Senja di Jakarta: Cermin Retak Ibu Kota yang Masih Relevan Hari Ini

Sekar Anindyah Lamase | Moh. Taufiq Hidayat
Senja di Jakarta: Cermin Retak Ibu Kota yang Masih Relevan Hari Ini
Senja Di Jakarta karya Mochtar Lubis. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Jakarta, tahun 1960-an. Sebuah periode ketika Indonesia masih dalam tahap awal dan ideologi negaranya masih dalam proses pembentukan. Melalui novel klasik "Senja di Jakarta", Mochtar Lubis seakan menangkap kondisi ibu kota dengan sudut pandang yang sangat realistis, bahkan cenderung suram.

Menyimak novel ini seperti menyaksikan sebuah film dokumenter sejarah yang disajikan melalui narasi cinta yang jelas, dan memperlihatkan bahwa masalah-masalah di negara kita sejatinya telah ada sejak lama.

Sinopsis: Kontras Kelas di Jantung Republik

Cerita dalam novel ini menggambarkan kehidupan di Jakarta melalui berbagai lapisan masyarakat yang jarang berinteraksi, tetapi berbagi ruang yang sama. Dalam lapisan bawah, kita berkenalan dengan Saimun dan Itam, dua pemulung yang tinggal di kawasan kumuh.

Permasalahan yang mereka hadapi sangat mendasar: kebutuhan untuk makan. Saimun memiliki impian untuk menjadi sopir oplet demi mendapatkan "seringgit dua ringgit" lebih banyak—sebuah harapan kecil di tengah beratnya kehidupan kota.

Di sisi lain, terdapat Raden Kaslan, seorang pengusaha kaya sekaligus pejabat partai yang licik. Bersama rekan-rekannya, mereka memanipulasi nasib negara dari balik layar demi mengumpulkan harta pribadi.

Di antara kedua ekstrem ini, muncul kelompok intelektual seperti Pranoto dan Suryono yang senang berdiskusi tentang idealisme. Namun, sering kali prinsip mereka terhalang oleh kenyataan yang keras, seperti yang dialami Sugeng, pegawai negeri yang jujur yang terpaksa terjun ke dalam dunia korupsi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Kelebihan & Kekurangan

Kekuatan utama dari karya ini terletak pada keberanian Mochtar Lubis untuk menggambarkan dengan jelas realitas mengenai aroma korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terjadi di tingkat tinggi.

Diskusi yang terjadi antara tokoh-tokoh pemuda dalam cerita ini juga sangat memperluas pemahaman pembaca, menunjukkan betapa terbukanya pertukaran ide pada era tersebut. Selain itu, adanya "Laporan Kota" di akhir setiap bab memberikan elemen khas yang menegaskan keramaian Jakarta melalui berita kriminal dan insiden kecil di jalanan.

Namun, di balik keindahan alur ceritanya, ada satu hal yang terasa agak menyakitkan bagi saya, yaitu cara penggambaran tokoh perempuannya. Kecuali untuk karakter Iesye, wanita-wanita dalam cerita seperti Fatimah, Dahlia, dan Hasnah digambarkan dengan karakter yang cukup dangkal. Mereka seolah-olah hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita atau sosok yang memiliki iman yang lemah dan terobsesi pada harta, yang pada akhirnya menjadi penyebab runtuhnya integritas para suami.

Seperti ciri khas karya Mochtar Lubis lainnya, novel ini ditutup dengan dera moral yang setimpal bagi para tokohnya. Namun, penggambaran bahwa kehidupan kota tetap berjalan terus membuat novel ini terasa sangat realistis dan meninggalkan kesan mendalam.

"Senja di Jakarta" bukan sekadar cerita masa lalu; ia adalah cermin besar bagi kita untuk melihat apakah Jakarta benar-benar sudah berubah atau kita sebenarnya masih terjebak di senja yang sama. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beritahu!.

Identitas Buku:

  • Judul: Senja di Jakarta
  • Penulis: Mochtar Lubis
  • Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  • Tahun Terbit: Pertama kali terbit dalam bahasa Inggris (Twilight in Jakarta), versi Indonesia diterbitkan ulang (contoh: 2009, 2018)
  • Jumlah Halaman: viii + 278 halaman
  • ISBN: 9786024335885, 979-461-115-8

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak