Novel Kembar Dizigot karya Netty Virgiantini hadir sebagai lanjutan dari buku sebelumnya yang berjudul Lho, Kembar Kok Beda?!. Membaca novel ini, muncul kesan kuat bahwa cerita awalnya dirancang sebagai satu rangkaian utuh, lalu “dipecah” menjadi dua buku agar tidak terlalu panjang.
Namun justru di buku inilah berbagai konflik yang menggantung pada buku pertama menemukan titik temu dan penyelesaian, meskipun tidak selalu memuaskan semua harapan pembaca.
Judul Kembar Dizigot sendiri bukan sekadar pemanis. Secara biologis, kembar dizigot atau kembar fraternal adalah kembar non-identik yang berasal dari dua sel telur dan dua sperma berbeda. Mereka tidak memiliki genetika yang sama persis, dapat berbeda jenis kelamin, wajah, bahkan kepribadian.
Konsep ini menjadi metafora yang cukup tepat bagi tokoh utama novel ini: Nadhira dan Bashira, saudara kembar yang sama sekali tidak serupa, baik secara fisik maupun batin.
Sinopsis Novel
Cerita berpusat pada Nadhira, yang hidupnya seolah runtuh bertubi-tubi. Pergelangan tangan kanannya cedera akibat ulah Kemal si “Onta Padang Pasir” yang menyebalkan memaksanya menjalani hari-hari dengan tangan digips dan ketergantungan pada orang lain.
Di saat yang sama, Ayahnya memperketat larangan pacaran, membuat hubungannya dengan Narotama terputus. Ironisnya, kondisi ini justru dimanfaatkan Bashira, si kembar yang dianggap lebih cantik dan lebih pintar, untuk mendekati cowok yang sama-sama mereka sukai. Dari sinilah konflik cemburu, pengkhianatan, dan luka batin Nadhira mengeras.
Masalah Nadhira tidak berhenti pada cinta segitiga, atau bahkan segi banyak. Setelah tangannya sembuh, ia harus menerima kenyataan pahit: kemampuannya menggambar tak lagi seperti dulu.
Kehilangan ini terasa berlipat, karena menggambar adalah identitas sekaligus pelariannya. Patah tangan berubah menjadi patah hati “kuadrat”, seperti yang digambarkan novel ini dengan gaya khas Netty Virgiantini yang hiperbolik namun mengena.
Untungnya, Nadhira tidak sepenuhnya sendirian. Kehadiran anak-anak “Pintu Belakang” memberi warna persahabatan yang hangat dan kocak. Mereka menjadi penopang emosional sekaligus penyemangat bagi Nadhira untuk bangkit dan berlatih kembali. Kesempatan membalas dendam secara simbolik pun datang lewat ilustrasi di majalah sekolah. Sebuah jalan sunyi untuk menyuarakan luka dan harga diri.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Sebagai novel lanjutan, Kembar Dizigot berfungsi sebagai ruang resolusi. Tiga benang konflik besar. Cinta remaja, hubungan persahabatan, dan benturan dengan keluarga digulirkan bersamaan hingga menuju akhir cerita yang relatif tidak mudah ditebak.
Ayah Nadhira tetap digambarkan berpegang pada prinsip kolot bahwa “anak remaja ndak boleh pacaran”, dan di titik ini, sebagian pembaca mungkin berharap ada perkembangan karakter yang lebih lunak. Sayangnya, perubahan itu nyaris tidak terjadi, sehingga figur ayah terasa stagnan hingga akhir cerita.
Dari segi gaya, novel ini konsisten dengan ciri khas penulisnya: ringan, kocak, dan penuh dialog hidup. Karakter-karakternya tidak terasa mainstream, membuat pembaca bisa bersimpati sekaligus tertawa.
Namun, ada beberapa plot yang terasa berlebihan dan kurang realistis, seolah hanya berfungsi sebagai penambah drama. Hubungan Raven dan Bashira di bagian akhir, misalnya, terkesan sedikit dipaksakan.
Meski demikian, kekuatan utama Kembar Dizigot terletak pada daya tarik narasinya. Novel ini mudah dibaca, tidak membosankan untuk diulang, dan sarat nostalgia. Terutama bagi pembaca yang pernah menantikan buku ini di masa remaja.
Amanatnya pun jelas: cinta bukan permainan, dan mendapatkan sesuatu dengan cara apa pun bukanlah kebajikan. Sebuah kisah sederhana, mungkin, tetapi tetap bermakna dalam menggambarkan dinamika keluarga, persahabatan, dan cinta remaja yang penuh gejolak.
Identitas Buku
- Judul: Kembar Dizigot
- Penulis: Netty Virgiantini
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- ISBN: 978-602-03-1397-9
- Tahun Terbit: 2015
- Tebal: 208 halaman
- Kategori: Teenlit
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS