News

Saat Isu Kekayaan Jadi Bahan Candaan: Menelisik Fenomena 'Orang Have'

Saat Isu Kekayaan Jadi Bahan Candaan: Menelisik Fenomena 'Orang Have'
Orang have jadi istilah gaul Gen Z (Foto: Pexels/Kari Alfonso)

Kalau kamu rajin berseliweran di media sosial, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah "orang have". Sebutan santai ini mendadak populer di kalangan Gen Z untuk menunjuk orang yang hidupnya berkecukupan atau serba ada. Gaya bahasanya memang terdengar sangat kasual, tetapi frasa ini langsung menyebar luas dan kerap dijadikan bahan candaan harian di internet.

Popularitasnya membuat kalimat seperti “dia mah orang have” tidak perlu lagi diberi penjelasan panjang saat diucapkan. Maksudnya langsung tertangkap: orang tersebut punya uang, punya akses, atau setidaknya punya gaya hidup yang membuat dompet orang lain ikut merasa miskin. Istilah ini pun biasanya langsung muncul ketika seseorang memamerkan barang mahal, sering liburan, atau sekadar punya kehidupan yang kelihatannya terlalu “punya”.

Fenomena tersebut ternyata juga dicatat oleh Balai Bahasa Riau. Dalam rilis resmi yang diterbitkan pada 30 Agustus 2026, lembaga tersebut memasukkan “orang have” sebagai salah satu contoh kreativitas bahasa Gen Z untuk menyebut orang yang berkecukupan. Balai Bahasa Riau melihat ruang digital sebagai tempat anak muda menciptakan, memodifikasi, sekaligus menyebarkan bentuk-bentuk bahasa baru.

Menariknya, “orang have” terasa lebih santai dibandingkan menyebut seseorang sebagai “orang kaya”. Ada sesuatu yang lebih jenaka di dalamnya. Ketika seseorang mengatakan, “Wah, orang have nih,” kalimat itu bisa menjadi pujian, ledekan, atau sindiran kecil, tergantung siapa yang mengucapkannya dan dalam situasi apa.

Di sinilah permainan bahasanya menjadi menarik. Kata “have” sebenarnya bukan istilah Indonesia. Namun, ketika dipasangkan dengan struktur “orang”, maknanya langsung bisa ditangkap oleh penutur bahasa Indonesia. “Have” yang berarti “punya” diperlakukan seperti kata sifat atau penanda identitas, seperti ada orang biasa, ada orang have.

Cara bermain dengan bahasa seperti ini juga akrab dengan budaya pop yang dikonsumsi anak muda. Manga dan anime, misalnya, memiliki tradisi penerjemahan yang sering membutuhkan penyesuaian bahasa agar dialog terasa natural bagi pembaca Indonesia. Penelitian dalam jurnal Izumi Universitas Diponegoro mengenai penerjemahan “Meitantei Conan” menjad "Detektif Conan" menunjukkan adanya penyesuaian unsur bahasa dan budaya dalam proses penerjemahan manga Jepang ke bahasa Indonesia.

Dari sini, bahasa tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus selalu rapi mengikuti buku tata bahasa. Bahasa pop justru sering hidup dari kelenturannya. Istilah asing bisa dipendekkan, diplesetkan, dicampur dengan bahasa Indonesia, lalu tiba-tiba punya kehidupan baru di media sosial.

“Orang have” kemudian menjadi menarik karena penggunaannya tidak berhenti pada soal uang. Istilah ini bisa dipakai untuk bercanda mengenai gaya hidup dan perbedaan pengalaman. Teman yang baru saja membeli ponsel mahal bisa disebut orang have. Orang yang setiap akhir pekan nongkrong di tempat mahal juga bisa kena. Bahkan seseorang yang sekadar terlihat punya akses lebih mudah terhadap sesuatu dapat diberi label yang sama.

Ada humor di sana, tetapi ada pula sedikit kesadaran mengenai jarak sosial. Menyebut seseorang sebagai “orang have” membuat pembicaraan tentang kekayaan terasa lebih ringan. Topik yang sebenarnya sensitif—siapa punya uang lebih banyak dan siapa tidak—diubah menjadi bahan bercandaan.

Apalagi di media sosial, gaya hidup mudah sekali dipertontonkan. Liburan, konser, barang baru, restoran mahal, sampai rutinitas nongkrong dapat menjadi konten. Di tengah budaya flexing tersebut, “orang have” menjadi semacam label bercanda untuk membaca fenomena itu tanpa harus terdengar terlalu serius.

Balai Bahasa Riau juga mencatat bahwa Gen Z merupakan kelompok yang sangat dekat dengan ruang digital. Mengutip Survei Profil Internet Indonesia 2025 dari APJII, Balai Bahasa Riau menyebut Gen Z menyumbang 25,54 persen dari pengguna internet Indonesia. Ruang digital yang besar ini ikut menyediakan tempat bagi istilah-istilah baru untuk beredar dengan cepat.

Jadi, ketika seseorang hari ini nyeletuk, “Enak ya jadi orang have,” mungkin ia tidak sedang membuat teori tentang kelas sosial. Bisa saja ia hanya sedang bercanda melihat temannya membeli sesuatu yang harganya membuat saldo rekening ikut merenung. Namun, di balik candaan sesederhana itu, saat ini ada cara baru anak muda membicarakan perbedaan ekonomi: dengan bahasa yang lebih cair, lebih lucu, dan tentu saja lebih have fun.

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan “orang have” terdengar lebih menarik daripada sekadar “orang kaya”. Ada unsur permainan kata, ada sedikit ironi, dan ada jarak yang sengaja dibuat santai. Bahasa gaul memang sering bekerja seperti itu, ia mengambil sesuatu yang serius, lalu membuatnya cukup ringan untuk ditertawakan bersama.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda