News
Soroti Pendidikan, Ugoran Sebut Aksi Kamisan Kini Jadi Kampus Rakyat
Komersialisasi pendidikan tinggi dinilai turut menggeser fungsi kampus sebagai ruang pembentukan pemikiran kritis. Pandangan itu muncul dalam diskusi “Berbincang 1: Aksi Kamisan, Penantian Tanpa Ujung” pada Jogja Art Book Fest (JABFest) 2026 di The Ratan, Yogyakarta, Senin (5/10/2026).
Diskusi yang berlangsung pukul 15.00 WIB tersebut menghadirkan inisiator Aksi Kamisan Maria Katarina Sumarsih, pendiri Social Movement Institute Eko Prasetyo, serta aktivis kultural dan vokalis Majelis Lidah Berduri, Ugoran Prasad. Ketiganya membahas ingatan, kesenian, pendidikan politik, serta keberlanjutan gerakan masyarakat sipil.
Ugoran yang pernah menempuh studi Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM melihat perubahan besar dalam ekosistem perguruan tinggi. Menurutnya, kampus negeri semakin jauh dari fungsi politik yang pernah dimainkan mahasiswa pada masa menjelang Reformasi 1998.
“Kampus-kampus negeri saat ini telah dipotong kakinya. Perguruan tinggi berubah menjadi lembaga neoliberal tempat mahasiswa diperlakukan sekadar sebagai customer yang membayar uang kuliah mahal dan dituntut lulus cepat,” kata Ugoran dalam pemaparannya pada diskusi tersebut.
Ia menilai percepatan masa studi mahasiswa turut mengubah pola reproduksi pengetahuan di lingkungan kampus. Pada masa sebelumnya, kata Ugoran, pergantian generasi mahasiswa dapat berlangsung lebih panjang sehingga memungkinkan pengetahuan politik dan pengalaman gerakan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pergantian generasi mahasiswa yang dulunya berlangsung 7–8 tahun, era mahasiswa abadi, kini dipercepat menjadi 3–4 tahun. Siklus yang cepat ini memutus arus transfer pengetahuan kritis dan ingatan sejarah di dalam kampus,” ujarnya.
Menurut Ugoran, perubahan tersebut juga terlihat pada kampus yang pernah menjadi bagian penting dari gerakan menjelang runtuhnya Orde Baru. Ia menyebut UGM, UI, dan ITB sebagai contoh perguruan tinggi yang pernah menjadi pusat perlawanan rakyat.
“Kampus seperti UGM, UI, dan ITB yang di akhir Orde Baru menjadi pusat perlawanan rakyat, kini bertransformasi menjadi alat kekuasaan,” katanya.
Di tengah perubahan tersebut, Ugoran melihat Aksi Kamisan berkembang melampaui bentuk demonstrasi konvensional. Aksi yang berlangsung hampir dua dekade itu dinilainya telah menjadi ruang pendidikan politik alternatif bagi berbagai generasi.
“Namun di saat perguruan tinggi dikunci dan dilumpuhkan, kita bersyukur masih memiliki ‘kampus-kampus rakyat’ seperti Aksi Kamisan,” ujar Ugoran.
Ia menyebut Aksi Kamisan telah mempertemukan aktivis, peneliti, pekerja seni, serta pendamping lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan dan HAM. Dari ruang tersebut, pengetahuan gerakan terus berpindah melalui perjumpaan antargenerasi.
“Selama hampir 20 tahun berjalan, Aksi Kamisan telah meluluskan 3 hingga 4 generasi aktivis, peneliti, pekerja seni, dan pendamping LSM lingkungan/HAM di seluruh Indonesia,” katanya.
Pandangan serupa mengenai Aksi Kamisan sebagai ruang belajar juga disampaikan Maria Katarina Sumarsih. Ia mengatakan Aksi Kamisan di Jakarta kini menjadi ruang belajar publik yang didatangi pelajar, mahasiswa, hingga peneliti.
“Anak-anak sekolah SMA/SMK, mahasiswa yang menyusun skripsi, tesis, disertasi, hingga peneliti internasional hadir di sana,” kata Sumarsih.
Sementara itu, Eko Prasetyo menilai pendidikan politik juga dapat berlangsung melalui literasi dan okupasi ruang publik. Menurutnya, kreativitas diperlukan agar gerakan sosial tidak mudah dipatahkan oleh represi.
“Kita harus bersiasat dan melakukan manuver politik yang cerdas, kreatif, dan menyenangkan. Tidak selalu harus terjebak dalam caci-maki retoris atau aksi kekerasan fisik yang mudah dipukuli aparat,” ujar Eko.
Bagi Ugoran, keberlanjutan Aksi Kamisan menunjukkan bahwa pendidikan kritis tidak sepenuhnya bergantung pada ruang kelas. Ketika ruang formal menyempit, pengetahuan gerakan dapat tumbuh melalui ruang publik yang dirawat secara kolektif.
“Di saat kampus-kampus formal dilumpuhkan oleh neoliberalisme, Aksi Kamisan hadir sebagai ‘kampus rakyat’ yang meluluskan generasi kritis dan merawat kekuatan simbolik perlawanan,” kata Ugoran.