Geger politik di tahun 1960-an menyisakan kenangan kelam yang belum juga padam bagi banyak orang di Indonesia. Pada masa itu, ada dua pilihan yang tersedia: menghilang tanpa jejak atau dituduh tanpa alasan yang jelas hingga harus mendekam di balik jeruji besi.
Dalam novel biografi berjudul "Katri", penulis Adeste Adipriyanti mengajak kita untuk mengeksplorasi kisah nyata seorang wanita yang memilih jalan alternatif: bertahan. Ini bukan hanya sekadar sebuah cerita sejarah, melainkan juga tentang ketahanan seorang wanita dalam menghadapi kenyataan yang pahit.
Sinopsis: Bertahan di Tengah Badai Kemalangan
Kisah ini mengisahkan tentang Katri, seorang penduduk Desa Trunuh di Klaten, yang mengalami perubahan drastis dalam hidupnya pada bulan Oktober tahun 1965.
Tiga hari setelah suaminya dan kakaknya menghilang, Katri, yang sedang mengandung tujuh bulan, diserang oleh para tentara. Ia dituduh melakukan tuduhan palsu dan hampir kehilangan nyawanya ketika sebuah peluru melesat tepat di hadapannya. Secara ajaib, ia selamat, meskipun masa remajanya yang indah hilang dalam sekejap.
Ketertarikan Katri pada seni justru dianggap sebagai sebuah ancaman. Sejak saat itu, serangkaian kesulitan datang beruntun.
Katri dipindahkan dari satu kamp ke kamp lainnya, dari satu penjara ke penjara lain, selama lebih dari sepuluh tahun. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Katri telah berusia lebih dari 70 tahun. Tinggal di sebuah rumah kecil di tepi sawah, ia masih bertahan. Namun, sebuah pertanyaan besar terus menghantuinya: untuk siapa sebenarnya Katri bertahan selama ini?
Kelebihan dan Kekurangan
Adeste Adipriyanti berhasil mendeskripsikan setiap bagian dari kehidupan Katri dengan cara yang sangat indah, mulai dari ketenangan di desa hingga saat-saat sulit di penjara. Salah satu daya tarik utama dari novel ini adalah penggambaran mimpi-mimpi Katri saat di penjara yang sangat menyentuh, menggambarkan kerinduan yang dalam terhadap rumah yang diambil secara paksa. Pengalaman membaca menjadi lebih berkesan berkat ilustrasi yang indah dari Audrey Murty, yang membuat pembaca tetap terhibur.
Menariknya, novel ini muncul dari hubungan emosional yang mendalam antara penulis dan karakternya, sebuah ikatan persahabatan yang lahir dari pengalaman kehilangan yang serupa terhadap anggota keluarga saat masa turbulensi politik itu.
Dari segi kelemahan, karena ini adalah sebuah novel biografi yang sangat pribadi, cerita ini sangat berfokus pada potongan ingatan Katri.
Bagi pembaca yang menginginkan penjelasan sejarah yang lebih luas dan terperinci mengenai situasi politik tahun 1965, mungkin akan merasa narasinya terdengar lebih "sepi" dan sangat subjektif. Namun, justru kesunyian tersebut yang membuat dimensi kemanusiaan dari Katri semakin tampak dan autentik.
Novel "Katri" adalah sebuah perayaan atas keteguhan hati dan persahabatan. Melalui buku ini, kita diingatkan bahwa di balik angka-angka statistik sejarah yang sering kita baca, ada nyawa dan perasaan manusia yang hancur berkeping-keping namun mencoba untuk tetap utuh.
Buku ini bukan hanya layak dibaca sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai warisan ingatan bagi generasi muda agar tidak melupakan sisi kelam masa lalu. Sebuah kisah yang menyisakan kehangatan sekaligus renungan mendalam tentang apa artinya menjadi seorang penyintas. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beritahu!.
Identitas Buku:
- Judul: Katri
- Penulis: Adeste Adipriyanti
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Editor: Aziz Azthar
- Ilustrator: Audrey Murty
- Perancang Sampul: Teguh Tri Erdyan
- Genre: Novel
- Tahun Terbit: 21 Mei 2025
- Jumlah Halaman: 249