Ulasan
Review Film Memoria: Tutorial Bingung Secara Estetik Bareng Tilda Swinton
Film Memoria adalah karya terbaru dari sutradara Thailand, Apichatpong Weerasethakul, yang dikenal dengan gaya sinematiknya yang lambat dan meditatif. Dirilis pada 2021, film ini menandai debut Weerasethakul dalam bahasa Inggris dan Spanyol, dengan Tilda Swinton sebagai pemeran utama.
Memoria adalah perpaduan antara drama misteri, elemen sci-fi, dan eksplorasi filosofis tentang memori, suara, dan hubungan manusia dengan alam. Dengan durasi 136 menit, film ini bukan untuk penonton yang mencari plot cepat atau aksi intens, melainkan pengalaman sensorik yang mendalam. Diproduksi oleh berbagai perusahaan internasional seperti Kick the Machine dan Neon, film ini memenangkan Jury Prize di Festival Film Cannes 2021, di mana ia premiere pada 15 Juli 2021.
Pertemuan dengan Insinyur Suara di Bogota

Sinopsis film ini berpusat pada Jessica Holland (Tilda Swinton), seorang wanita Skotlandia yang tinggal di Kolombia sebagai petani anggrek. Suatu pagi, ia terbangun oleh suara bang keras yang misterius, yang hanya ia dengar. Suara ini mengganggu tidurnya dan mendorongnya untuk mencari asal-usulnya. Jessica mengunjungi saudarinya yang sakit di rumah sakit Bogota, di mana ia melihat proyek penggalian terowongan. Ia kemudian bertemu dengan insinyur suara bernama Hernan untuk merekonstruksi suara tersebut. Akan tetapi, perjalanan ini membawa Jessica ke pertemuan tak terduga dengan Hernan lain di pedesaan, di mana mereka berbagi memori yang saling terkait. Plot berakhir dengan wahyu sci-fi yang mengejutkan, melibatkan pesawat luar angkasa dan gempa bumi yang membantu penggalian. Tanpa spoiler lebih lanjut, cerita ini lebih tentang perjalanan internal daripada resolusi konvensional.
Gaya penyutradaraan Weerasethakul adalah ciri khas slow cinema, di mana adegan panjang tanpa dialog mendominasi. Kamera sering statis, menangkap suara alam seperti angin, hujan, atau suara kota Bogota dengan detail yang hipnotis. Suara bang itu sendiri menjadi elemen sentral, diciptakan oleh desainer suara Akritchalerm Kalayanamitr, yang membuatku merasakan ketegangan sensorik. Weerasethakul menggunakan Kolombia sebagai latar untuk mengeksplorasi tema kolonialisme, sejarah kekerasan, dan koneksi manusia dengan bumi. Elemen mistis, seperti dalam film-film sebelumnya seperti Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010), muncul melalui mimpi dan memori kolektif. Kurasa film ini adalah meditasi tentang waktu yang berhenti, di mana tempo lambat memperlambat detak jantung penonton yang ada di bioskop.
Review Film Memoria

Performa Tilda Swinton luar biasa. Dengan tatapan bingung dan gerak tubuh minimalis, ia menyampaikan kebingungan Jessica tanpa kata-kata berlebih. Swinton, yang juga produser, membawa kedalaman emosional yang membuat karakter terasa nyata di tengah narasi abstrak. Pemeran pendukung seperti Jeanne Balibar sebagai Agnes (arkeolog), Daniel Giménez Cacho sebagai Hernan, dan Elkin Diaz sebagai Hernan kedua, menambah lapisan. Balibar membawa nuansa intelektual, sementara Diaz memberikan kontras pedesaan yang tenang. Chemistry antara Swinton dan Diaz di adegan panjang di sungai adalah puncak film, di mana dialog tentang memori dan tidur terasa seperti terapi filosofis.
Secara teknis, sinematografi oleh Sayombhu Mukdeeprom menakjubkan. Gambar hutan Kolombia, galeri seni yang suram, dan anjing liar yang mengintai menciptakan suasana haunting. Editing oleh Lee Chatametikool mempertahankan ritme lambat, membuat setiap detik terasa penting. Musik minimalis, lebih banyak suara ambien daripada skor, memperkuat pengalaman imersif. Film ini seperti trance, di mana menontonnya seperti meditasi atau mimpi yang samar. Namun, ini bisa mengecewakan bagi yang tidak sabar; beberapa kritikus menyebutnya underwhelming karena kurangnya plot linear.
Menurutku ini adalah karya terbaik Weerasethakul yang berani. Film ini masuk daftar terbaik 2022 oleh Jonathan Rosenbaum dan peringkat 11 di "100 Best Movies of the 2020s" oleh IndieWire pada 2025. Ia memenangkan Gold Hugo di Chicago International Film Festival dan dinominasikan untuk Film of the Year di London Film Critics Circle Awards. Box office mencapai $588.713, dengan strategi rilis unik di AS: tayang di satu bioskop saja per kota, dimulai dari New York dan Chicago pada Desember 2021, kemudian diperluas pada April 2022.
Untuk Indonesia, Memoria pertama kali tayang sebagai premiere di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada 1 Desember 2021. Tetapi, tayang di bioskop umum mulai tanggal 7 Maret 2026 sebagai special screening limited theatrical. Ini adalah kesempatan langka bagi penonton Indonesia untuk merasakan film ini di layar lebar, mengingat distribusi globalnya yang terbatas. Di Thailand, negara asal sutradara, ia tayang pada 3 Maret (kemungkinan 2022), tetapi di Indonesia, penayangan 2026 ini menandai akses lebih luas.
Secara keseluruhan, Memoria adalah masterpiece bagi pencinta sinema arthouse. Ia menantang konvensi naratif, mengajak penonton merenungkan suara, memori, dan eksistensi. Kalau kamu suka film seperti Stalker karya Tarkovsky atau Syndromes and a Century karya Weerasethakul sendiri, ini wajib tonton. Tetapi bagi yang mencari hiburan ringan, mungkin terasa membosankan. Pengalaman terbaik adalah di bioskop dengan suara surround, di mana suara bang itu benar-benar menggetarkan. Dengan elemen misteri dan akhir yang mind-bending, film ini meninggalkan kesan abadi, seperti mimpi yang tak terlupakan. Rating pribadi dariku: 9/10.