News
Seni Perlawanan di JABFest 2026: Lomba Mewarnai Jadi Cara Lawan Impunitas
Jogja Art Book Fest (JABFest) 2026 membahas seni sebagai medium perlawanan terhadap impunitas melalui sesi “Aksi Kamisan, Penantian Tanpa Ujung” di The Ratan, Yogyakarta, Senin (5/10/2026). Diskusi tersebut menghadirkan Maria Katarina Sumarsih, Eko Prasetyo, dan Ugoran Prasad untuk membicarakan sejarah, strategi, serta keteguhan gerakan Aksi Kamisan.
Pendiri Social Movement Institute (SMI), Eko Prasetyo, menilai gerakan menghadapi represi negara membutuhkan taktik yang melampaui teriakan dan pernyataan sikap. Menurutnya, perlawanan perlu memanfaatkan kreativitas, literasi, serta okupasi ruang publik agar pesan politik dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Otoriterisme tidak bisa dilawan hanya dengan teriakan dan pernyataan sikap. Ia harus dilawan dengan ketangguhan yang berakar pada energi cinta dan empati kepada korban di tengah infrastruktur impunitas,” kata Eko dalam diskusi tersebut.
Salah satu bentuk strategi itu dilakukan Aksi Kamisan Jogja melalui okupasi ruang publik. Eko mengatakan gerakan tersebut pernah berpindah dari Titik Nol Kilometer, Bundaran UGM, hingga akhirnya bertahan di Tugu Yogyakarta selama bertahun-tahun. Ruang yang identik dengan simbol kota itu kemudian digunakan sebagai ruang politik sekaligus artistik.
“Kami juga pernah mengokupasi kawasan wisata Malioboro dengan memasang 5 instalasi seni tentang Munir selama 3 hari,” ujar Eko.
Strategi yang lebih unik dilakukan melalui lomba mewarnai gambar Munir untuk anak-anak TK. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan kehadiran guru dan orang tua, serta pertunjukan sulap bertema keadilan.
“Bahkan kami membuat Lomba Mewarnai Gambar Munir untuk anak-anak TK! Anak TK diajak mewarnai gambar Munir, mendatangkan ibu guru, orang tua, hingga membuat badut berwajah Munir dan pertunjukan sulap bertema keadilan,” kata Eko.
Menurut Eko, format kegiatan semacam itu membuat pesan perlawanan masuk melalui jalur kebudayaan dan literasi. Ia menilai aparat atau pemerintah akan kesulitan mencari alasan untuk membubarkan kegiatan yang dikemas sebagai aktivitas anak-anak.
“Hasilnya, aparat atau pemerintah tidak punya alasan untuk melarang kegiatan anak-anak TK tersebut,” lanjutnya.
Sementara itu, inisiator Aksi Kamisan, Maria Katarina Sumarsih, menjelaskan simbol visual gerakan tersebut melalui pakaian dan payung hitam. Bagi ibu dari Bernardinus Realino Norma Irawan atau Wawan, korban Tragedi Semanggi I, warna hitam memiliki makna keteguhan dalam mempertahankan perjuangan.
“Hitam bukan lambang duka cita, tetapi lambang keteguhan di dalam mencintai,” ujar Sumarsih.
Ia mengatakan perjuangan Aksi Kamisan berangkat dari cita-cita reformasi, terutama penegakan hukum atas pelanggaran HAM berat. Tuntutan tersebut, menurut Sumarsih, berpijak pada UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
Sumarsih juga menyinggung janji Presiden BJ Habibie pada 16 November 1998 untuk mengusut penembakan mahasiswa dalam Tragedi Semanggi. Karena proses pertanggungjawaban hukum belum tuntas, payung hitam terus digunakan sebagai pengingat atas penantian tersebut.
Bagi Eko, ketahanan Aksi Kamisan menunjukkan bahwa perlawanan dapat dirawat melalui strategi yang kreatif dan konsisten. “Kita harus bersiasat dan melakukan manuver politik yang cerdas, kreatif, dan menyenangkan,” katanya.
Di tengah represi, strategi tersebut membuat ruang seni, literasi, dan aktivitas warga menjadi bagian dari perjuangan mengawal ingatan publik terhadap kasus pelanggaran HAM.