News
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
Bertemu dengan orang yang sama sekali belum dikenal biasanya membutuhkan alasan kuat untuk berbaur. Namun, bagi Trip Tipis-Tipis atau singkatannya TRIPTIS, pertemuan tidak harus selalu dimulai dari kesamaan pekerjaan, hobi, atau lingkaran pertemanan. Cukup dengan berjalan kaki, beraktivitas fisik, piknik, atau sekadar bercanda bersama.
TRIPTIS merupakan komunitas yang mempertemukan orang-orang asing melalui berbagai aktivitas santai. Komunitas ini secara resmi terbentuk pada April 2026, meski aktivitas konten jalan-jalan yang menjadi cikal-bakalnya telah dimulai sejak 2023. Salah satu penggagas TRIPTIS, Dika, mengatakan komunitas tersebut berawal dari kesenangan para penggagasnya terhadap berbagai aktivitas sederhana, mulai dari berjalan kaki, memotret, berteman, hingga bercanda.
"Awal mulanya itu, kita bikinnya karena kesenangan kita pribadi, sih," cerita Dika membuka obrolan. "Kayak, ada yang suka jalan kaki, suka motret, suka berteman, ada yang suka haha-hihi."
Dari kesenangan tersebut, mereka kemudian melihat adanya kebutuhan terhadap ruang untuk bersenang-senang yang terasa lebih sederhana dan terbuka. Dika mengaku bahwa semakin dewasa seseorang, ruang untuk bercanda atau sekadar bersenang-senang justru terasa sangat terbatas.
"Melihat yang sekarang-sekarang, semakin dewasa kita, kayaknya ruang buat bercanda sekadar haha-hihi itu kok kesannya terasa lebih eksklusif, ya?" kenangnya.
Berangkat dari keresahan tersebut, TRIPTIS mulai berkembang dari sekadar konten perjalanan menjadi "trip tipis-tipis". Bahkan, istilah tersebut pada mulanya hanya untuk menggambarkan aktivitas jalan-jalan mereka yang dilakukan sesekali. Salah satu penggagas lainnya, Adhe, menjelaskan perjalanan mereka terkadang baru bisa dilakukan beberapa bulan atau setahun kemudian. Karena itulah kegiatan mereka disebut "tipis-tipis".
"Karena memang trip-nya tipis-tipis. Ketemunya itu entah nanti bulan berikutnya, atau bahkan bisa setahun berikutnya," tutur Adhe.
Namun, konsep "tipis-tipis" kemudian tidak hanya merujuk pada perjalanan. TRIPTIS berkembang menjadi ruang pertemuan yang fleksibel dan tidak mengharuskan anggotanya selalu hadir dalam setiap agenda. Orang-orang bisa datang sekali, kembali pada kegiatan berikutnya, atau bahkan tidak datang lagi. Adhe menekankan bahwa tidak ada kewajiban untuk terus mengikuti seluruh kegiatan, karena kebebasan justru menjadi bagian dari karakter TRIPTIS itu sendiri.
"Kami komunitas yang nggak terikat yang harus ngikut terus, harus ikut agenda ini terus, nggak ya. Jadi memang sebebas itu aja," tambah Adhe.
Empat Cara untuk Bertemu dan Bersenang-Senang

Untuk mewadahi ketertarikan yang berbeda-beda, TRIPTIS memiliki empat agenda utama. Ada Jalan Kaki Tipis-Tipis yang sekaligus diisi dengan street photography; Olahraga Tipis-Tipis; Mendadak Piknik Tipis-Tipis; serta Together Bergerak yang diarahkan pada kegiatan berbagi seperti mengunjungi panti atau rumah belajar.
Jalan kaki ternyata menjadi agenda yang paling banyak diminati. Dalam kegiatan tersebut, mereka yang hadir tidak hanya diajak melangkah dari satu titik ke titik lain. Untuk penentuan rute, biasanya Dika, Adhe, dan Gilang terlebih dahulu melakukan survei guna mencari jalur yang nyaman dan memungkinkan rombongan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Rute yang dipilih pun selalu mempertimbangkan akses transportasi umum, makanya sebagian besar lokasi dibuat dekat dengan stasiun atau halte bus agar lebih mudah untuk datang dan pulang.
"Dari kita sendiri juga sengaja sih milih rute-rute yang dekat sama stasiun, halte, ya transportasi umum gitu," papar Gilang.
Sementara itu, agenda aktivitas fisik tidak dirancang sebagai kegiatan kompetitif. Dalam salah satu sesi, misalnya bulu tangkis, mereka yang datang dengan kemampuan berbeda tetap dapat bermain bersama. Tujuan utamanya bukan untuk mencetak atlet, melainkan bertemu, bergerak, dan bersenda gurau.
"Olahraga pun dari kami nggak ada yang serius. Kita cuma datang, berkeringat, ketemu, sisanya haha-hihi," timpal Dika sambil tertawa.
Bahkan pernah di satu kesempatan, ada seorang atlet bulu tangkis yang ikut kegiatan tersebut. Lagi-lagi, karena mengusung tema santai, sang atlet tanpa sadar mengikuti ritme mereka sehingga suasana tidak berubah menjadi ajang kompetisi.
"Pernah ada ya pas bulu tangkis itu, yang daftar atlet. Dia udah bawa raket empat. Tapi karena kita komedi, jadinya kebawa deh buat main-main, senang-senang, jadinya ngajarin dasar-dasar tepok bulu," imbuhnya.
Dari situlah keempat agenda tersebut dibuat, karena setiap orang memiliki cara berbeda untuk bersosialisasi. Ada yang ingin berjalan kaki sambil memotret, ada yang lebih tertarik memeras keringat, sementara lainnya ingin berbagi atau mengikuti kegiatan sosial.
Bukan Sekadar Jalan-Jalan Biasa

Pendiri Trip Tipis-Tipis: Adhe (depan), Gilang (tengah), dan Dika (belakang). (dok.Pribadi/Nisa)
Di balik aktivitas yang terlihat ringan, TRIPTIS memiliki satu benang merah, yakni mempertemukan orang-orang yang belum saling mengenal. Dalam satu kegiatan, jumlah rombongan biasanya mencapai lebih dari 20 orang. Namun, komunitas ini membatasi kapasitasnya di angka 25 orang agar semua pihak tetap memiliki kesempatan untuk saling menyapa dan membangun bonding.
Adhe menjelaskan bahwa biasanya mereka bertigalah yang menjadi jembatan awal bagi kenalan baru yang masih asing satu sama lain. Percakapannya pun dimulai dari hal-hal random yang kemudian berkembang menjadi obrolan hangat antarsesama.
"Dan syukurnya alhamdulillah, saya, Dika, dan Gilang ini suka ngobrol. Jadi, akhirnya walaupun bahasanya ya ngobrol random, tapi itu untuk menjembatani mereka berbicara dan ngobrol," ungkap Adhe.
Bagi TRIPTIS, obrolan tersebut justru menjadi bagian paling penting dari kegiatan mereka. Sebab, mereka meyakini bahwa setiap individu membawa cerita masing-masing dan membutuhkan ruang untuk menyampaikannya. Dika membeberkan salah satu hal yang kemudian menjadi keunikan TRIPTIS adalah keberadaan cerita di setiap pertemuan. Menurutnya, komunitas mereka ingin menjadi ruang bagi siapa pun untuk melepaskan sejenak beban kehidupan sehari-hari dan kembali merasa terhubung dengan orang lain.
"Yang kita pikirin adalah kesenangan kita, terus bertemu dengan orang kita senang, energi kita ke-recharge, terus kita percaya perihal semua cerita itu punya rumahnya," tegas Dika.
Dari awal, TRIPTIS tidak pernah melihat latar belakang seseorang sebagai hal utama. Mereka ingin menghadirkan ruang ketika seseorang bisa datang sebagai dirinya sendiri, bertemu dengan orang asing, lalu berbagi cerita tanpa tekanan untuk terus menjadi bagian dari kelompok. Dika bahkan menegaskan bahwa nilai yang ingin mereka bawa dan pertahankan terangkum melalui satu kalimat: memanusiakan manusia dengan cara memanusiakan ceritanya.
Meskipun aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau piknik menjadi pintu masuk, tujuan akhir dari TRIPTIS adalah untuk mempertemukan cerita-cerita yang muncul di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Ke depannya, mereka ingin TRIPTIS terus berjalan dan berkembang dengan membuka lebih banyak kesempatan bertemu orang-orang baru.
Bagi Dika, Gilang, maupun Adhe, keberlanjutan komunitas ini tidak hanya berkaitan dengan kuantitas kegiatan atau semakin besarnya jumlah rombongan, melainkan pada bagaimana TRIPTIS tetap konsisten menjadi ruang untuk berbagi energi dan cerita. Pada akhirnya, TRIPTIS mungkin berangkat dari agenda "tipis-tipis". Namun, bagi para pendirinya, pertemuan yang dilakukan secara sederhana itu justru menjadi cara untuk memperpanjang satu hari lagi dengan bersenda gurau, bertemu orang baru, dan mendengarkan cerita yang mungkin sebelumnya tidak memiliki tempat untuk diutarakan.