mengolah total sampah sebanyak 120 ton per hari, dengan rincian kapasitas TPS 3R Nitikan sebesar 70 ton, TPS 3R Kranon sebesar 30 ton, dan TPS 3R Karangmiri sebesar 30 ton. Sisa tumpukan sampah yang belum tertampung kemudian dialihkan melalui kerja sama dengan pihak swasta. Karena kapasitas pengolahan yang masih terbatas ini, penguatan pemilahan mandiri di tingkat hulu seperti RT dan RW menjadi kunci utama yang sangat krusial.

Pemerintah Daerah bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta pun menegaskan bahwa peran swadaya masyarakat melalui jaringan Bank Sampah harus terus dipacu. Mengutip data resmi dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, saat ini tercatat sudah ada sebanyak 479 unit Bank Sampah aktif yang tersebar di 14 kemantren dan 45 kelurahan se-Kota Yogyakarta. Guna memastikan keaktifan operasionalnya, DLH bersama Forum Bank Sampah Kota Yogyakarta gencar melaksanakan program Monitoring dan Evaluasi Bank Sampah secara berkala langsung ke lapangan.

Optimalisasi Bank Sampah Kota Yogyakarta

Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri terus mendorong perbanyakan dan pengaktifan kembali jaringan Bank Sampah di tingkat RW melalui sistem pemantauan terpadu di tiap Kemantren (Kecamatan) dan Kelurahan. Langkah ini diambil demi mengejar bauran pengurangan sampah yang masif di tingkat hulu.

Melalui sentuhan program kerja mahasiswa KKN UAD, tata kelola dan manajemen organisasi Bank Sampah di RW 10 Sorosutan diharapkan bisa berjalan lebih terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi (mahasiswa) dan masyarakat lokal merupakan kunci utama dalam mewujudkan lingkungan perkotaan yang bersih, sehat, dan bebas dari ancaman darurat sampah anorganik.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda