News
Kunjungi Suara.com, Mahasiswa UAJY Pelajari Strategi Media dari Disrupsi AI
Yogyakarta — Puluhan mahasiswa semester 5 Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY), mengunjungi kantor Suara Jogja pada Selasa (29/9/2026). Kegiatan bertajuk “Campus Visit” ini bertujuan untuk menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari realitas industri media digital, termasuk perubahan perilaku audiens, disrupsi AI, algoritma, hingga model-model bisnis media.
Kegiatan diawali dengan jajak pendapat yang interaktif mengenai kebiasaan mahasiswa dalam mengakses berita. Dalam sesi tersebut, mayoritas mahasiswa mengaku memperoleh informasi melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan WhatsApp. Sementara itu, hanya satu mahasiswa yang mengakses berita secara langsung melalui situs utama media.
Temuan tersebut secara tidak langsung menjadi pengantar dari materi yang disampaikan oleh Executive Editor Suara.com, Rendy Adrikni Sadikin. Ia menjelaskan bahwa perubahan lanskap media turut mengubah kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang jurnalis.
“Seorang jurnalis yang kawan-kawan pikir mungkin hanya bisa menulis dan meliput, sekarang spektrumnya jauh lebih luas. Tidak hanya menulis, tapi juga networking, meng-handle community, dan bekerja lebih agile,” ujar Rendy dalam pemaparannya.
Menurut Rendy, audiens muda kini cenderung memilih konten yang singkat, visual, dan mudah menyebar melalui platform digital. Ia juga memaparkan data demografi media online nasional berdasarkan data 2023 yang menunjukkan konsentrasi media berita terbesar berada di Pulau Jawa. Papua tercatat memiliki jumlah media di bawah 13 media.
Perubahan perilaku audiens tersebut berjalan bersamaan dengan meningkatnya ketergantungan media terhadap platform teknologi seperti Google dan Meta. Rendy menjelaskan bahwa perubahan algoritma dapat memengaruhi page views media. Kehadiran AI Overview juga membuat pengguna bisa memperoleh rangkuman informasi tanpa mengklik tautan media.
Selanjutnya, Rendy turut mengenalkan fenomena homeless media, yakni suatu keadaan dimana penerbit media yang sepenuhnya menggunakan platform pihak ketiga tanpa memiliki situs web mandiri. Ketergantungan tersebut membuat keberlangsungan operasional media sangat dipengaruhi kebijakan platform.
Materi kemudian berlanjut pada 12 model bisnis media digital, mulai dari display dan programmatic ads, branded content, monetisasi platform, event, social media management, hibah, donasi, subscription, e-commerce dan affiliate, monetisasi komunitas, media agency, hingga unit bisnis di luar media.
“Sejumlah media telah mempraktikkan diversifikasi bisnis. Suara Surabaya mengembangkan monetisasi berbasis komunitas, Solopos memiliki unit kuliner Ayam Lok-Lok, bahkan Metro TV pernah ditopang bisnis katering pertambangan melalui Indocater,” ujar Rendy.
Menurut Rendy, berbagai contoh tersebut menjadi bukti nyata bahwa perusahaan media saat ini sudah mampu mencari sumber pendapatan alternatif di luar aktivitas redaksional utama mereka.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa bernama Evan menyoroti stabilitas model bisnis digital Suara.com di tengah perubahan algoritma. Rendy menjelaskan bahwa page views masih menjadi sumber pendapatan digital terbesar, meski kontribusinya mengalami penurunan.
“Jika kita bicara sumber pendapatan berbasis digital yang paling besar saat ini, jawabannya masih tetap dari Page Views dan Traffic Website,” kata Rendi.
Ia menambahkan bahwa pendapatan digital Suara.com saat ini juga berasal dari direct selling serta monetisasi platform media sosial, khususnya ekosistem Meta.
Mahasiswa lain, Safira, kemudian menanyakan strategi SEO yang digunakan Suara.com. Rendy menjelaskan prosesnya dimulai dari riset keyword dan mind mapping, dilanjutkan kombinasi short-tail dan long-tail keyword. Ia juga menekankan pergeseran menuju penulisan yang human-centric.
“Tulisan harus bermanfaat, relevan, dan nyaman dibaca tanpa terkesan manipulatif,” jelas Rendy.
Kegiatan campus visit ditutup dengan pembahasan mengenai masa depan industri media. Rendy menegaskan bahwa perubahan teknologi tidak berarti berakhirnya jurnalisme. Media dituntut beradaptasi melalui inovasi produk, teknologi, komunitas, serta model bisnis.
“Jurnalisme dan media tidak akan mati, melainkan terus bertransformasi. Peperangan media saat ini tidak hanya pada bagaimana membuat tulisan yang bagus, tetapi juga pada inovasi model bisnis agar kerja-kerja jurnalisme dapat terus bertahan dan independen.” pungkas Rendy.