Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Alasan Bertahan di Balik Depresi

Lintang Siltya Utami | Moh. Taufiq Hidayat
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Alasan Bertahan di Balik Depresi
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. (instagram.com/brian.khrisna)

Kita kerap mendengar berita mengenai seseorang yang memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri hidupnya. Namun, sayangnya, kita jarang benar-benar ingin memahami alasan menyedihkan di balik pilihan yang drastis itu. Melalui buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Brian Khrisna mengajak kita untuk menjelajahi sisi gelap kehidupan seorang pria bernama Ale. Buku ini bukan hanya sekadar kisah tentang depresi, tetapi juga merupakan sebuah perjalanan emosional yang hangat, autentik, dan sangat mendalam.

Sinopsis: Rencana Kematian yang Tertunda

Ale adalah seorang pria berusia 37 tahun dengan tubuh gempal dan kulit hitam yang sering kali menjadi bahan olok-olok. Pengalaman buruk di masa kecil dan tekanan dari sekitar yang mengharuskannya untuk selalu terlihat "bahagia" tanpa kesempatan untuk merasakan kesedihan, pada akhirnya membawanya pada diagnosis depresi berat. Merasa hidupnya tidak lagi berarti, Ale mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, Ale memiliki satu keinginan sebelum pergi: ia ingin menikmati semangkuk mie ayam kesukaannya sebelum meninggal. Tak terduga, rencana tersebut gagal total karena kedai mie ayam yang biasa ia datangi sudah tutup setelah pemiliknya meninggal. Kegagalan ini justru menjadi permulaan dari petualangan yang tidak terduga. Ale bertemu dengan berbagai karakter menarik, mulai dari Murad si pengedar narkoba, hingga Mami Louisse yang tegas namun menyimpan luka di hatinya. Pertemuan-pertemuan singkat ini perlahan-lahan mulai mengurangi rasa putus asa Ale dan mengubah pandangannya tentang arti "bertahan".

Kelebihan dan Kekurangan

Bagi saya, hal paling menonjol dari buku ini adalah kemampuannya menyampaikan pandangan filosofis melalui percakapan yang sederhana dan tidak menggurui. Salah satu momen yang paling mengesankan adalah saat Ale berjumpa dengan Pak Uju, seorang penjual layangan. Perumpamaan hidup yang diilustrasikan seperti layangan—yang memerlukan angin kencang untuk bisa terbang tinggi—sangat mengena dan relevan. Demikian pula, pertemuannya dengan Pak Jipren, seorang tunanetra, mengingatkan Ale bahwa terkadang kita perlu menutup mata untuk benar-benar "melihat" dunia dengan perasaan kita.

Gaya penulisan Brian Khrisna yang langsung dan tanpa drama yang berlebihan membuat perasaan internal Ale terlihat sangat alami. Setiap karakter yang ditemui Ale berperan penting dalam perkembangan karakternya, sehingga pembaca merasakan empati yang mendalam. Buku ini sukses menyentuh tema kesehatan mental dengan cara yang mudah dipahami, mengingatkan kita bahwa terkadang yang diperlukan seseorang lebih dari sekadar ungkapan motivasional yang biasa, melainkan pengertian dan perhatian tulus agar diakui sebagai manusia.

Mengenai kelemahannya, mungkin bagi sebagian pembaca yang menginginkan alur cerita yang mendebarkan atau konflik yang dramatis, buku ini bisa terasa terlalu santai sebab lebih menekankan pada dialog dan refleksi. Namun, justru di situlah kekuatannya; kesederhanaan alur ceritanya membuat pesan moral yang ada tersampaikan dengan lebih jelas dan langsung kepada pembaca.

Pada akhirnya, buku ini mengundang kita untuk merenungkan kembali: apakah kematian benar-benar jawaban untuk semua masalah dalam hidup? Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati mengingatkan kita bahwa kehidupan bukan hanya tentang besar kecilnya masalah, tetapi tentang keberanian untuk terus mencari alasan untuk terus hidup—seperti keinginan untuk menikmati seporsi mie ayam di hari berikutnya. Buku ini sangat disarankan untuk siapa saja yang merasa lelah, kehilangan arah, atau hanya ingin menemukan kembali rasa hangat di tengah kerasnya dunia. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beritahu!.

Identitas Buku:

  • Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penerbit: Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia)
  • Tahun Terbit: 2025
  • Jumlah Halaman: 216 halaman
  • Bahasa: Indonesia
  • Subjek: Fiksi Indonesia / Novel / Kesehatan Mental

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak