News
Solusi Disrupsi AI, UGM dan Uni Eropa Dorong Kolaborasi di EHEF 2026
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Cara belajar, mengerjakan tugas, melakukan penelitian, hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja kini menghadapi perubahan yang semakin cepat. Kondisi ini mendorong institusi pendidikan untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar generasi muda mampu menghadapi tantangan teknologi.
Persoalan tersebut turut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan European Higher Education Fair (EHEF) 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (4/11/2026). UGM dan Delegasi Uni Eropa menilai kolaborasi internasional menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tengah perubahan global.
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wening Udasmoro, menegaskan institusi pendidikan perlu meninggalkan pola pembelajaran yang berjalan tanpa perubahan. Menurutnya, perkembangan zaman menuntut peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
“Pendidikan tidak boleh berada dalam posisi business as usual. Yang sangat penting adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas secara maksimal. Kolaborasi internasional menjadi kunci utama bagi seluruh institusi pendidikan, tidak hanya perguruan tinggi tetapi juga jenjang SMA. Sekolah Menengah Atas harus mulai membangun jaringan internasional agar terjadi pertukaran pengalaman dan pengetahuan demi meningkatkan mutu pendidikan,” kata Wening.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembenahan pendidikan perlu dimulai dari berbagai jenjang. Pertukaran pengalaman dan pengetahuan melalui kerja sama lintas negara diharapkan dapat memperluas perspektif institusi pendidikan dalam merespons perubahan teknologi.
Pandangan serupa disampaikan Chargé d'Affaires Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Marco Bonetti. Menurutnya, perkembangan teknologi dan AI membuat masa depan pendidikan semakin sulit diprediksi. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk memahami perubahan sekaligus merumuskan solusi.
“Kita hidup di era perubahan besar yang sangat cepat, terutama dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Sulit memprediksi secara pasti kondisi di masa depan, tetapi tujuan utama pameran ini adalah membekali generasi muda agar dapat beradaptasi dengan perubahan, mengajukan pertanyaan kritis, serta menemukan solusi bersama. Eropa dan Indonesia menghadapi tantangan global yang serupa, dan kolaborasi adalah kuncinya,” ujar Marco.
Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi perkembangan AI. Teknologi dapat membantu proses pencarian informasi dan pengerjaan berbagai tugas, tetapi generasi muda tetap membutuhkan kemampuan untuk mempertanyakan informasi, menilai hasil, serta memahami persoalan secara mendalam.
Dalam konteks tersebut, EHEF 2026 menjadi salah satu ruang pertemuan bagi institusi pendidikan Indonesia dan Eropa. Pameran edisi ke-18 ini menghadirkan 90 institusi pendidikan tinggi Eropa, dengan 69 institusi membuka stan di Yogyakarta.
Melalui pameran tersebut, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dapat bertemu langsung dengan perwakilan universitas untuk memperoleh informasi mengenai program studi, peluang beasiswa, kehidupan akademik, hingga pengalaman belajar di Eropa. Pertemuan ini juga membuka ruang komunikasi dan penjajakan kerja sama pendidikan lintas negara.
Sementara itu, Kepala DPMPTSP DIY yang mewakili Pemerintah Daerah DIY, Ghofar Ismail, mengingatkan bahwa pengalaman pendidikan internasional perlu diarahkan pada kepentingan masyarakat. Menurutnya, wawasan global tetap perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap identitas dan lingkungan asal.
“Jelajahilah dunia dengan keberanian intelektual. Manfaatkan pengalaman internasional untuk memperluas wawasan tanpa pernah kehilangan identitas dan karakter diri sebagai wong Jogja dan bangsa Indonesia. Sebab tolok ukur tertinggi dari pendidikan bukan seberapa jauh Anda bepergian menuntut ilmu, melainkan seberapa dalam ilmu tersebut bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat,” ujar Ghofar.
Pandangan tersebut memberikan penekanan bahwa pendidikan perlu menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan bersama. Pengalaman internasional dapat memperluas cakrawala berpikir, sementara pemahaman terhadap persoalan lokal menjadi bekal untuk menerapkan pengetahuan tersebut.
Di tengah disrupsi AI, dunia pendidikan menghadapi kebutuhan untuk terus beradaptasi. Penguatan kemampuan berpikir kritis, peningkatan kualitas pembelajaran, serta kolaborasi internasional menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan. Tantangannya adalah memastikan perkembangan teknologi ikut mendorong kemajuan pendidikan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.