Ada film horor yang sejak awal sudah memberi tahu penontonnya apa yang harus ditakuti. Pabrik Gula memilih jalan sebaliknya. Ia pelan, sunyi, dan seolah-olah tidak tergesa-gesa menunjukkan apa pun. Justru karena itulah, film ini terasa mengganggu. Teror yang dibangun bukan datang dari kejutan, melainkan dari kesadaran perlahan bahwa tempat ini menyimpan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibiarkan terkubur.
Pabrik Gula berkisah tentang sekelompok orang yang datang ke sebuah pabrik gula tua yang sudah lama berhenti beroperasi. Ada yang datang karena urusan pekerjaan, ada pula yang membawa kepentingan pribadi yang belum selesai. Pabrik tersebut rencananya akan dialihfungsikan, dan sebelum itu dilakukan, mereka diminta menelusuri serta mendokumentasikan kondisi bangunan.
Namun, sejak kedatangan mereka, pabrik terasa tidak ramah. Mesin-mesin tua, lorong panjang yang kosong, dan suasana sunyi memunculkan keganjilan yang sulit dijelaskan. Perlahan, potongan-potongan masa lalu mulai terkuak tentang praktik kerja yang kejam, pengorbanan manusia, dan rahasia yang sengaja dihapus demi menjaga citra dan keuntungan. Pabrik itu bukan sekadar bangunan mati, melainkan saksi bisu dari dosa yang belum pernah benar-benar diakui.
Semakin jauh mereka masuk, semakin jelas bahwa pabrik gula tersebut menyimpan cerita yang tidak ingin diingat oleh siapa pun. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena terlalu takut menghadapi konsekuensinya.
Hal yang membuat Pabrik Gula terasa berbeda sejak awal adalah keberaniannya menjadikan lokasi sebagai pusat cerita. Pabrik ini bukan latar pendukung, melainkan tokoh utama. Mesin-mesin tua tidak hanya hadir sebagai properti visual, melainkan sebagai simbol sistem yang pernah bekerja tanpa memedulikan manusia di dalamnya. Setiap suara logam yang berderit terasa seperti gema masa lalu yang belum selesai.

Film ini tidak terburu-buru menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia membiarkan penonton merangkai sendiri kepingan cerita yang muncul melalui dialog samar, kilas balik singkat, dan detail-detail kecil yang sering kali terasa sepele. Pendekatan ini mungkin membuat sebagian penonton merasa tersesat, tetapi justru di situlah kekuatan film ini bekerja. Rasa tidak nyaman itu disengaja.
Horor dalam Pabrik Gula tidak datang dari makhluk gaib yang tiba-tiba muncul. Ketakutan tumbuh dari kesadaran bahwa kejahatan bisa berlangsung lama karena dianggap wajar. Mesin tua yang terus berdiri menjadi metafora tentang sistem yang tetap berjalan, meski korban berganti dan waktu berlalu. Film ini seolah-olah ingin mengatakan bahwa monster terbesar bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan sesuatu yang kita bangun dan pelihara sendiri.
Ada kritik sosial yang terasa tajam namun tidak berisik. Film ini seolah-olah menyentil cara kita memperlakukan sejarah. Bangunan tua sering kali dirayakan sebagai warisan tanpa pernah benar-benar ditanyakan apa yang terjadi di dalamnya. Pabrik Gula menolak romantisasi itu. Ia memperlihatkan bahwa tidak semua peninggalan masa lalu layak dikenang dengan bangga; beberapa justru menyimpan rasa malu yang sengaja ditutup rapat.
Karakter-karakter dalam film ini tidak digambarkan sebagai pahlawan. Mereka manusia biasa dengan ketakutan, kepentingan, dan kebisuan masing-masing. Tidak ada yang benar-benar bersih. Tidak ada yang sepenuhnya berani. Film ini terasa jujur karena tidak menawarkan sosok penyelamat. Yang ada hanyalah orang-orang yang terlambat menyadari bahwa diam juga merupakan bentuk keterlibatan.
Secara visual, Pabrik Gula konsisten menjaga atmosfernya. Warna kusam, pencahayaan minim, dan komposisi gambar yang membuat manusia tampak kecil di hadapan bangunan besar memperkuat rasa terasing. Kamera sering kali membiarkan ruang kosong berbicara lebih banyak daripada dialog. Tidak ada usaha untuk memperindah penderitaan. Tempat ini memang digambarkan sebagai ruang yang menolak kehadiran manusia.

Ritme yang lambat sering dianggap sebagai kelemahan film ini. Namun, rasanya justru sebaliknya. Kecepatan sengaja dihindari agar penonton merasakan beratnya proses membuka rahasia lama. Film ini seperti memaksa kita duduk lebih lama dari yang nyaman karena memang begitulah rasanya menghadapi sejarah yang selama ini dihindari.
Bagian akhir film ini tidak menawarkan kelegaan penuh. Rahasia yang terungkap tidak otomatis menyelesaikan segalanya. Tidak ada penebusan instan, tidak ada rasa puas yang rapi. Film ini dengan tegas menolak gagasan bahwa mengungkapkan kebenaran selalu membawa akhir bahagia. Beberapa luka terlalu lama dibiarkan untuk bisa sembuh dengan mudah.
Pabrik Gula jelas bukan film horor yang cocok untuk semua orang. Ia terlalu sunyi bagi pencari sensasi cepat, dan terlalu berat bagi yang ingin hiburan ringan. Namun, justru karena itulah film ini layak dibicarakan. Ia menunjukkan bahwa horor bisa menjadi medium refleksi, bukan sekadar alat menakut-nakuti.
Pada akhirnya, Pabrik Gula dan Rahasia yang Dikubur di Balik Mesin Tua bukan hanya film tentang tempat angker. Ia adalah cerita tentang ingatan, pembiaran, dan harga yang harus dibayar ketika kebenaran dikubur terlalu lama. Yang tertinggal setelah film usai bukanlah rasa takut, melainkan kegelisahan tentang berapa banyak "pabrik gula" lain, dalam bentuk apa pun, yang masih berdiri di sekitar kita, bekerja diam-diam, sementara kita memilih menyebutnya sebagai masa lalu.