News

Kisah Ibu Hamil Naik KRL Jam Sibuk: Antara "Misuh-misuh" dan Keajaiban Pin Prioritas

Kisah Ibu Hamil Naik KRL Jam Sibuk: Antara "Misuh-misuh" dan Keajaiban Pin Prioritas
Pengalaman dan suka duka naik transportasi umum KRL [Dokpri/Rizka Utami]

Sebagai mantan budak korporat yang bertahun-tahun bekerja di daerah sekitar Sudirman-Thamrin, saya memiliki banyak sekali pengalaman tak terlupakan saat menaiki angkutan transportasi massal KRL. Bagi para Anker alias Anak Kereta, tentu paham betul bagaimana situasi dan kondisi saat menaiki KRL di jam-jam sibuk.

Suka duka saya alami selama menaiki KRL. Mulai dari tas terjepit di pintu, tas bekal yang tak sengaja tertinggal, pingsan di dalam KRL, hingga keributan kecil di antara para penumpang KRL menjadi warna-warni saya sebagai seorang Anker.

Semua itu saya jalani dengan sepenuh hati meski tak jarang hati mungil ini sering misuh-misuh lantaran penuhnya gerbong KRL saat jam-jam sibuk seperti pergi dan pulang kerja.

Pengalaman Naik KRL Saat Hamil

Kekhawatiran yang mulai saya rasakan sebagai Anker sejati yakni saat saya tengah mengandung anak pertama. Saya yang saat itu masih tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat, sempat ragu untuk naik KRL karena saya tahu betul bagaimana situasinya saat jam sibuk.

Salah satu yang saya khawatirkan adalah harus berdesak-desakan dengan penumpang lain saat usia kandungan sudah mulai membesar.

Saya sempat berpikir, “Apa iya masih kuat naik KRL setiap hari dengan kondisi hamil seperti ini?” Namun, mau bagaimana lagi? Pada saat itu, KRL masih menjadi salah satu pilihan transportasi yang paling masuk akal bagi saya. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan adalah karena waktu tempuh dan ongkos yang murah.

Pin Ibu Hamil Jadi Penyelamat

Akhirnya, saya tetap memilih naik KRL dengan segala pertimbangan yang sudah saya pikirkan. Saya mengetahui bahwa PT KAI menyediakan pin khusus bagi ibu hamil yang bisa membuat ibu hamil mendapatkan kursi prioritas dengan mudah.

Awalnya saya berpikir jika pin tersebut hanya sekadar formalitas dan tak berdampak banyak bagi penggunanya, namun akhirnya saya tetap memutuskan membuat pin ibu hamil saat saya turun di stasiun tujuan, Stasiun Sudirman. Syaratnya cukup mudah, saat itu saya cukup menunjukkan foto USG dan memberitahu kapan Hari Perkiraan Lahir (HPL).

Pada trimester pertama, kondisi perut yang belum mulai membesar tentu tak membuat orang lain memperhatikan jika saya sedang hamil, namun ternyata berkat pin hamil yang saya kenakan, beberapa orang dengan kesadarannya langsung memberikan tempat duduk prioritas.

Stasiun Sudirman, salah satu stasiun yang menyediakan pembuatan pin ibu hamil [Dokpri/Rizka Utami]
Stasiun Sudirman, salah satu stasiun yang menyediakan pembuatan pin ibu hamil [Dokpri/Rizka Utami]

Sekadar saran dari saya yang selama ini naik dari stasiun ramai penumpang, ibu hamil yang ingin naik KRL di jam-jam sibuk sebaiknya naik lebih pagi karena kondisi kereta masih cukup lengang. Jika naik dari Stasiun Depok Lama, Anda bisa naik kereta balik dari Dipo yang pasti kosong dan memungkinkan Anda memilih tempat duduk dengan nyaman.

Tapi jika Anda naik dengan jadwal yang mepet dengan jam pergi kantor, maka Anda harus sedikit berjuang mendapat tempat duduk. Biasanya, kursi prioritas di gerbong wanita sudah penuh diisi dari penumpang Bogor dan sekitarnya, sebab itu saya naik di gerbong tengah atau gerbong campur yang biasanya lebih mudah mendapat prioritas.

Apresiasi untuk Para Petugas KRL

Penumpang KRL pasti paham bahwa tidak semua perjalanan berlangsung mulus. Ada kalanya kereta mengalami gangguan sinyal atau gangguan lainnya yang menyebabkan perjalanan terhenti di tengah jalan.

Salah satu pengalaman yang sampai sekarang masih saya ingat adalah ketika kereta yang saya tumpangi mengalami gangguan hingga hampir satu jam. Saya sudah lupa persis gangguan apa yang terjadi saat itu, tetapi yang jelas, situasi di dalam kereta mulai terasa tidak kondusif.

Suasana di dalam gerbong mulai dipenuhi suara penumpang yang mengeluh. Ada yang mulai marah-marah, ada yang sibuk menghubungi kantor, dan ada pula yang hanya bisa pasrah sambil sesekali melihat jam di ponsel.

Sementara itu, saya yang saat itu sedang hamil besar mulai merasa semakin engap. Perut yang sudah membesar, kondisi gerbong yang penuh, serta udara yang terasa semakin pengap membuat saya benar-benar mulai merasa tidak nyaman meski saya mendapatkan tempat duduk.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya muncul keputusan bahwa para penumpang harus dialihkan ke kereta yang berada di jalur sebelah. Namun, proses perpindahan tersebut tentu tidak semudah sekadar turun dari satu kereta lalu masuk ke kereta lainnya.

Pintu kereta akhirnya dibuka secara paksa agar para penumpang bisa keluar. Saya yang saat itu sedang hamil besar tentu langsung merasa panik karena harus turun dari kereta dalam kondisi yang sama sekali tidak ideal.

Apalagi, di bawah sana terdapat celah antara kereta dan jalur yang membuat saya harus ekstra hati-hati. Dalam kondisi normal saja mungkin situasi tersebut sudah cukup membuat seseorang merasa waswas, apalagi bagi ibu hamil yang perutnya sudah semakin besar.

Untungnya, petugas KRL saat itu benar-benar sigap. Saya dibantu untuk berpindah menggunakan papan titian menuju kereta yang berada di jalur sebelah. Jujur saja, saya masih ingat betul bagaimana petugas tersebut membantu saya dengan sangat hati-hati. Di tengah situasi yang sedang kacau dan para penumpang yang mulai kehilangan kesabaran, saya justru merasa cukup tenang karena ada petugas yang memperhatikan kondisi saya.

Saya pun akhirnya berhasil berpindah ke kereta sebelah dengan selamat. Meskipun perjalanan hari itu penuh drama dan membuat badan terasa sangat lelah, setidaknya saya tidak harus menghadapi situasi tersebut sendirian.

Saya sangat mengapresiasi upaya para petugas KRL yang benar-benar mengutamakan kenyamanan dan keselamatan para penumpangnya, terutama untuk ibu hamil seperti saya saat itu.

Dari pengalaman itu, saya kembali menyadari bahwa naik transportasi umum memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya kita harus menghadapi keterlambatan, gangguan perjalanan, gerbong yang penuh, hingga situasi tak terduga yang membuat panik.

Namun, pengalaman tersebut juga membuat saya melihat sisi lain dari perjalanan sebagai penumpang KRL. Ada petugas yang berusaha menjalankan tugasnya dan memastikan penumpang bisa tetap merasa aman dan selamat.

Naik KRL Saat Hamil Ternyata Tetap Nyaman

Situasi Stasiun Duri, Jumat (24/7/2026) [Dokpri/Rizka Utami]
Situasi Stasiun Duri, Jumat (24/7/2026) [Dokpri/Rizka Utami]

Jadi, apakah naik KRL saat hamil di jam sibuk benar-benar semengerikan yang saya bayangkan? Jawabannya, tidak selalu.

Memang ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, mulai dari kondisi tubuh, usia kehamilan, waktu perjalanan, hingga kemungkinan menghadapi situasi tak terduga. Namun, selama kita mengenali kemampuan diri sendiri, memanfaatkan fasilitas yang tersedia, dan tidak ragu meminta bantuan ketika membutuhkan, perjalanan dengan KRL tetap bisa dilakukan.

Selain itu besar harapan saya agar KAI bisa menyediakan fasilitas eskalator di tiap-tiap stasiun demi kenyamanan ibu hamil dan lansia. Karena saat ini tidak semua stasiun menyediakan fasilitas eskalator.

Bagi saya yang kala itu menjadi ibu hamil sekaligus Anker memang memiliki tantangannya sendiri. Namun, pengalaman itu justru menjadi salah satu cerita yang tidak akan pernah saya lupakan dari masa-masa menjadi budak korporat yang setiap hari harus berjibaku dengan perjalanan Depok-Sudirman.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda