News
Kang Edai, Sosok di Balik Warisan Budaya Desa Kemiren
Bagi sebagian pemuda, membangun karier mungkin berarti pergi meninggalkan kampung halaman dan mencari kesempatan di tempat lain. Namun, bagi Kang Edai, justru desa tempat ia dilahirkan adalah ruang terbaik untuk berkarya.
Kang Edai merupakan Ketua Desa Wisata Osing Kemiren, Banyuwangi. Kecintaannya terhadap Desa Kemiren membuatnya memilih untuk tetap tinggal dan ikut mengembangkan potensi desa. Menurut Kang Edai membangun desa bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Perjalanan Kang Edai dalam mengembangkan Desa Kemiren semakin berkembang ketika Desa Kemiren bergabung dalam program Desa Sejahtera Astra pada 2024. Kehadiran program ini memberikan warna baru dalam upaya masyarakat mengembangkan desa secara berkelanjutan. Salah satu momen yang turut memperkuat semangat tersebut adalah ketika Desa Kemiren mendapat kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno.
Keunggulan Desa Kemiren terletak [ada sektor wisata. Namun, membangun desa tidak cukup hanya dengan mengandalkan satu sektor. Kang Edai bersama dengan masyarakat, mencoba mengembangkan empat bidang yang menjadi bagian dari program Desa Sejahtera Astra, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Pada bidang kesehatan, masyarakat mengembangkan Posyandu Desa Kemiren dan terus melakukan berbagai inovasi. Bidang ini pernah meraih penghargaan sebagai juara pertama Posyandu Kreatif se-Jawa Timur. Sementara di bidang lingkungan, masyarakat mulai mengembangkan pengelolaan sampah melalui pemilahan sampah plastik dan pembuatan kompos organik. Bidang pendidikan pun tidak ditinggalkan. Edukasi mengenai kebudayaan Osing menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan identitas desa kepada generasi muda sekaligus wisatawan. Sementara itu, kewirausahaan melalui pengembangan desa wisata menjadi bidang yang paling menonjol dan berkembang pesat.
Meski begitu, Kang Edai menyadari bahwa setiap bidang membutuhkan proses. Ia dan masyarakat masih mencari formula yang tepat agar seluruh program dapat berkembang secara seimbang. “Pariwisata memang yang paling unggul. Tapi ketika pariwisatanya maju, bidang-bidang lain juga akan ikut terangkat,” ujarnya.
Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Desa Wisata Osing Kemiren telah mendapatkan pengakuan melalui ASEAN Tourism Award dan kini tengah berproses menuju pengakuan dari organisasi pariwisata internasional yaitu UNESCO. Bagi Kang Edai, pencapaian tersebut bukan hanya tentang penghargaan, tetapi juga kesempatan untuk membawa nama Desa Kemiren dan budaya Osing dikenal lebih luas.
Dari Desa untuk Dunia
Salah satu perubahan yang paling terasa sejak hadirnya Desa Sejahtera Astra adalah terbukanya akses dan dukungan yang lebih luas bagi Desa Kemiren. Program tersebut tidak hanya memberikan dukungan pendanaan, tetapi juga membantu pengembangan sumber daya manusia dan menjadi tempat bagi masyarakat desa untuk berkonsultasi dalam mengembangkan berbagai program.
Ketika Desa Kemiren mengikuti ASEAN Tourism Award di Malaysia, Astra turut memberikan dukungan mulai dari akomodasi hingga kebutuhan lainnya. Bagi Kang Edai, dukungan semacam ini membuat Desa Kemiren memiliki keberanian untuk melangkah lebih jauh.
“Dengan menjadi bagian dari Desa Sejahtera Astra, kami jadi lebih mudah untuk mengembangkan wisata Desa Kemiren hingga ke tingkat internasional,” tuturnya.
Dukungan tersebut juga membuat masyarakat semakin percaya bahwa desa memiliki potensi untuk berkembang tanpa harus kehilangan jati dirinya. Hal itu penting bagi Desa Kemiren yang memiliki identitas kuat sebagai salah satu pusat kebudayaan Osing di Banyuwangi.
Menjaga Budaya Osing agar Lestari
Perkembangan pariwisata yang semakin modern menjadi tantangan dalam menjaga budaya lokal. Perubahan zaman berlangsung dinamis dan begitu cepat, sementara budaya tradisional menghadapi tantangan untuk tetap relevan di tengah generasi muda. Kang Edai melihat salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mengembalikan wajah Desa Kemiren agar tetap memiliki budaya Osing yang kental.
Salah satu upaya pelestarian budaya Osing yaitu melalui rumah adat. Saat ini, hanya sekitar delapan kepala keluarga atau kurang lebih sepuluh unit rumah yang masih mempertahankan nuansa rumah adat Osing. Karena itu, menghidupkan kembali rumah-rumah dengan karakter budaya Osing menjadi salah satu prioritas Kang Edai dan timnya. Upaya tersebut bukan sekadar mempertahankan bangunan lama. Lebih dari itu, ia ingin agar masyarakat kembali merasa dekat dengan identitas budayanya sendiri.
Dari segi bahasa dan budaya, identitas lokal Osing kerap dipandang sebelah mata. Bahasa Osing bahkan pernah dianggap sebagai sesuatu yang “katrok” atau tidak mengikuti perkembangan zaman menurut pengalaman Kang Edai ketika merantau menempuh pendidikan sebelum kembali ke Desa Kemiren. Namun, kehadiran Desa Wisata Osing Kemiren perlahan mengubah pandangan tersebut.
Namun, setelah hadirnya Desa Wisata Osing, bahasa Osing justru menjadi salah satu identitas dan daya tarik Banyuwangi. Budaya yang sebelumnya dianggap kuno mulai dilihat sebagai sesuatu yang unik dan bernilai. Masyarakat pun memiliki kebanggaan baru terhadap apa yang mereka miliki. Bagi Kang Edai, inilah salah satu dampak terbesar dari pembangunan desa.
Merangkul Pemuda Desa Kemiren
Perjalanan Desa Kemiren juga tidak dilakukan sendirian. Kang Edai menggandeng orang muda desa untuk menjadi bagian dari proses tersebut.
Saat ini, ada sekitar 20-an pemuda yang terlibat dalam pengembangan desa wisata Kemiren. Mereka ikut mengelola berbagai kegiatan dan menjadi bagian penting dari upaya mengenalkan Kemiren kepada masyarakat luas. Bagi Kang Edai, keterlibatan anak muda sangat penting karena merekalah yang nantinya akan meneruskan apa yang sudah dibangun hari ini.
Kang Edai juga sangat memahami bahwa membangun desa membutuhkan kesabaran. Ilmu yang didapatkan di bangku kuliah, menurutnya, tidak selalu sama dengan kondisi yang ditemui langsung di lapangan. Peran pemuda dalam membangun desa sangat penting terutama dalam memanfaatkan kreativitas orang muda.
Harapan Kang Edai bagi Keberlanjutan Desa Wisata Kemiren
Bagi Kang Edai, keberhasilan Desa Kemiren tidak bisa hanya dilihat dari banyaknya wisatawan atau penghargaan yang diperoleh. Ia memiliki mimpi yang jauh lebih sederhana sekaligus bermakna. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, ia berharap masyarakat Desa Kemiren dapat hidup dengan lebih baik, terutama dari sisi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Sebab, pariwisata yang kuat menurutnya harus dibangun di atas masyarakat yang sehat dan berdaya. Hal ini juga sejalan dengan perhatian Desa Sejahtera Astra terhadap bidang kesehatan. Kesehatan menjadi salah satu fondasi penting karena masyarakat yang sehat akan lebih produktif dan mampu berkontribusi dalam membangun desanya.
Pada akhirnya, perjalanan Kang Edai dan Desa Kemiren menunjukkan bahwa membangun desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, semuanya berawal dari seseorang yang memilih untuk tetap tinggal dan percaya bahwa kampung halamannya punya masa depan.
Dari kecintaan terhadap desa, lahirlah gerakan untuk menjaga budaya. Dari budaya, tumbuh pariwisata. Dari pariwisata, muncul peluang ekonomi. Dan dari semua itu, masyarakat perlahan mendapatkan kembali rasa percaya diri terhadap desa yang mereka miliki.
Kang Edai mungkin hanya satu orang, tetapi langkahnya menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari siapa saja.
Pesannya untuk orang muda di Indonesia pun sederhana, Kang Edai berpesan untuk orang muda menggunakan keahlian masing-masing untuk membangun desa karena setiap desa memiliki potensinya sendiri. Hal yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melihat, keberanian untuk memulai, dan kesabaran untuk terus berjalan.
Dari Desa Kemiren, budaya Osing tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diberi ruang untuk melangkah lebih jauh bahkan hingga dikenal dunia.