Ulasan
Sajak Rindu: Belajar Memaafkan Masa Lalu dari Perspektif Remaja Bugis
Membaca Sajak Rindu karya S. Gegge Mappangewa memberikan sensasi seperti kembali ke masa kecil di tengah suasana piknik yang ceria. Penulis sukses menghidupkan kembali atmosfer buku cerita masa sekolah; sebuah narasi petualangan anak-anak beranjak remaja yang kaya akan warna. Lewat buku ini, kita diajak menjelajahi Pakka Salo, sebuah sudut di Sulawesi yang digambarkan masih alami, jauh dari hiruk-pikuk kota, namun dipenuhi kesederhanaan yang mampu menghangatkan hati.
Sinopsis: Rahasia di Balik Rindu si Kembar
Cerita berpusat pada Vito, remaja berusia tiga belas tahun yang tinggal bersama ibu dan kakeknya. Meski tampak aktif menjalani hari-harinya, Vito memendam kerinduan mendalam terhadap ayah dan Vino, saudara kembarnya yang terpisah sejak lama. Selama bertahun-tahun, ibu dan kakeknya memilih bungkam tentang kenyataan pahit di masa lalu. Apa sebenarnya penyebab perpisahan mereka? Akankah kerinduan Vito menemukan muaranya?
Gegge menggunakan alur campuran yang apik dalam menyusun narasi ini. Alur maju menyoroti perjuangan Vito menuntaskan rindunya, sementara alur mundur membawa kita ke masa lalu sang ibu, Halimah. Kisah cinta ibunya ternyata menyimpan kompleksitas yang cukup berat, karena bersinggungan dengan isu sensitif seperti perbedaan agama. Konflik yang diangkat terasa membumi namun menyentuh hati, sebuah refleksi dari realitas pahit yang kerap terjadi dalam kehidupan nyata.
Kearifan Lokal dan Penebusan Dosa
Salah satu kekuatan utama novel ini adalah kemampuannya memadukan nilai-nilai masyarakat Bugis, budaya lokal, dan ajaran Islam secara natural. Karakter Vito digambarkan sangat hidup; ia adalah pencerita yang ulung, mahir memanjat, namun tetap memiliki sisi nakal yang kreatif. Momen paling mengesankan adalah saat Vito merasa sangat menyesal karena telah menipu Pak Amin, gurunya. Adegan ia menghukum diri dengan berlari dan memanjat tembok setinggi tiga meter terasa sangat dramatis. Pesannya kuat: kesadaran akan kesalahan adalah kunci menuju ketenangan jiwa.
Kehadiran tokoh pendukung seperti Pak Amin juga memberikan nilai edukasi yang luar biasa. Sosok guru bijak yang memahami psikologi murid ini patut menjadi teladan bagi para pendidik. Namun, bagi saya yang sudah telanjur terhubung secara emosional dengan kisah si kembar, buku ini menyisakan sedikit rasa "haus". Saya sangat berharap penulis bersedia melanjutkan cerita dari sudut pandang Vino, agar pembaca bisa melihat gambaran utuh perjalanan hidup mereka sebagai "korban" dari perpisahan orang tua.
Secara keseluruhan, Sajak Rindu adalah karya yang memicu nostalgia bagi mereka yang dibesarkan di desa, sekaligus menawarkan pengalaman "berlibur" yang menyegarkan bagi pembaca di kota. Nilai-nilai pembentukan karakter di dalamnya menjadikannya bacaan yang sangat relevan bagi remaja. Karya ini mengingatkan kita bahwa rindu bukan sekadar perasaan pasif, melainkan perjalanan panjang untuk mencari jawaban dan belajar memaafkan masa lalu.
Identitas Buku:
- Judul Lengkap: Sajak Rindu: Lontara Cinta dari Sidenreng
- Penulis: S. Gegge Mappangewa
- Penerbit: Indiva Media Kreasi
- Tahun Terbit: 2016
- Jumlah Halaman: Sekitar 296 halaman (tergantung edisi)