News
Ketika Layar Dimatikan, Persahabatan Baru Dimulai: Inspirasi dari Komunitas Lets AFK
Di tengah arus kehidupan yang semakin tidak bisa terpisahkan dengan layar, ada komunitas hadir untuk mengajak orang melakukan hal sederhana: meninggalkan keyboard, beralih dari layar, bertemu orang lain, dan beraktivitas bersama di dunia nyata.
Komunitas tersebut bernama Let's AFK (Away From Keyboard), yang telah berdiri sejak Desember 2024. Komunitas ini didirikan oleh Rachel dan Puspa. Mereka adalah dua teman kuliah yang sama-sama resah ketika memasuki fase dewasa dan disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Salah satu pendiri Let's AFK, Rachel bercerita bahwa dirinya berkeinginan untuk memiliki teman di luar lingkungan pekerjaan. Sementara, Puspa sendiri termasuk orang yang senang melakukan berbagai kegiatan, dan seringnya hanya seorang diri.
"Makanya aku ajak Puspa buat bikin bareng sebuah komunitas di mana orang-orang yang nggak saling kenal jadi saling kenal dan ngelakuin aktivitas bareng," jelasnya, saat ditemui di kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu (6/9).
Dari keresahan itulah yang kemudian melahirkan komunitas Let's AFK. Nama AFK sendiri merupakan istilah yang cukup familier bagi pengguna teknologi dan pemain gim.
Maksud dari AFK adalah seseorang yang sedang tidak berada di depan perangkatnya atau layar monitor. Maka dari itu, Rachel bersama Puspa menganggap istilah tersebut cocok dengan tujuan komunitas mereka, yakni mengajak orang mengurangi waktu di depan layar.
Menariknya, proses memilih nama komunitas ini tidak berlangsung sekejap mata. Rachel membeberkan bahwa mereka membutuhkan sekitar tiga hingga empat jam untuk menentukan nama dari berbagai pilihan yang ada.
Mengingat latar belakang keduanya yang berasal dari jurusan Teknologi Informasi juga memengaruhi pemilihan nama tersebut. Bagi mereka, nama "AFK" terkesan sederhana sekaligus mudah dipahami di kalangan masyarakat digital.
"Gue mau AFK dulu, ya, artinya ya gue mau jauh dulu nih dari HP," kata Rachel saat menjelaskan makna nama komunitas mereka.
Ruang Terbuka Tanpa Syarat Keahlian
Akan tetapi, meninggalkan layar bukan berarti Let's AFK memiliki satu jenis kegiatan tertentu. Sebaliknya, Rachel dan Puspa melihat celah dari banyaknya komunitas yang telah ada sebelumnya.
Komunitas ini dengan sengaja tidak mengasosiasikan diri mereka dengan aktivitas secara spesifik. Mereka bahkan pernah mengadakan berbagai kegiatan, seperti merajut, fotografi, jalan-jalan, hingga menonton film.
Kegiatan yang diadakan ini berbeda-beda agar menonjolkan sisi komunitas mereka yang sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.
Terlebih lagi, Let's AFK tidak menetapkan batasan usia yang ketat bagi anggotanya. Meskipun demikian, peserta yang mengikuti kegiatan mereka mayoritas berada pada rentang usia 22 hingga 35 tahun. Ada kalanya juga mereka mendapati peserta yang berusia sekitar 40 tahun.
Intinya ada satu hal yang selalu dijunjung tinggi oleh komunitas ini adalah konsep kegiatan yang selalu mengutamakan beginner friendly.
Peserta yang ikut tidak ditekan untuk memiliki kemampuan khusus atau telah berpengalaman. Mereka bisa saja mengikuti kegiatan apa pun yang diadakan komunitas hanya untuk bersenang-senang.
Misalnya, seseorang yang ikut kegiatan fotografi, mereka tidak harus mahir menggunakan kamera. Begitu pun saat kegiatan merajut tidak dituntut untuk bisa membuat berbagai macam bentuk kerajinan dari merajut itu.
"Jadi nggak harus jago. Selama kamu mau berkegiatan yang positif, kamu ikut aja AFK," ujarnya.
Tanpa disadari, dari konsep itulah yang menjadikan Let's AFK ini turut andil dalam membantu orang menemukan hobi baru. Mereka berharap seseorang yang sudah lama tidak memiliki hobi dapat mencoba berbagai aktivitas hingga menemukan sesuatu yang ternyata disukainya.
Untuk ikut kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas ini pun beragam. Sekitar 20 hingga 30 persen anggota komunitas ini sering berulang kali turut berpartisipasi dari total 553 orang. Selebihnya didominasi oleh orang-orang baru.
Menyiasati Kebuntuan Ide dan Menjaga Koneksi
Karena memegang konsep open community, seseorang yang pernah sekali pun ikut satu kegiatan akan tetap masuk ke dalam grup komunitas. Namun, grup yang dibuat itu tidak menjadi ruang utama untuk berinteraksi. Balik lagi, tujuan utama mereka adalah untuk tetap berkomunikasi secara langsung.
Selain itu, anggota yang tergabung ternyata dari berbagai daerah, pemilihan lokasi kegiatan turut jadi perhatian tersendiri. Let's AFK biasanya memilih tempat di Jakarta, terutama Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.
Adapun kawasan yang dipilih harus luas dan menampung cukup banyak orang, ekonomis, dan sebisa mungkin terintegrasi oleh transportasi umum.
"Teman-teman yang datang ini dari berbagai daerah. Ada yang dari Karawang, Bekasi, Tangerang. Aku kiranya tuh dari Jakarta doang, ternyata enggak," ungkapnya.
Meskipun konsep dari komunitas ini mengangkat keberagaman kegiatan, ada kalanya mereka menghadapi kendala, yakni kebuntuan ide.
Rachel mengaku bahwa salah satu cara yang dilakukan adalah melihat dan menganalisis kegiatan yang paling diminati peserta. Misalnya, aktivitas jalan-jalan, menjadi salah satu dari banyaknya aktivitas yang cukup banyak disukai.
Di sisi lain, mereka juga mengakalinya dengan mengusung tema yang berbeda-beda walaupun format acaranya serupa. Misalnya, mereka membawa para peserta ini untuk menjelajah Glodok, Cikini, hingga yang terbaru ini adalah di Pecenongan.
"Formatnya agak mirip, tapi topiknya itu kita bedain," bebernya.
Dalam memilih kegiatan juga tidak sepenuhnya bertumpu pada perkiraan. Mereka mempunyai pangkalan data yang digunakan untuk mengkaji minat peserta hingga menentukan kegiatan yang berpotensi besar untuk lebih banyak diminati.
Ternyata punya rincian tersebut tetap tidak menjamin. Pernah ada masa agenda mereka tidak berjalan sesuai rencana. Hal itu bisa dipicu oleh jumlah peserta yang tidak mencapai batas minimum, mengakibatkan acara harus dibatalkan dan biaya itu dikembalikan ke peserta.
"Jadi kegiatan kita tuh sebenarnya ada minimum peserta. Kalau gak nutup, ya, terpaksa kita batalin. Cuma itu terjadi sekitar lima persen," jelasnya.
Menemukan Makna di Luar Layar
Banyaknya peminat yang ikut kegiatan dari komunitas ini, membuat Rachel dan Puspa agak kewalahan. Setelah Januari 2026, mereka menambah anggota inti menjadi lima orang dengan pembagian tugas masing-masing, mulai dari desain, partnership, hingga pengelola media sosial.
Ke depannya, mereka memiliki keinginan untuk mengadakan sebuah acara besar. Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena mereka merasa belum siap untuk menangani kegiatan dengan skala yang lebih besar.
Dengan begitu, tujuan Let's AFK sebenarnya cukup sederhana. Mereka hanya ingin menyediakan ruang bagi orang-orang untuk bertemu, berbicara, mencoba aktivitas baru, sekaligus menikmati waktu tanpa harus terus-terusan terhubung dengan layar.
Bagi mereka, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk benar-benar meninggalkan laptop atau ponsel, karena tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing.
Padahal, dengan meluangkan waktu satu hingga dua jam dalam seminggu atau sebulan untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang tetap jadi yang terpenting.
Sebab, Let's AFK memandang bahwa segala informasi serta pengalaman tidak harus ditemukan melalui internet. Ada perspektif baru yang hanya bisa ditemukan ketika seseorang bertemu, berbicara, tertawa, dan bertukar keluh kesah secara langsung.
Itulah yang membuat komunitas Let's AFK melihat interaksi langsung menjadi hal yang inklusif di tengah maraknya penggunaan teknologi.