News

Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub

Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
Suasana KRL saat buka jam sibuk masih terlihat kosong (DocPribadi/GarisTepi)

Pilihan bijak terkadang menuntut effort yang tidak sedikit. Kalimat itu rasanya paling pas untuk menggambarkan perjalanan saya menuju Antarasa Grand Bekasi demi menghadiri acara Lintas (Ngobrolin Transportasi Bareng Komunitas). Mengusung tagline "Pilihan Bijak, Naik Transportasi Umum", forum ini menjadi ruang bagi Kementerian Perhubungan (Kemenhub), content creator, dan aktivis lingkungan untuk membedah masa depan transportasi berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen, perjalanan dari Jakarta Barat menuju Bekasi saya tempuh sepenuhnya menggunakan moda transportasi publik dan kaki sendiri.

Dimulai dari Kalideres, saya berjalan kaki sejauh 2 kilometer menuju Stasiun Poris demi mengejar KRL. Dari Poris, perjalanan berlanjut transit di Stasiun Duri, lalu berganti kereta menuju Stasiun Jatinegara.

Tak berhenti di situ, saya keluar stasiun untuk menyambung Transjakarta menuju Klender demi menghadiri rapat singkat selama 30 menit. Tepat jam 14.30, pergerakan kembali berlanjut saya naik Transjakarta kembali ke Jatinegara, menyambung KRL ke Kranji, dan ditutup dengan ojek online menuju lokasi acara. Tepat pukul 16.30 WIB, saya tiba di lokasi dengan kondisi lelah, namun membawa perspektif riil seorang Anak Kereta (Angker).

Konsep Minim Sampah dan Sentilan Kritis di Meja Diskusi

Setibanya di lokasi, apresiasi pertama layak diberikan kepada panitia. Proses registrasi berlangsung cepat, dan yang menarik, penyajian snack serta air mineral dilakukan langsung menggunakan piring dan gelas kaca. Sebuah langkah konkret tanpa sampah plastik sekali pakai (zero waste) yang sejalan dengan napas acara lingkungan ini.

Acara dibuka hangat oleh MC Cia, yang langsung memancing interaksi dengan menanyakan asal dan cerita perjalanan audiens. Suasana makin hangat saat masuk ke sesi pemateri yang menghadirkan Reza Hertantyo S.H, MTr (Plt Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan / PPTB Kemenhub) dan Arif Ardiansyah Susilo (Content Creator Government Public Relation).

Pak Reza menjelaskan peran krusial PPTB berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 4, yang bertindak sebagai pusat khusus untuk mengawal kebijakan teknis, pemantauan, dan evaluasi transportasi berkelanjutan. Arahnya jelas: mulai dari menghitung emisi secara terukur hingga mendengar langsung masukan dari pengguna di lapangan. Kemenhub saat ini juga tengah merampungkan peta jalan dekarbonisasi demi mewujudkan langit bersih tahun ini, salah satunya dengan mendorong transisi angkot konvensional ke moda massal berbasis listrik.

Sementara itu, Mas Arif menyoroti bagaimana angkutan massal kini bergeser menjadi gaya hidup yang ampuh menekan stres. "Naik motor itu harus fokus penuh, padahal kita sudah capek kerja. Kalau naik transportasi umum, minimal kita bisa tidur, berdiri dengan tenang, dan punya waktu untuk me-time," ujarnya. Ia juga menyarankan agar pemilik kendaraan pribadi tetap rutin melakukan servis berkala agar mesin tidak memproduksi asap kotor yang merusak kualitas udara.

Adu Argumen Soal Kontradiksi Moral Pejabat Publik

Sesi Diskusi Lintas
Sesi Diskusi Lintas

Diskusi memanas saat sesi tanya jawab dibuka. Dhimas Nugroho Wicaksono dari Komunitas Yoursay Trash Ranger Indonesia langsung melontarkan kritik menohok terkait keadilan kebijakan.

"Masyarakat didorong secara masif untuk beralih ke transportasi umum demi lingkungan dan ketahanan energi. Namun, di tingkat pejabat publik, mobilisasi masih didominasi kendaraan pribadi atau dinas mewah yang emisinya tinggi. Apakah ada regulasi konkret dalam peta jalan dekarbonisasi yang mewajibkan pejabat memberikan contoh nyata (leading by example)? Seperti aturan Pemprov DKI Jakarta yang mewajibkan ASN naik transportasi umum setiap hari Rabu, meski faktanya masih banyak ASN nakal yang mengakali aturan tersebut," cecar Dhimas.

Mendapat pertanyaan tajam tersebut, Pak Reza memberikan jawaban diplomatis namun jujur. Ia mengakui adanya tantangan besar pada aspek kesadaran moral di tingkat daerah dan masyarakat.

"Kami di Kemenhub sebenarnya membuat regulasinya. Namun dari pihak Pemda dan masyarakat memang belum sepenuhnya sadar. Teruntuk pemangku kebijakan, mungkin karena integrasi moda dari kami belum maksimal, sehingga masih banyak pejabat yang belum beralih," ujar Pak Reza. Meski begitu, ia menegaskan bahwa di internal Kemenhub sendiri, kewajiban dan kesadaran menggunakan transportasi umum sudah berjalan di seluruh lini pegawai, mulai dari staf, eselon 1, hingga level Menteri dan Wakil Menteri.

Dhimas kemudian memberikan catatan tambahan agar Kemenhub memperketat monitoring agar peta dekarbonisasi ini tidak sekadar menjadi program bagus di atas kertas tetapi zonk saat turun ke bawah. Respons ini disambut baik oleh Pak Reza yang menegaskan bahwa ruang diskusi bersama komunitas dan mahasiswa inilah yang menjadi bahan evaluasi berkala bagi Kemenhub.

Terkait keluhan peserta lain mengenai minimnya dukungan Pemda setempat meskipun masyarakat sudah semangat beralih ke angkutan umum, Pak Reza meluruskan batasan wewenang. Berdasarkan UU 23 dan Perpres 23 Tahun 2024, Kemenhub menetapkan standar keselamatan nasional, sementara pengelolaan operasional transportasi tipe B sepenuhnya diserahkan kepada Dinas Perhubungan daerah masing-masing, kecuali Terminal Tipe A di wilayah Pemprov DKI Jakarta.

Benang Kusut Integrasi Moda dan Penyerobotan Jalur

Kondisi KRL Jabodetabek saat jam pulang kerja atau saat jam padat
Kondisi KRL Jabodetabek saat jam pulang kerja atau saat jam padat

Memasuki sesi talkshow kedua, isu integrasi moda dibahas sebagai tulang punggung utama Kemenhub untuk menyatukan MRT, BRT, dan LRT. Mas Arif mengingatkan bahwa meski tidak semua orang bisa dipaksa naik transportasi umum, kenyamanan integrasi fisik dan aksesibilitas harus dirapikan agar menjadi poin plus yang memikat masyarakat.

Isu inklusivitas juga menjadi sorotan. Kemenhub kini memperketat standar fasilitas untuk kelompok rentan serta menggencarkan konektivitas di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Peserta diingatkan untuk menumbuhkan kesadaran sosial, seperti tidak berebut lift prioritas atau bangku khusus kelompok rentan di jam-jam sibuk.

Ketertiban di jalan raya kembali diuji melalui pertanyaan Putri Melta Sari, yang juga dari Yoursay sekaligus Trash Ranger Indonesia. Melta mengeluhkan banyaknya pelanggaran konkret di jalanan ibu kota.

"Bagaimana regulasi terkait jalur sepeda atau motor yang sering diterobos kendaraan roda dua? Begitu juga dengan jalur Transjakarta yang sering diserobot mobil pribadi, bahkan sering saya lihat itu plat merah (mobil dinas). Itu yang bikin jalanan macet dan jalur pejalan kaki juga semakin sempit," keluh Melta.

Menanggapi fenomena penyerobotan jalur oleh kendaraan berplat merah dan pribadi, Pak Reza tidak menampik kerumitan di lapangan. "Itu individu ya, saya juga terkadang bingung. Biasanya kalau ada razia gabungan mereka kena, tapi saat tidak ada razia, mereka lolos. Ditambah lagi, terkadang ada diskresi dari pihak kepolisian yang memberikan akses masuk ke jalur tersebut pada jam-jam tertentu," jelasnya.

Komitmen Bersama untuk Hari Esok

Dhimas dan Melta hadir dalam acara
Dhimas dan Melta hadir dalam acara

Di penghujung acara, kedua narasumber memberikan pesan penutup yang kuat. Mas Arif membakar semangat para anak muda untuk tidak lelah menggunakan transportasi massal. "Tetap semangat naik transportasi umum sejauh dan sebanyak apa pun. Sama-sama saling jaga dan melindungi. Kalau ada fasilitas rusak atau pelanggaran, jangan takut melapor ke Dinas atau Kemenhub, dan terus dukung pemerintah agar fasilitasnya makin enak," tuturnya.

Sementara Pak Reza menutupnya dengan ajakan keberlanjutan. "Ayo naik terus transportasi umum dan ajak semua orang. Terus edukasi sekitar kita demi langit Indonesia yang lebih bersih dan ketahanan energi bagi anak cucu kita ke depan."

Acara diakhiri dengan sesi foto bersama, pengisian Wall of Hope (Dinding Harapan) oleh para peserta, serta keseruan bermain kuis Kahoot untuk memperebutkan voucher belanja bagi 5 pemenang teratas dari 26 peserta yang hadir. Obrolan hangat terus berlanjut dalam sesi makan malam bersama dan networking (mingle) sebelum akhirnya ditutup dengan pembagian merchandise menarik berisi stiker, e-money khusus, lanyard, dan amplop kenang-kenangan.

Pulang dari Bekasi malam itu, di atas kursi KRL yang melaju membelah malam, saya sadar: perjalanan menuju transportasi hijau memang masih panjang dan penuh hambatan birokrasi, namun harapan itu tetap menyala di tangan komunitas yang menolak untuk diam.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda