Novel 23:59: Saat Patah Hati Harus Berdamai dengan Jawaban

Lintang Siltya Utami | Moh. Taufiq Hidayat
Novel 23:59: Saat Patah Hati Harus Berdamai dengan Jawaban
Sebuah novel 23:59 karya Brian Khrisna. (x.com/briankhrisna)

Brian Khrisna kembali mempersembahkan karya yang akan menggugah perasaan pembaca lewat novel berjudul 23:59. Menurut saya, tema yang diangkat dalam buku ini cukup sederhana tetapi memiliki makna yang luas, yaitu mengenai patah hati dan tantangan untuk memaafkan masa lalu. Tentu saja, banyak pembaca yang akan merasakan hubungan emosional dengan perubahan perasaan yang dialami oleh karakter-karakter di dalamnya.

Antara Jawaban yang Hilang dan Kehadiran yang Baru

Novel ini mengisahkan tentang Ami, seorang wanita yang merasa segala sesuatunya hancur setelah hubungannya dengan Raga berakhir. Terbayang, hubungan yang telah bertahan selama dua tahun harus sirna tanpa penjelasan yang jelas. Keputusan mendadak dari Raga membuat Ami merasa terpuruk dan tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Dia telah menangis tak terhitung jumlahnya, bahkan pernah terlintas dalam pikirannya untuk mengakhiri hidupnya. Namun, beruntung ia memiliki keluarga dan teman-teman yang selalu melindunginya dari segala hal yang buruk.

Demi mencoba bangkit dari kesedihan, Ami berusaha membuka hati untuk Aransyah yang menjadi pacar barunya. Namun, sosok Raga ternyata masih menghantuinya. Meskipun Ami sering memperlihatkan sikap yang dingin, Aransyah dengan sabar tetap bertahan di sampingnya. Di sisi lain, terdapat Athif, sahabat Raga yang sebenarnya mengetahui alasan di balik kepergian Raga. Namun, Athif memilih untuk tetap diam meski Ami telah meminta penjelasan darinya berulang kali.

Klimaks cerita terjadi dua hari sebelum pernikahan Ami dan Aransyah. Melalui sebuah foto polaroid dan 24 gelang manik-manik, Ami mencapai sebuah "momen menakjubkan". Di saat itulah ia akhirnya menemukan kebenaran yang tulus mengenai apa yang telah terjadi dalam hubungannya dengan Raga di masa lalu.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan utama dari buku ini terletak pada kemampuannya untuk menyelami rasa patah hati dengan sangat mendalam. Pembaca dapat merasakan betapa menyesalnya ketidakpastian mengenai alasan yang tidak terjawab. Karakter Aransyah juga menjadi salah satu nilai tambah; sikapnya yang sabar menambahkan nuansa romantis yang menghangatkan di tengah dinginnya ingatan Raga. Brian Khrisna sukses menyusun alur cerita yang membuat kita tersentuh sekaligus memberikan pelajaran tentang makna ketulusan.

Namun, ada beberapa kelemahan yang perlu dicatat, di mana beberapa bagian mungkin terasa sangat lambat karena Ami terus-menerus merintih tentang nasibnya. Bagi mereka yang lebih menyukai alur cerita yang cepat, perubahan emosi Ami yang terjebak dalam kenangan masa lalu bisa terasa cukup melelahkan. Selain itu, elemen "momen ajaib" di akhir cerita mungkin terkesan agak tidak realistis bagi pembaca yang lebih menyukai gaya yang realistis dalam sebuah kisah cinta.

Secara umum, 23:59 merupakan sebuah karya sastra yang sangat mengharukan. Buku ini mengajarkan kepada kita bahwa kadang-kadang, mencari pemahaman tentang masa lalu bukanlah tentang membalikkan keadaan yang sudah ada, tetapi mengenai menerima diri sendiri agar bisa melanjutkan perjalanan hidup. Bagi siapa pun yang sedang berusaha menyembuhkan luka-luka lama, cerita tentang Ami dan Raga ini bisa menjadi pendamping yang ideal untuk refleksi. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beritahu!.

Identitas Buku

  • Judul: 23:59
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penyunting: Juliagar R. N.
  • Ilustrasi isi: Dalila Arrumaisha
  • Sampul: ORKHA CREATIVE
  • Penerbit: MediaKita
  • Terbit: Januari 2023
  • ISBN: 979794669X, 9789797946692

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak