Kolom

Belajar dari Krisis 1997: Ketika Rupiah Pernah Terpuruk dan Bangkit Kembali

Belajar dari Krisis 1997: Ketika Rupiah Pernah Terpuruk dan Bangkit Kembali
Ilustrasi Uang (Unsplash/@stereophototyp)

Nilai tukar rupiah sering menjadi topik perbincangan ketika kondisi ekonomi global bergejolak. Banyak orang khawatir ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Namun jika menengok sejarah, Indonesia pernah mengalami situasi yang jauh lebih berat. Pada akhir 1990-an, rupiah bahkan sempat jatuh hingga belasan ribu rupiah per dolar sebelum akhirnya perlahan kembali menguat.

Kisah krisis tersebut dijelaskan secara rinci oleh B. J. Habibie dalam buku memoarnya Detik-detik yang Menentukan. Buku ini menggambarkan bagaimana Indonesia menghadapi krisis ekonomi dan politik secara bersamaan, serta berbagai kebijakan yang diambil pemerintah untuk menstabilkan keadaan.

Krisis Ekonomi dan Politik yang Berlapis

Krisis besar yang melanda Indonesia berawal dari Krisis Finansial Asia 1997, yang mengguncang banyak negara di kawasan Asia Tenggara. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak.

Nilai tukar rupiah merosot tajam. Dalam laporan kepada presiden saat itu, gubernur Bank Indonesia menyampaikan bahwa nilai rupiah berada di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 17.000 per dolar AS dan bahkan dikhawatirkan dapat mencapai Rp 20.000 per dolar. Prediksi tersebut sempat disampaikan pula oleh Lee Kuan Yew yang melihat besarnya tekanan terhadap ekonomi Indonesia.

Kondisi ekonomi saat itu sangat memprihatinkan. Suku bunga melonjak hingga 60–90 persen, sebuah angka yang menunjukkan betapa tidak stabilnya sektor keuangan. Situasi tersebut juga memicu kekhawatiran terjadinya hiperinflasi, yaitu kenaikan harga secara sangat cepat dan tidak terkendali.

Selain itu, ketidakpastian politik membuat modal asing keluar dari Indonesia. Banyak perusahaan mengalami kesulitan, pengangguran meningkat, dan jumlah masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan bertambah. Cadangan devisa negara bahkan menyusut hingga sekitar 56 persen dari posisi sebelumnya.

Reformasi Kebijakan Moneter

Dalam situasi krisis tersebut, pemerintah mengambil sejumlah langkah penting untuk menstabilkan ekonomi. Salah satu kebijakan besar adalah memperkuat independensi Bank Indonesia.

Habibie menjelaskan bahwa sebelumnya, gubernur Bank Indonesia memiliki posisi yang sangat dekat dengan pemerintah karena dianggap sebagai pembantu presiden dalam pembangunan. Namun dalam kebijakan reformasi, peran tersebut diubah agar bank sentral dapat bekerja lebih independen.

Pemerintah tidak lagi diperbolehkan memengaruhi secara langsung kebijakan Bank Indonesia. Para pejabat ekonomi seperti menteri keuangan dan menteri perdagangan tidak boleh mengintervensi keputusan moneter yang diambil oleh bank sentral.

Langkah ini dianggap penting agar kebijakan ekonomi lebih profesional dan tidak dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek.

Larangan Pembiayaan Pemerintah oleh Bank Sentral

Kebijakan penting lainnya adalah melarang pemerintah meminjam uang langsung dari Bank Indonesia. Jika pemerintah membutuhkan dana, maka pembiayaan harus dilakukan melalui mekanisme pasar seperti penerbitan obligasi atau pinjaman dari pasar modal.

Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah pencetakan uang berlebihan yang dapat memicu inflasi tinggi. Dengan memisahkan fungsi pemerintah dan bank sentral, stabilitas moneter diharapkan dapat lebih terjaga.

Reformasi tersebut kemudian diwujudkan dalam perubahan undang-undang yang memperkuat independensi Bank Indonesia sebagai lembaga negara yang mandiri dan transparan.

Target Stabilitas Ekonomi

Dalam arah kebijakan yang disampaikan, pemerintah menetapkan beberapa target utama untuk memulihkan ekonomi nasional.

Pertama, nilai tukar rupiah harus kembali stabil. Kedua, suku bunga diharapkan turun hingga satu digit atau di bawah 10 persen. Ketiga, tingkat inflasi juga ditargetkan berada pada angka satu digit.

Jika Bank Indonesia fokus pada kebijakan moneter dan pemerintah fokus pada pembangunan ekonomi serta pemerataan, maka keduanya dapat bekerja secara sinergis.

Sejarah menunjukkan bahwa meskipun rupiah pernah mengalami tekanan luar biasa, ekonomi Indonesia mampu bangkit kembali secara bertahap. Setelah melewati masa krisis, nilai rupiah perlahan menguat dan stabil dibandingkan periode paling buruk pada akhir 1990-an.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi sangat bergantung pada kebijakan yang konsisten, koordinasi antara pemerintah dan bank sentral, serta kepercayaan masyarakat dan investor.

Belajar dari pengalaman masa lalu, penguatan institusi ekonomi dan transparansi kebijakan menjadi kunci agar krisis serupa dapat dihadapi dengan lebih baik di masa depan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda