Menguliti Film THE RIP 2026: Loyalitas, Kriminal dan Aksi Tak Biasa

Bimo Aria Fundrika | Angelia Cipta RN
Menguliti Film THE RIP 2026: Loyalitas, Kriminal dan Aksi Tak Biasa
https://www.netflix.com/id-en/title/81915745

Film action Hollywood sering kali menawarkan cerita tentang kejahatan dan penegakan hukum sebagai dua kutub yang jelas. Namun, film ‘THE RIP’ yang baru saja rilis Januari 2026 ini memilih jalur yang lebih gelap dan tidak nyaman.

Film ini mengaburkan batas antara benar dan salah, lalu memaksa penonton menyelami ruang abu-abu yang kerap tersembunyi di balik lencana polisi.

Berlatar di Miami yang panas dan penuh tekanan, ‘THE RIP’ menjadi potret intens tentang bagaimana kekuasaan, uang, dan loyalitas bisa saling menghancurkan.

Disutradarai oleh Joe Carnahan, film ini diperkuat jajaran pemain papan atas Hollywood seperti Matt Damon, Ben Affleck, Steven Yeun, Teyana Taylor, Catalina Sandino Moreno, Sasha Calle, Néstor Carbonell, Lina Esco, Scott Adkins, hingga Kyle Chandler. Kombinasi aktor lintas generasi dan latar belakang ini menciptakan dinamika karakter yang kaya dan penuh ketegangan.

Sinopsis Film ‘THE RIP’ 2026

Cerita bermula ketika sekelompok polisi Miami menemukan sebuah stash house kosong yang menyimpan jutaan dolar tunai. Penemuan ini bukan sekadar barang bukti, melainkan pemantik konflik yang perlahan meretakkan kepercayaan di antara mereka.

Tidak ada ledakan besar atau aksi spektakuler di awal, namun ketegangan dibangun melalui tatapan curiga, percakapan setengah jujur, dan keheningan yang terasa mengancam.

Ketika kabar tentang uang sitaan itu bocor ke pihak luar, tekanan datang bertubi-tubi. Dunia kriminal mulai bergerak, atasan menuntut jawaban, dan para polisi ini justru mulai saling mencurigai.

‘THE RIP’ dengan cerdas menunjukkan bahwa bahaya terbesar bukan selalu datang dari luar, melainkan dari dalam lingkaran itu sendiri.

Godaan Uang dan Retaknya Loyalitas

Kekuatan utama ‘THE RIP’ terletak pada konflik moral yang terus menekan para karakternya. Film ini tidak menampilkan polisi sebagai pahlawan bersih, tetapi sebagai manusia biasa yang lelah, penuh beban, dan rentan tergoda.

Uang dalam jumlah fantastis menjadi simbol dari semua hal yang mereka dambakan sekaligus takuti layaknya kebebasan, kekuasaan, dan kehancuran.

Matt Damon dan Ben Affleck tampil sebagai figur sentral yang mewakili dua cara pandang berbeda dalam menghadapi godaan tersebut.

Tanpa perlu dialog panjang, keduanya mampu menunjukkan bagaimana ketegangan batin perlahan menggerogoti prinsip yang selama ini mereka pegang. Chemistry mereka terasa matang, tidak berisik, namun penuh tekanan emosional.

Sementara itu, Steven Yeun dan Teyana Taylor menghadirkan perspektif generasi yang lebih muda, karakter-karakter yang masih ingin percaya pada sistem, namun mulai sadar bahwa realitas jauh lebih rumit.

Catalina Sandino Moreno dan Sasha Calle memberi lapisan empati dan keteguhan, menjadi penyeimbang di tengah dunia yang semakin sinis.

Joe Carnahan menyebut bahwa THE RIP lahir dari pengalaman personal seorang teman yang pernah memimpin satuan narkotika di Miami Dade. Hal ini terasa jelas dalam pendekatan film yang lebih membumi dan emosional.

Tidak ada glorifikasi berlebihan terhadap kekerasan atau kepolisian. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan setiap kesalahan meninggalkan luka.

Judul ‘THE RIP’ sendiri memiliki makna khas dalam dunia kepolisian Miami. Istilah “ripping” merujuk pada tindakan mengambil barang milik penjahat, entah itu uang, narkoba, atau senjata.

Namun dalam film ini, makna tersebut berkembang menjadi lebih simbolis tentang siapa sebenarnya yang sedang “merampas” siapa?

Dari segi atmosfer, film ini jelas terinspirasi oleh film-film polisi klasik era 1970-an seperti ‘Serpico’ dan ‘Prince of the City’, serta nuansa dingin dan intens ala ‘Heat’. Kamera sering linger lebih lama pada ekspresi wajah, memperkuat rasa tidak aman dan paranoia.

Miami tidak digambarkan sebagai kota glamor, melainkan ruang panas yang menyesakkan, seolah ikut menekan psikologis para karakter.

‘THE RIP’ bukan film yang memberi jawaban mudah. Ia tidak menawarkan akhir yang sepenuhnya memuaskan atau moral yang hitam-putih.

Sebagai film kriminal, ‘THE RIP’ berhasil menghadirkan ketegangan yang tidak bergantung pada aksi semata, melainkan pada konflik batin dan relasi antarmanusia.

Ini adalah kisah tentang seragam yang tidak selalu menjamin kebenaran, tentang loyalitas yang bisa runtuh oleh satu pilihan, dan tentang bagaimana sisi gelap penegakan hukum sering kali lahir dari niat yang awalnya terasa masuk akal.

THE RIP bukan tontonan ringan, tetapi justru di situlah kekuatannya. Film ini meninggalkan rasa tidak nyaman yang bertahan lama, memaksa kita merenungkan bahwa dalam dunia yang dipenuhi godaan, garis antara penegak hukum dan pelanggar hukum bisa menjadi sangat

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak