News

Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?

Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
Ilustrasi orek tempe (Youtube/wan noor)

Ada yang pernah makan orek tempe? Ah, atau mungkin familiar dengan nama kering tempe?

Menurut KBBI, tempe merupakan makanan lauk nasi yang terbuat dari kedelai yang difermentasi dengan ragi. Dalam lini kehidupan masyarakat, tempe banyak diolah menjadi aneka sajian. Mulai dari tempe goreng, tempe goreng tepung, sambal tempe, sambal tumpang yang memanfaatkan tempe semangit, sampai orek tempe. Pertanyaannya, masihkah worth it orek tempe in this economy?

Rasa dan Ketahanan Pangan yang Terus Abadi

Orek tempe rupanya dibagi menjadi dua tipe yakni tipe basah dan tipe kering alias kering tempe. Tipe basah seringnya memiliki sedikit kuah dengan tekstur tempe yang empuk dan juicy. Sedangkan tipe kering lebih menonjolkan tekstur kriuk tanpa kuah, dengan gula yang hampir mengkaramel tempe. Walau ada juga variasi pedas, dengan nama sambel goreng tempe sebagaimana di daerah saya ya.

Kendati menu ini banyak disajikan di warteg dan warung makan, eksistensinya lebih melekat pada nasi uduk dan nasi kuning. Meski begitu, orek tempe tetap nikmat disantap bahkan dengan nasi sekalipun karena citarasa asam, manis, dan gurih yang bersahaja. Kuliner ini sendiri sudah lama dikenal masyarakat, bahkan di-recook berkali-kali baik sebagai gaya hidup sehari-hari sampai bahan konten media sosial. Soal rasa, saya setuju dengan tipe kering maupun basah sih.

Harga Bahan Ekonomis, Proses Masak Nggak Sadis

Orek tempe sejatinya berbahan baku tempe, yang harganya murah dan banyak ditemui di pasaran entah tukang sayur, pasar induk, sampai toko kelontong. Di kawasan rumah saya pun penjual tempe ada lebih dari satu dengan branding masing-masing yang khas. Mulai dari produksi rumahan tempe bungkus daun, penjual keliling dengan sepeda dan ring belnya, penjaja keliling dengan motor bebek dan klaksonnya, hingga penjual keliling yang memanfaatkan speaker.

Harga sepapan tempe pun dibanderol mulai dari kisaran Rp 2000 - Rp 4000 saja. Sedangkan tempe versi bungkus daun berukuran 10 x 3 cm dibanderol mulai dari Rp 500 - Rp 1000.

Dari sisi bumbu, menu ini juga nggak susah-susah amat. Bumbu yang dibutuhkan adalah bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kecap manis, gula merah, garam, penyedap rasa, dan air asam jawa. Meski begitu, saya pribadi sering skip air asam dan menggantinya dengan air biasa ketika stok asam habis.

Memasak orek tempe pun nggak membutuhkan waktu lama. Mungkin part agak membosankannya ada pada memotongi tempe menjadi bentuk dadu atau batang sih. Selebihnya tinggal sat set dan jadi.

Worth It Nggak Sih In This Economy?

Bagi saya, orek tempe adalah lauk simpel, murah, dan terasa mantap sebagai teman makan nasi. Terutama in this economy ketika gaji masih stagnan ketika harga kebutuhan naik. Disklaimer, saya nggak tahu berapa harga menu ini di warung makan atau warteg karena belum pernah beli, tetapi pernah membantu Emak memasak.

Selain enak dan mudah membuatnya, orek tempe adalah menu hemat, dan masih memiliki kandungan protein nabati. PR-nya mungkin adalah pemakaian kecap manis dan gula yang bisa disesuaikan masing-masing ya.

Dalam kondisi yang nggak pasti dan nuansa ekonomi yang nyaris bikin gila, berhemat dan mencari side hustle memang perlu. Selain itu, diperlukan juga pengelolaan keuangan, termasuk memperhatikan menu-menu harian. Nggak masalah kok kalau harus skip ayam dan daging sapi dan beralih ke protein nabati yang lebih ramah kantong. Termasuk menu orek tempe yang tetap terasa worth it, baik sebagai teman makan nasi, ataupun versi hemat gaji. So, gimana menurut kawan-kawan?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda