News
BERDAYA UPN Veteran Jakarta: Membekali Anak Bantargebang Membayangkan Masa Depan
Bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan dengan berbagai keterbatasan akses, kesempatan untuk belajar tidak selalu hadir dalam bentuk ruang kelas formal. Buku, kemampuan berbicara di depan umum, pengenalan profesi, hingga kesempatan mencoba kegiatan seni dapat menjadi pintu untuk mengenalkan mereka pada pilihan masa depan yang lebih luas.
Hal tersebut menjadi pendekatan yang dilakukan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta melalui program pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) “BERDAYA: Belajar, Berkarya, dan Berkontribusi Nyata” di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.
Program yang berlangsung pada 18 April hingga 5 Juni 2026 tersebut tidak hanya memberikan materi pendidikan kepada anak-anak. Tim juga menggabungkan literasi, pengembangan keterampilan, kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan.
Pendekatan tersebut penting karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk mengenali dirinya, berkomunikasi, bekerja sama, dan membayangkan kemungkinan profesi yang dapat mereka jalani kelak.
Membuka Ruang Belajar di Luar Sekolah
Kegiatan dipusatkan di Saung KPBS Ciketing Udik RT 004/RW 003 dan melibatkan tim dosen UPN “Veteran” Jakarta yang terdiri atas Dr. Witanti Prihatiningsih, Dr. dr. Ria Maria Theresa, Sp.KJ, Musa Maliki, Ph.D., dan Ayunita Ajengtiyas A.S.M., SE., M.Accy., M.Comm. Program ini turut melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Anak-anak mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari literasi dan numerasi hingga pengenalan profesi, bahasa Inggris, dan storytelling. Mereka juga diperkenalkan dengan teater musikal, seni bela diri, serta kegiatan mengaji.
Materi tersebut dikemas melalui aktivitas yang lebih interaktif. Tujuannya bukan hanya agar anak memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berlatih menyampaikan pendapat, berbicara di depan orang lain, dan membangun keberanian.
Dengan cara ini, proses belajar tidak berhenti pada kemampuan membaca atau berhitung. Anak juga mendapatkan pengalaman yang dapat membantu membangun kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi.
Salah satu fasilitas yang disediakan adalah “Pojok Baca”, yang dilengkapi buku bacaan anak, alat tulis, media pembelajaran, serta berbagai aktivitas edukatif.
Kehadiran ruang tersebut menjadi salah satu upaya untuk membuat kegiatan belajar dapat terus berlangsung di luar jadwal program. Anak-anak memiliki tempat dan bahan untuk membaca serta melakukan aktivitas edukatif secara mandiri.
Tidak Hanya Anak, Orang Dewasa Juga Dilibatkan
Pendekatan BERDAYA tidak berhenti pada pendidikan anak. Masyarakat di sekitar lokasi juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah dan gula darah.
Tim turut memberikan edukasi mengenai anemia, kebugaran tubuh, dan pentingnya deteksi dini.
Langkah ini menunjukkan bahwa penguatan masyarakat tidak bisa hanya dilakukan melalui satu bidang. Pendidikan anak dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran keluarga mengenai kesehatan.
Bagi masyarakat, pemeriksaan sederhana juga dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatan dan memahami pentingnya melakukan pencegahan sebelum masalah kesehatan berkembang lebih jauh.
Di akhir rangkaian kegiatan, tim menyalurkan paket sembako kepada keluarga di sekitar lokasi.
Namun, bantuan tersebut bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan program. Tim Abdimas juga mendapatkan kesempatan untuk memahami kondisi sosial masyarakat Bantargebang secara langsung. Bagi dosen dan mahasiswa yang terlibat, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar untuk melihat persoalan masyarakat dari dekat.
Dari Program Sesaat Menjadi Bekal Jangka Panjang
Program pengabdian masyarakat kerap menghadapi tantangan untuk memastikan manfaatnya tetap terasa setelah kegiatan berakhir. Karena itu, menyediakan fasilitas seperti Pojok Baca dan membangun keterampilan menjadi penting agar manfaat program tidak hanya berhenti ketika tim meninggalkan lokasi.
Dalam konteks anak-anak, pengenalan profesi, kemampuan berkomunikasi, literasi, dan pengalaman mengikuti kegiatan kreatif dapat menjadi modal untuk memperluas cara mereka melihat masa depan.
Pendekatan semacam ini juga membuat anak tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima bantuan. Mereka diberi ruang untuk belajar, mencoba, berbicara, dan berkarya.
Inilah yang menjadi semangat utama BERDAYA. Pendidikan digunakan bukan hanya untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk membantu anak-anak membangun orientasi terhadap masa depan.
Program tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal-hal yang dekat: menyediakan buku, menciptakan ruang belajar, mengajarkan keterampilan, membuka akses pemeriksaan kesehatan, dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengenali berbagai kemungkinan hidupnya.
Bagi masyarakat Bantargebang, upaya seperti ini mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, jika ruang belajar dan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dapat terus tersedia, anak-anak memiliki lebih banyak bekal untuk menentukan arah masa depannya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama pendidikan berkualitas, kehidupan sehat dan sejahtera, pengurangan kesenjangan, serta pembangunan masyarakat yang inklusif.