Ulasan
'Orang-Orang Tanah': Kumpulan Cerpen Mencekam tentang Dendam dan Pembalasan
Siapa sangka buku yang memiliki sampul cukup cerah dengan ilustasi seorang anak kecil sedang berdiri di tengah angin, dengan keranjang buah di tangannya ini, ternyata berisi kumpulan cerita yang cukup menyeramkan dan menegangkan.
Identitas Buku
Judul Buku: Orang-Orang Tanah
Penulis: Poppy D. Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 200 Halaman
BACA JUGA: Buku 'Melihat Lebih Dalam', Upaya Mengenali Hakikat Diri
Sinposis Buku
'Dalam ‘Orang-Orang Tanah’, seorang gadis kecil akan melakukan apa saja untuk merebut kembali kasih sayang ayahnya, dan dia mendapatkan bantuan dari sumber yang tidak terduga.
Dalam ‘Bulan Merah’, hanya hewan, makhluk setengah hewan, yang mampu meraba terjadinya bencana dan menghindar. Namun, kali ini tidak ada makhluk hidup yang akan selamat.
Dalam ‘Pelarian’, Lara siap mengabdi kepada orang yang memberinya kehidupan, sampai ibu kandungnya mengungkapkan hal yang akan membuat Lara mempertanyakan pilihannya selama ini.
Ulasan Buku
Kumpulan cerpen yang terdiri dari sembilan cerita berbeda ini lumayan memberikan kesan ‘dark’. Berikut adalah judul-judul cerpen yang terdapat pada buku ini.
- Jendela
- Pelarian
- Pondok Paling Ujung
- Bulan Merah
- Dewa Kematian
- Pintu Kembali
- Lelaki Tua dan Tikus
- Sang Penyihir
- Orang-Orang Tanah
Cerita dalam buku ini dibuka dengan kisah tentang sebuah jendela dan seorang anak serta seorang ibu yang disiksa oleh seorang laki-laki. Mereka dikurung di ruangan pengap, dan hanya jendela satu-satunya sumber cahaya.
Cerpen pertama ini mungkin tidak semenegangkan cerita lainnya, tetapi tetap mengandung pesan tersendiri yang bisa diinterpretasikan masing-masing oleh para pembaca.
BACA JUGA: Buku 'Islam dan Hubungan Antar Agama', Pentingnya Hidup dalam Kedamaian
Cerita-cerita lainnya, di mulai dari cerpen kedua, suasana mulai terasa berubah dan lebih mencekam. ‘Pelarian’ dan ‘Pondok Paling Ujung’ menghadirkan sebuah cerpen yang cukup menyeramkan. Pelarian bercerita tentang seorang anak keturunan setengah manusia dan setengah dewa, yang mampu menyelam di dalam air dan bernapas dengan insang.
‘Pondok Paling Ujung’ bercerita tentang sebuah pondok yang terletak di tempat terpencil, dan memendam sebuah rahasia mengerikan di bawah lantainya.
Cerita-cerita lainnya tidak kalah seram. Lumayan menantang untuk dibaca ketika malam dan seorang diri.
Salah satu cerpen yang paling aku sukai sebagai pembaca adalah cerpen yang berjudul ‘Lelaki Tua dan Tikus’. Bisa dibilang ini adalah cerita fantasi, tapi tetap saja berhasil membuat bulu kuduk merinding.
Cerita pamungkas dan menjadi judul dari kumpulan cerpen ini diletakkan di akhir. Sepertinya memang disengaja meletakkan cerita utama di akhir, sebagai penutup kumpulan cerpen ini. Cerpen berjudul ‘Orang-Orang Tanah’ merupakan salah satu cerpen yang lebih ‘mengerikan’ daripada cerpen lainnya yang ada di buku ini.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS