News
Kisah Ibu Misidah dan Perlawanan Sunyi Petani Karisma di Kulon Progo
Kedaulatan pangan tidak selalu lahir dari program besar. Di Dusun Jogobayan, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo, sekelompok keluarga petani menjalankannya melalui lahan, bibit, pangan lokal, dan pengetahuan yang diwariskan di tingkat komunitas.
Kelompok tersebut bernama “Karisma”, singkatan dari Karya Lestari Mandiri. Kisahnya dibagikan Ketua Kelompok Petani Karisma, Ibu Misidah, dalam pertemuan komunitas pada hari kedua agenda Basic Environmental Training (BET) 2026 yang digelar WALHI Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026).
Karisma bukan Kelompok Tani Wanita (KWT) bentukan pemerintah. Kelompok tersebut tumbuh secara swadaya dengan basis keluarga petani dan anggota yang tersebar di beberapa kecamatan. Anggota aktifnya sekitar 25 orang dan dapat mencapai 70 orang saat pertemuan umum.
“Kelompok Karisma itu Karya Lestari Mandiri. Kami bukan KWT bentukan pemerintah. Kami berjalan secara swadaya, berbasis keluarga, dengan kegiatan yang kami kembangkan bersama untuk mempertahankan pangan dan pertanian,” ujar Ibu Misidah dalam pemaparannya pada BET 2026.
Salah satu pilihan penting Karisma adalah menggunakan istilah Pertanian Lestari, bukan pertanian organik. Menurut Misidah, sertifikasi organik memiliki persyaratan birokratis dan biaya yang sulit dijangkau petani kecil. Penggunaan pembungkus plastik dalam kondisi tertentu bahkan disebut dapat menggugurkan status organik.
Pertanian Lestari Karisma lebih menekankan pemulihan tanah dari residu bahan kimia dan pestisida sintetis. Proses tersebut tidak berlangsung singkat. Lahan membutuhkan masa transisi sedikitnya tiga tahun sebelum kembali mencapai kondisi yang dianggap lestari.
"Hasil pertanian itu memiliki harga yang beda-beda. Kangkung lestari dijual sekitar Rp5.000 per ikat, sementara kangkung yang ditanam secara biasa berada pada kisaran Rp2.000 sampai Rp2.500. Sedangkan untuk beras lokal seperti Rojo Lele, Mentik Wangi, dan Mentik Susu dihargai Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram," ujar Misidah.
Beras hitam dan beras merah lestari berada pada kisaran Rp25.000-30.000 per kilogram. Misidah menyebut beras tersebut memiliki rasa gurih dan nasi yang tidak cepat basi. Bagi Karisma, harga menjadi cerminan proses panjang menjaga tanah dan kualitas pangan.
Kemandirian juga dibangun melalui diversifikasi. Singkong diolah menjadi gaplek dan tiwul sebagai cadangan pangan, sementara gadung dan koro tunggal diolah melalui proses tradisional agar aman dikonsumsi. Kelompok juga memproduksi minyak kelapa murni atau VCO.
Untuk peternakan, Karisma memanfaatkan ramuan dari daun pepaya, kunyit, lempuyang, dan bawang putih sebagai jamu alami bagi kambing dan unggas. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari strategi keluarga tani dalam memenuhi kebutuhan pangan dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia.
“Kami mempertahankan pangan dari kelebihan produksi keluarga. Hasil pertanian dijual setelah kebutuhan konsumsi keluarga terpenuhi sepenuhnya. Jadi pangan keluarga menjadi yang utama,” kata Misidah.
Kegiatan ekonomi kelompok turut diperkuat melalui koperasi. Setiap anggota membayar simpanan pokok Rp10.000 dan simpanan wajib Rp2.000 per bulan. Dana tersebut dapat digunakan untuk membantu pembiayaan pendidikan sekolah maupun kuliah anak anggota.
Karisma juga mengelola Angkringan Karisma setiap Sabtu di Jogobayan. Sebanyak 10 persen hasil penjualan masuk ke kas kelompok untuk kegiatan sosial dan rekreasi bersama.
"Sekarang ini, jujur saja, regenerasi petani itu jadi tantangan berat buat kami. Apalagi sejak ada Kurikulum Merdeka, anak-anak sekolahnya sampai sore, jadi waktu atau ruang buat mereka mengenal dunia pertanian itu berkurang drastis. Ditambah lagi, materi pertanian di sekolah juga sudah hilang. Ini yang bikin generasi muda makin jauh dari tradisi agraria kita," kata Misidah.
Kelompok swadaya seperti Karisma juga pernah menghadapi kecurigaan dan pengawasan aparat saat mengadakan pertemuan maupun pelatihan bersama mahasiswa. Kondisi tersebut tidak menghentikan mereka membagikan bibit secara mandiri dan mengedukasi masyarakat sekitar.
Bagi Karisma, kedaulatan pangan akhirnya bukan sekadar kemampuan menghasilkan komoditas. Ia dimulai dari kemampuan keluarga petani menentukan pangan yang dikonsumsi, mengelola tanah sendiri, mempertahankan pengetahuan lokal, dan menjual hasil bumi setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi.