Ulasan

Bosen Sama Rendang? Sini Cobain Nasi Dagang Anambas Biar Lebaranmu Makin Melayu Paripurna

Bosen Sama Rendang? Sini Cobain Nasi Dagang Anambas Biar Lebaranmu Makin Melayu Paripurna
ilustrasi makanan di hari raya idul fitri (pinterest/galuh eka pratiwi)

Lebaran di Batam dan wilayah Kepulauan Riau bukan hanya tentang silaturahmi, tetapi juga perayaan cita rasa khas Melayu yang sarat tradisi. Di tengah budaya pesisir yang kental dengan hasil laut dan rempah-rempah, masyarakat Melayu menghadirkan hidangan istimewa yang jarang ditemui di daerah lain.

Beberapa makanan ini bahkan hanya muncul saat hari raya, menjadi simbol keramahan dan identitas kuliner turun-temurun. Berikut beberapa makanan khas Melayu yang disajikan di Hari Raya Idulfitri.

1. Lakse

Lakse (suarausu.com)
Lakse (suarausu.com)

Nama lakse berasal dari kata laksa yang diyakini berakar dari bahasa Sanskerta “laksha” yang berarti banyak atau berlimpah, merujuk pada kaya dan kompleksnya bumbu dalam hidangan ini. Seiring penyebaran kuliner melalui jalur perdagangan di kawasan pesisir Asia Tenggara, istilah tersebut mengalami penyesuaian bunyi dalam dialek Melayu setempat, termasuk di wilayah Kepulauan Riau, sehingga lebih akrab disebut “lakse”.

Dalam penyajiannya, lakse khas Melayu Kepri biasanya menggunakan mi tebal atau adonan berbahan sagu yang disiram kuah santan atau kuah ikan berbumbu rempah. Kuahnya gurih dengan aroma daun kesum yang khas, lalu diberi tambahan suwiran ikan, taoge, atau bawang goreng di atasnya. Hidangan ini umumnya disajikan hangat dan sering hadir sebagai menu istimewa saat perayaan besar seperti Lebaran.

2. Nasi Dagang

Nasi Dagang (hungrygowhere.com)
Nasi Dagang (hungrygowhere.com)

Di wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas, nasi dagang menjadi salah satu hidangan istimewa yang identik dengan tradisi Melayu pesisir, terutama saat Lebaran atau acara kenduri. Ciri khasnya terletak pada nasi yang dimasak dengan santan hingga pulen dan harum, lalu disajikan bersama gulai ikan tongkol berbumbu rempah yang kaya rasa—gurih, sedikit manis, dan pedas seimbang.

Rempahnya terasa lembut namun tetap kuat, mencerminkan pengaruh kuliner laut yang kental di daerah kepulauan. Dalam penyajiannya, nasi dagang biasanya dilengkapi acar timun-wortel dan sambal sebagai penyeimbang rasa. Di beberapa keluarga Melayu Anambas, hidangan ini juga bisa dipadukan dengan telur rebus atau serunding.

Menariknya, nasi dagang juga sangat populer di Malaysia, khususnya di wilayah pantai timur seperti Terengganu dan Kelantan. Kesamaan ini menunjukkan kuatnya hubungan budaya Melayu lintas Selat Malaka, meski tiap daerah tetap memiliki sentuhan rasa dan teknik memasak yang sedikit berbeda.

3. Kue Bangkit

Kue Bangkit (disbud.kepriprov.go.id)
Kue Bangkit (disbud.kepriprov.go.id)

Kue bangkit dikenal sebagai salah satu kue kering khas Melayu yang kuat kaitannya dengan wilayah penghasil sagu seperti Kabupaten Lingga. Daerah ini sejak lama dikenal sebagai sentra sagu, sehingga tepung sagu menjadi bahan utama dalam pembuatan kue bangkit.

Teksturnya sangat khas: ringan, rapuh, dan langsung “lumer” saat masuk ke mulut karena perpaduan sagu, santan, dan gula yang dipanggang dengan teknik khusus. Aromanya harum santan dan biasanya dicetak dalam bentuk bunga atau motif tradisional.

Nama “bangkit” sendiri dipercaya berasal dari proses memanggangnya. Saat adonan dimasukkan ke dalam oven, kue ini akan mengembang atau “bangkit” dan sedikit terangkat permukaannya. Dari situlah masyarakat Melayu menamai kue ini sebagai kue bangkit, yang kini identik sebagai suguhan wajib di meja tamu saat Lebaran.

Itu tadi tiga kuliner Lebaran khas Melayu di Kepulauan Riau dan sekitarnya. Kira-kira kamu tertarik mencoba yang mana?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda