News

Mengenal Fakfak, Surga Pala di Papua Barat yang Kini Dikepung Api

Mengenal Fakfak, Surga Pala di Papua Barat yang Kini Dikepung Api
Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Pexels / Özgür Sürmeli)

Kabupaten Fakfak tengah menjadi sorotan utama di Papua Barat. Wilayah berjuluk "Kota Pala" yang selama ini lekat dengan pesona sejarah, kekayaan ekologis, serta budaya toleransinya yang kuat, kini harus menghadapi ancaman krisis lingkungan berupa maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Situasi ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan catatan Dinas Kehutanan Papua Barat yang merujuk pada data aplikasi SiPongi+ Kementerian Kehutanan, luasan karhutla di Fakfak telah menyentuh angka 2.171,35 hektare per 31 Juli 2026. Skala tersebut menjadikannya sebagai daerah dengan dampak terparah, menelan hampir 87 persen dari total keseluruhan area kebakaran di Provinsi Papua Barat tahun ini.

Angka yang besar itu pasti memerlukan perhatian khusus mengenai kondisi di Fakfak. Hal ini khususnya karena daerah tersebut memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, sehingga menjadi wilayah yang istimewa di Papua Barat.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai masalah kebakaran hutan dan lahan, mungkin lebih baik kita mencari tahu beberapa fakta menarik tentang Fakfak.

Dijuluki "Kota Pala"

Nama Fakfak langsung membuat kita teringat pada buah pala.

Fakfak memang terkenal sebagai "Kota Pala" karena tanaman pala menjadi salah satu produk unggulan dari daerah tersebut. Fakfak memang dikenal sebagai salah satu sentra pala di Papua Barat. Komoditas ini telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Bagi warga setempat, pala bukan hanya tanaman yang ditanam; komoditas ini sudah lama menjadi bagian penting dari kehidupan dan perekonomian masyarakat setempat.

Dengan demikian, ketika membicarakan Fakfak, julukan "Kota Pala" bukan hanya sebutan yang menarik; julukan ini mencerminkan komoditas lokal yang menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi wilayah tersebut.

Punya Masjid Berusia Lebih dari 150 Tahun

Fakfak juga memiliki warisan sejarah Islam yang sangat menarik.

Di Distrik Kokas, ada Masjid Tua Patimburak, sebuah bangunan yang dibangun pada tahun 1870 dan sudah berdiri lebih dari seratus tahun. Masjid ini istimewa bukan hanya karena usianya yang tua, tetapi juga karena desain bangunannya yang menggabungkan gaya Eropa dan Jawa.

Namun, ada hal yang jauh lebih menarik tentang bangunan ini.

Masjid Patimburak adalah contoh nyata dari filosofi "Satu Tungku Tiga Batu", sebuah konsep yang menjadi dasar hidup masyarakat Fakfak.

Filosofi ini menjelaskan cara tiga elemen bisa hidup berdampingan dan saling mendukung. Dalam kehidupan beragama, ketiga batu tersebut biasanya diartikan sebagai simbol untuk agama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik.

Masjid itu dibangun bersama masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang keyakinan.

Hal ini menunjukkan bahwa toleransi di Fakfak bukan hanya sekadar kalimat yang tertulis di tempat umum, tetapi merupakan nilai yang terlihat jelas dalam perjalanan sejarah masyarakat setempat.

Pulau Tempat Kambing Berkeliaran Bebas

Selain ceritanya, Fakfak juga punya kisah yang menarik dan berpusat di Pulau Arguni.

Pulau ini terkenal sebagai tempat tinggal masyarakat Muslim di daerah Fakfak. Uniknya, jumlah kambing di sana diperkirakan sangat banyak, bahkan melebihi jumlah penduduk manusianya. Kambing-kambing itu dibiarkan berjalan bebas dan mencari makanan sendiri.

Menariknya, karena jumlah kambing di Arguni yang banyak, sebuah pulau kecil di dekatnya diberi nama Pulau Kambing. Namun, kambing-kambing tersebut sebenarnya dipelihara di Pulau Arguni itu sendiri, dan dibiarkan mencari makan sendiri; pulau yang dikenal sebagai Pulau Kambing bukanlah tempat utama di mana hewan-hewan tersebut tinggal.

Lebih lanjut lagi, kehidupan masyarakat Arguni sangat tergantung pada laut. Banyak orang bekerja sebagai nelayan, dan kehidupan sehari-hari mereka sangat berkaitan dengan pulau-pulau di sekitar mereka.

Punya Air Terjun yang Langsung Mengarah ke Laut

Fakfak memiliki daya tarik alam yang sangat menakjubkan dan khas, seperti Air Terjun Kiti Kiti.

Keistimewaannya adalah karena airnya jatuh langsung ke laut. Ketika air surut, pengunjung bisa melihat air terjun dan pantai di bawahnya, sedangkan ketika air pasang, air mengalir deras langsung ke laut.

Kawasan di sekitar air terjun juga memiliki panorama bawah laut yang menarik bagi wisatawan.

Keunikan tersebut menunjukkan betapa pentingnya menjaga lingkungan Fakfak. Kekayaan alam di wilayah ini tidak hanya ada di daratan saja, tetapi juga mencakup hutan, daerah pesisir, lautan, serta berbagai ekosistem yang saling terhubung satu sama lain.

Fakfak Kini Menghadapi Ancaman Karhutla

Di balik kekayaan alamnya, Fakfak sekarang sedang menghadapi masalah besar.

Dinas Kehutanan Papua Barat melaporkan bahwa luas area yang terkena api di hutan dan lahan di Fakfak mencapai 2.171,35 hektare. Sementara itu, luas total area yang terkena dampak di seluruh wilayah Papua Barat mencapai 2.496,39 hektare. Sebab itu, sekitar 87 persen dari seluruh area yang terkena kebakaran di Papua Barat berada di Kabupaten Fakfak.

Kebakaran ini bukan hanya angka di kertas saja; peristiwa terbakarnya hutan dan lahan berdampak langsung terhadap lingkungan, habitat binatang liar, dan kehidupan warga setempat.

Data yang sama juga menunjukkan bahwa kebakaran terjadi di berbagai area dengan berbagai jenis penggunaan lahan. Wilayah yang paling terkena dampak luas termasuk dalam kategori Area Penggunaan Lain (APL), kemudian diikuti oleh hutan produksi, hutan produksi yang bisa diubah, hutan produksi terbatas, dan hutan lindung.

Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya upaya mencegah kebakaran, terutama karena faktor musiman dan kondisi lingkungan bisa membuat risiko kebakaran semakin besar.

Lebih dari Sekadar Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dan lahan di Fakfak mengingatkan kita bahwa sumber daya alam yang banyak tidak selalu bisa menjaga suatu daerah dari bahaya lingkungan.

Fakfak memiliki perkebunan pala yang menjadi ciri khas daerah tersebut, wilayah hutan yang menjadi tempat tinggal berbagai satwa liar, beberapa pulau dengan masyarakat lokal yang berbeda, serta area pesisir yang menawarkan keindahan laut yang menakjubkan.

Fakfak dan kawasan Papua Barat juga menjadi habitat berbagai satwa khas Papua, termasuk sejumlah jenis mamalia berkantung. Keberadaan hutan menjadi penting bagi satwa-satwa tersebut karena menyediakan tempat berlindung dan mencari makan.

Kanguru pohon bisa ditemukan di beberapa daerah di Papua Barat, seperti Fakfak. Penelitian tentang tempat tinggal dan cara menyebar menunjukkan bahwa hewan-hewan ini tinggal di hutan dan kawasan berpohon, sehingga keadaan lingkungan hidupnya sangat penting untuk tetap hidup mereka.

Oleh karena itu, ketika hutan terbakar, dampaknya tidak hanya berupa hilangnya tutupan lahan; ekosistem, tumbuhan, satwa liar, serta masyarakat setempat juga ikut terkena dampaknya.

Kota Pala yang Layak Dilestarikan

Ada banyak alasan mengapa Fakfak begitu istimewa.

Fakfak memiliki kekayaan yang datang dari berbagai sisi, mulai dari pala sebagai komoditas unggulan, warisan sejarah seperti Masjid Tua Patimburak, hingga nilai Satu Tungku Tiga Batu yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kekayaan alamnya pun tidak kalah menarik, dari Pulau Arguni hingga Air Terjun Kiti Kiti.

Semua ini menunjukkan bahwa Fakfak jauh lebih dari sekedar titik di peta wilayah Papua Barat.

Namun, di balik semua keistimewaan itu, masalah kebakaran hutan dan lahan menyadarkan kita bahwa kekayaan alam harus dijaga. Saat ribuan hektare lahan terbakar, yang dihadapi bukan hanya keindahan alam yang hijau dan segar, tetapi juga kelestarian lingkungan serta kehidupan yang bergantung padanya.

Data terbaru menunjukkan bahwa Fakfak memiliki area yang paling terkena dampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah Papua Barat. Oleh karena itu, upaya mencegah kebakaran, mengawasi aktivitas membuka lahan, serta melindungi kawasan hutan semakin penting.

Fakfak memiliki banyak hal yang patut dibanggakan. Sekarang, tantangannya adalah memastikan kekayaan itu tetap terawat dan bisa dinikmati oleh orang-orang di masa depan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda