Cerita Misteri

Ujung Jalan Tusuk Sate

Ujung Jalan Tusuk Sate
Ilustrasi Mistis Rumah Tusuk Sate (Gemini AI)

Di sebuah desa yang sejuk dan asri, berdirilah sebuah rumah yang diselimuti tabir misteri. Orang-orang kampung menyebutnya sebagai "rumah tusuk sate".

Letaknya tepat di ujung sebuah jalan lurus, seolah-olah jalan itu sengaja dibuat untuk menabrak pintu depan. Tak ada tikungan, tak ada belokan penyelamat. Aspalnya memanjang seperti tombak hitam yang mengarah tepat ke teras.

Rumah itu sudah tiga kali berganti pemilik dalam lima tahun terakhir.

Namun, ketika Hasan membelinya, ia sama sekali tidak percaya takhayul. Ia seorang konsultan properti; terbiasa melihat angka, bukan arwah. Harga rumah itu jatuh jauh di bawah pasaran. Logika Hasan sederhana: posisi tusuk sate membuat orang takut, jadi nilai jualnya anjlok. Itu saja.

Istrinya, Ratih, sedang hamil tujuh bulan saat mereka pindah ke sana.

“Rumah ini terlalu sepi,” kata Ratih pada malam pertama mereka menginap.

Hasan tertawa pelan. “Karena ini di ujung jalan. Justru bagus, kan? Tidak bising oleh kendaraan lewat.”

Namun malam itu, tepat pada pukul 02.13, mereka terbangun oleh suara yang tak pernah Hasan perhitungkan. Bukan suara mesin, bukan pula langkah kaki manusia.

Suara gesekan panjang di atas aspal.

Terdengar seperti ada sesuatu yang diseret perlahan dari ujung jalan, bergerak menuju rumah mereka. Hasan menyibak tirai jendela dan mengintip. Jalanan kosong. Lampu jalan berpendar kuning pucat. Tidak ada siapa pun yang lewat. Namun, tepat di depan pagar, lampu teras rumahnya tiba-tiba menyala sendiri.

Padahal, ia sangat yakin sudah mematikannya sebelum tidur.

Hari-hari berikutnya, hal-hal ganjil mulai merayap masuk ke kehidupan mereka. Setiap pagi, tanah di halaman depan retak memanjang, membentuk garis lurus dari pagar ke pintu. Retakannya tipis, menyerupai bekas garukan kuku yang sangat panjang. Hasan menyiramnya dengan air, berharap tanahnya mengembang dan menutup celah itu. Namun keesokan paginya, garis retakan itu muncul lagi. Bahkan lebih panjang.

Ratih mulai sulit tertidur. Ia mengaku terus-menerus bermimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di ujung jalan, memunggungi rumah mereka. Rambut perempuan itu sangat panjang, nyaris menyapu tanah. Ia tidak pernah bergerak. Hanya berdiri.

“Dia tidak melihat ke sini,” kata Ratih suatu pagi dengan wajah pucat pasi. “Tapi aku tahu, dia tahu aku ada di dalam.”

Hasan mencoba merasionalisasinya sebagai efek kelelahan akibat kehamilan. Sampai pada suatu hari, CCTV di teras merekam sesuatu yang mematahkan logikanya.

Pukul 02.13.

Sebuah bayangan tinggi dan kurus berdiri tepat di ujung jalan. Tidak berjalan, tidak bergeser, hanya mematung. Resolusi kamera yang rendah tidak mampu menangkap wajahnya. Namun, ketika Hasan memutar rekaman itu dengan tempo lebih lambat, napasnya tercekat. Ia menyadari satu hal: bayangan sosok itu tidak memanjang menuruti arah pendar lampu jalan.

Bayangan itu berdiri melawan cahaya.

Sore harinya, seorang tetua kampung bernama Mbah Wiryo datang berkunjung tanpa diundang.

“Sampeyan sudah tahu ini rumah tusuk sate?” tanyanya pelan saat duduk di ruang tamu.

Hasan mengangguk. “Itu cuma mitos, Mbah.”

Mbah Wiryo tersenyum tipis, gurat wajahnya menegang. “Bukan rumahnya yang salah, Nak Hasan. Tapi ujungnya.” Pria tua itu menunjuk lurus ke arah jalan di luar jendela. “Dulu, sebelum perumahan ini dibangun, di situ berdiri pohon asem besar. Tempat orang-orang menaruh sesajen. Ada yang menjaga.”

“Penunggu?” Hasan membalas dengan senyum skeptis.

“Pohon itu ditebang waktu jalan dibuat lurus. Sejak itu, ujung jalan tidak punya penahan. Energi jalan menabrak langsung ke rumah ini.” Mbah Wiryo menjeda ucapannya, matanya melirik sekilas ke arah perut Ratih. “Dulu... pernah ada perempuan hamil tertabrak delman di situ. Bayinya tidak sempat lahir.”

Suasana ruang tamu seketika hening. Ratih tanpa sadar mengusap perutnya yang membuncit.

“Sejak itu, setiap rumah yang berdiri di ujung ini, keluarganya selalu ada yang kehilangan,” tambah Mbah Wiryo pelan.

Malam itu, Hasan mengantar Mbah Wiryo pulang dengan perasaan terganggu, meski dalam hati ia masih berusaha menertawakan cerita usang tersebut.

Malam Jumat Kliwon. Hujan turun menderas. Jarum jam berdetak menuju angka 02.13.

Suara gesekan itu kembali. Kali ini terdengar jauh lebih jelas, menggema melampaui suara hujan. Terasa sangat dekat.

Ratih terduduk tegak di ranjang. Tangannya mencengkeram lengan Hasan. “Dia sudah di pagar.”

Hasan berusaha menetralkan suaranya. “Siapa?”

Ratih tidak menjawab. Tubuhnya bergetar.

Dari balik jendela, lampu teras menyala, padam, lalu menyala lagi. Tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

Terdengar ketukan dari arah pagar besi luar.

Hasan menelan ludah, memaksakan diri bangkit, lalu membuka pintu depan. Hujan mengguyur membabi buta. Jalanan desa kosong melompong. Tak ada siapa pun. Namun, di atas aspal yang basah, terlihat jejak kaki berlumpur. Hanya satu baris jejak. Mengarah lurus ke pintunya.

Jejak itu berhenti tepat di ambang pintu, meneteskan air keruh. Tidak ada jejak yang mengarah balik. Jantung Hasan berdegup tak wajar. Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya dengan tangan gemetar.

Tiba-tiba, dari dalam kamar, Ratih menjerit histeris.

Hasan berlari sekuat tenaga. Saat pintu didobrak, Ratih sudah terduduk di lantai, memegangi perutnya sambil menangis ngeri.

“D-dia berdiri di sudut kamar! Basah. Rambutnya menutupi wajahnya!” teriak Ratih panik.

Pagi harinya, dokter mengatakan kondisi janin sempat melemah semalam, namun tidak ada penjelasan medis yang masuk akal. Hasan tak bisa lagi menyangkal. Ada sesuatu yang sangat salah dengan rumah ini, dan ucapan Mbah Wiryo terus bergaung di kepalanya.

Malam berikutnya, Hasan memutuskan berjaga. Pukul 02.10, ia sudah berdiri di balik tirai jendela. Dan tepat pada pukul 02.13, lampu jalan berkedip sekali.

Sosok itu muncul lagi.

Bukan berjalan, bukan datang dari kejauhan. Ia seolah terwujud begitu saja dari ketiadaan. Sosok itu berdiri di ujung jalan. Namun kali ini, ia tidak membelakangi rumah. Perempuan itu menatap lurus ke arah Hasan.

Kulit wajahnya pucat keabu-abuan. Rambut basahnya yang tergerai panjang menutupi sebagian mata. Perutnya membusung besar layaknya wanita yang tengah hamil tua. Anehnya, rintik hujan sama sekali tidak membasahi tubuhnya.

Hasan membeku. Tubuhnya menolak digerakkan. Lampu jalan kembali berkedip mati-nyala.

Saat lampu kembali terang, sosok itu sudah berada lebih dekat. Hasan tidak melihatnya berjalan atau mengayunkan kaki. Lampu berkedip lagi. Ia makin dekat. Seolah setiap kedipan lampu melontarkannya satu langkah ke depan tanpa perlu bergerak.

Ketika lampu berkedip untuk keempat kalinya, sosok itu sudah berdiri tepat di depan pagar. Menatapnya.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan keras terdengar. Namun, bukan dari pagar luar. Ketukan itu berasal dari dalam rumah.

Hasan berbalik perlahan. Udara di sekitarnya merosot dingin. Jejak-jejak kaki basah tercetak sendiri di lantai ruang tamu. Satu per satu. Muncul dari arah pintu depan, bergerak lurus menuju kamar Ratih.

“Tidak…” bisik Hasan ngeri.

Ia berlari menyusul jejak itu. Pintu kamar terbuka dengan sendirinya.

Ratih tertidur di atas ranjang. Terlalu tenang. Napasnya teratur, seolah terbius. Sementara di sudut kamar, perempuan basah itu berdiri tegak.

Kini wajahnya terlihat jelas di bawah remang cahaya lampu tidur. Sepasang mata yang hitam melompong. Kontur wajahnya ganjil, seperti sebongkah pahatan daging pias yang belum selesai dibentuk.

Hasan ingin berteriak memanggil istrinya, tetapi kerongkongannya seolah tercekik rapat. Perempuan itu mengangkat tangannya yang pucat dan kurus perlahan, lalu menunjuk ke arah perut Ratih.

Suara gesekan aspal terdengar lagi, kali ini menggemuruh dari dalam kamar. Menggerung layaknya roda delman karatan yang tak pernah berhenti bergulir. Hasan memaksakan kakinya untuk melangkah maju, memecah rasa takutnya demi sang istri.

“Pergi!” teriak Hasan pecah.

Untuk pertama kalinya, perempuan itu tersenyum.

Senyum yang merobek pipinya terlalu lebar. Senyum yang membuat lampu kamar berkedip-kedip hebat, hingga akhirnya mati total. Seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan pekat.

Dalam gulita, Hasan mendengar sebuah suara parau berbisik tepat di lubang telinganya. Bau tanah kuburan dan darah anyir menyeruak hidung.

“Ujung jalan selalu meminta yang belum selesai.”

Ketika aliran listrik kembali normal dan lampu menyala terang, kamar itu kosong. Sosok perempuan itu lenyap. Namun lantai di sekitar ranjang penuh dengan genangan air dan lumpur.

Di atas ranjang, Ratih membuka matanya perlahan. Ia menoleh perlahan ke arah Hasan. Bukannya ketakutan, wajah istrinya justru memancarkan senyum tipis—senyum yang sangat asing dengan tatapan mata yang terlalu kosong.

“Dia bilang, kita hanya menggantikan,” ucap Ratih lirih. Suaranya serak, terdengar seperti suara dua orang yang bicara bersamaan.

Hasan mundur selangkah. Matanya menatap horor ke arah lantai. Retakan tanah kini muncul di dalam rumah, membelah tegel ruang tamu dari pintu depan, memanjang lurus hingga berhenti tepat di bawah ranjang Ratih. Menembus tanpa hambatan. Seperti jalan yang tak pernah berbelok.

Di luar jendela, lampu jalan berpendar stabil. Ujung aspal tampak kosong. Namun Hasan tahu satu hal dengan pasti: sesuatu itu tak lagi berdiri menanti di luar sana.

Sesuatu itu kini telah menetap di dalam rumah. Bersama mereka.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda