Dilema Kehidupan Dewasa yang Menyesakkan di Novel Ode to the Stars

Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Dilema Kehidupan Dewasa yang Menyesakkan di Novel Ode to the Stars
Ode to the Stars (Dok.Pribadi/Oktavia Ningrum)

Cecillia Wang tampaknya memiliki satu kekuatan yang konsisten dalam karya-karyanya. Kemampuan membangun karakter yang hidup dan berlapis. Dalam Ode to the Stars, novel yang diterbitkan oleh Penerbit Kawah Media pada 14 November 2023, ciri khas itu juga terasa di buku ini. 

Tokoh-tokohnya baik utama maupun pendukung, ditulis dengan dominasi peran yang kuat. Sehingga pembaca tidak hanya mengenal mereka. Tetapi juga turut merasakan emosi. Mulai dari jatuh hati, kesal, simpati, bahkan jengkel.

Sinopsis Novel

Novel ini berpusat pada Julienne Sastrawidjaja, atau Juju, seorang residen di Genesis Hospital, yang telah tinggal bersama Alastair Hanan Rishad (Als), seorang profesor ternama di rumah sakit yang sama, selama tiga tahun.

Hubungan mereka ambigu. Hidup serumah, bekerja di lingkungan yang sama, tetapi tanpa status yang jelas. Bagi Juju, itu bukan cinta. Maka ketika Leila Holden, mantan kekasih Als, kembali hadir, Juju merasa posisinya tergeser dan memilih bersiap pergi.

Namun, konflik utama novel ini justru bergerak dari penyangkalan tersebut. Als tidak menerima keputusan Juju begitu saja. Ia berusaha membuktikan bahwa apa yang mereka jalani, meski dimulai dengan cara yang keliru adalah cinta yang nyata.

Dari sinilah cerita berkembang menjadi romansa dewasa dengan dinamika emosional yang kompleks. Ketergantungan, ketakutan kehilangan, relasi kuasa, dan luka batin yang tidak sederhana.

Kelebihan Novel Ode to the Stars

Secara naratif, Ode to the Stars memiliki daya tarik sejak sinopsis. Trope “living together tanpa status” dan “mantan kekasih datang kembali” memang bukan hal baru, tetapi Cecillia Wang mampu mengemasnya dengan pendekatan karakter yang membuat pembaca tetap bertahan.

Tokoh utama, terutama Juju, bisa terasa menyebalkan di awal. Rapuh, ragu, dan tidak tegas. Namun justru di situlah kekuatan penulis bekerja. Perkembangan karakter Juju terasa perlahan namun masuk akal, hingga pembaca akhirnya dapat bersimpati, meski tidak selalu setuju dengan pilihannya.

Kekurangan Novel Ode to the Stars

Latar dunia medis menjadi nilai tambah sekaligus sumber kritik. Kedua tokoh utama adalah dokter, dengan banyak adegan berlatar rumah sakit dan kasus-kasus medis. Bagi pembaca awam, detail ini mungkin terasa meyakinkan.

Namun bagi pembaca dengan latar belakang medis, sejumlah bagian terasa kurang akurat. Mulai dari spesialisasi bedah jantung yang digambarkan terlalu sempit, penanganan kasus gawat darurat yang tidak realistis, hingga sistem pendidikan dokter spesialis (PPDS) yang lebih menyerupai sistem luar negeri daripada Indonesia.

Kritik ini tidak meruntuhkan keseluruhan cerita, tetapi cukup mengganggu bagi pembaca yang peka terhadap detail profesi.

Meski begitu, perlu diakui bahwa Ode to the Stars tidak menjual dirinya sebagai novel medis, melainkan romansa. Rumah sakit berfungsi sebagai panggung emosional, bukan sebagai ruang edukasi kedokteran. Dalam konteks ini, fokus utama tetap pada relasi antarmanusia, bukan prosedur klinis.

Dari sisi gaya bahasa, Cecillia Wang konsisten menggunakan mixed language khas lingkungan urban dan sekolah internasional Jakarta. Dialognya ringan, luwes, dan terasa natural untuk konteks karakter dewasa profesional. Bahasa Inggris yang diselipkan pun masih dalam batas percakapan sehari-hari, sehingga tidak menghalangi pemahaman, bahkan dapat memperkaya kosakata pembaca.

Rekomendasi Pembaca

Perlu diperhatikan jika novel ini juga memiliki catatan penting, yaitu konten eksplisit. Adegan-adegan dewasa ditampilkan cukup gamblang, sehingga disarankan buku ini dibaca oleh pembaca berusia 25 tahun ke atas. Sayangnya, peringatan usia tersebut kurang ditonjolkan sejak awal, termasuk pada desain sampul yang judulnya kurang terbaca dan tidak memberi isyarat jelas tentang muatan cerita.

Secara keseluruhan, Ode to the Stars adalah novel romansa dewasa yang kuat dari sisi karakter dan emosi. Ia tidak sempurna, terutama dalam riset medis dan beberapa dinamika yang terasa dipaksakan.

Namun tetap berhasil membuat pembaca terikat, bahkan penasaran dengan kelanjutan hidup para tokohnya. Sebuah bacaan yang tidak ringan secara emosi, tetapi cukup menggugah bagi pembaca yang menyukai kisah cinta kompleks, abu-abu, dan manusiawi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak