Ulasan
Sepupuku Seorang Ahli Matematika: Menghitung Angka di Bumi Hingga Antariksa
Semasa saya duduk di bangku SD, matematika bukanlah pelajaran yang saya sukai. Cara mengajar guru terlalu tekstual. Angka-angka hanya berputar-putar pada operasi hitungan yang abstrak, sulit saya cerna apalagi menetap ke otak. Ditambah lagi pernah ada sebuah insiden yang membuat saya trauma dengan sang guru, membuat perasaan benci matematika mulai tumbuh di hati saya.
Keadaan sedikit membaik di masa SMP. Guru matematika kami kala itu memiliki pembawaan yang cerah, dan menyenangkan. Beliau selalu berhasil menyederhanakan soal-soal sehingga terasa mudah, terutama buat saya. Perasaan antipati pun memudar perlahan.
Dari kedua keadaan itu membuat saya merenung, andai saja ada formula baku di sekolah yang bisa membuat belajar matematika menjadi menyenangkan. Entah itu dengan penjelasan yang lebih sederhana, maupun yang ‘relate’ dengan kehidupan sehari-hari. Saya yakin anak-anak akan lebih menghargai, bahkan mencintai matematika.
Syukurlah di masa kini usaha-usaha tersebut di atas semakin gencar digiatkan. Matematika didekatkan sejak dini melalui bahan bacaan yang beragam. Aneka buku aktivitas bertema numerasi juga kian banyak terbit.
Salah satunya yang telah saya baca baru-baru ini, sebuah buku Seri Profesi STEAM yang diterbitkan oleh Penerbit Kiddo-KPG, tahun 2022, dengan judul Sepupuku Seorang Ahli Matematika. Buku ini ditulis oleh Dr. Shini Somara, dan diilustrasikan Nadja Sarell. Daniel Santosa bertindak selaku penerjemah.
Alur ceritanya sederhana, mengikuti perjalanan Aliyah dan Robin sejak dari rumah sampai ke perkemahan. Namun sepanjang perjalanan tersebut pembaca disuguhi konsep-konsep angka yang mudah dipahami, informasi-informasi pengayaan, yang didukung ilustrasi berwarna yang indah. Dan jujur saja, menurut saya itu sungguh mencerahkan wawasan.
Aliyah dan sepupunya, Robin, telah merencanakan pergi berkemah. Sebelum berangkat ke lokasi perkemahan Robin mengajak Aliyah berbelanja beberapa barang di toko.
Robin menunjukkkan daftarnya yang terdiri dari empat macam benda yakni pasak tenda, tali, buah, dan marshmallow. Ia lalu bertanya kepada Aliyah mengenai kemungkinan jumlah barang yang bisa mereka beli dari dua toko.
Aliyah berpikir sebentar. “Ada empat macam barang … dua barang di satu toko, dua barang di toko lainnya. Bisa juga tiga barang di satu toko dan satu barang di toko yang lain!” (hal. 5).
Tanya jawab antara Robin dan Aliyah ini sejatinya mengajarkan topik probabilitas atau peluang, salah satu topik dalam pelajaran matematika di sekolah. Hanya saja begitu dibicarakan secara aplikatif, topik tersebut menjadi lebih mudah dicerna anak.
Kemudian saat membeli pasak tenda, Robin menerangkan bagaimana cara menancapkannya ke tanah. Ternyata rahasianya pasak tenda harus dipasang membentuk sudut 45 derajat dengan tanah. Tujuannya agar pasak tidak mudah lepas dan tenda tidak mudah ambruk.
Informasi mengenai pengertian dan contoh sudut-sudut lainnya, ikut diterakan melalui diagram sederhana yang ringkas.
Setelah mereka medapatkan barang-barang yang dibutuhkan, perjalanan masih diteruskan dengan kereta api. Robin menyebutkan lama perjalanan yang didapatkan dari mengalikan jumlah stasiun perhentian, dengan waktu transit di setiap titik. Sebuah diagram peta diterakan untuk mempermudah visualisasi pembaca.
Awalnya Aliyah ingin menggunakan kalkulator, tapi sepupunya menganjurkan ia menghitung secara manual.
“Kalkulator memang sangat membantu, tapi akan lebih baik kalau kita bisa menjumlahkannya sendiri!” (Hal. 15)
Lalu Robin menyebutkan nama-nama tokoh ilmuwan di bidang matematika, antara lain Blaise Pascal, Florence Nightingale, dan Fibonacci. Blaise Pascal adalah orang yang menciptakan kalkulator mekanis pertama di tahun 1642, yang disebut Pascaline. Mesin itu punya roda besi berisi angka-angka yang diputar untuk melakukan penghitungan.
Florence Nightingale, bukan sekadar perawat biasa. Karena ia berjasa mengumpulkan data tingkat kebersihan rumah sakit berbanding dengan data kesembuhan pasien. Ia menyajikan data tersebut dalam diagram ‘coxcomb’. Penemuannya membantu menyelamatkan banyak orang.
Sementara Fibonacci adalah orang yang menemukan pola angka di alam, saat mengamati seberapa cepat kelinci berkembang biak. Pola tersebut ia tuangkan dalam bentuk deret ukur, yang kita kenal sebagai deret Fibonacci. Pola angka ini ditemukan saintis dalam berbagai bentuk di alam, misal pada banyaknya spiral di kerang laut (hal. 21).
Robin juga menerangkan bahwa di bintang ada matematika. Matematika digunakan untuk menghitung jarak antarbintang dan dari apa bintang itu terbuat. Ia sendiri bekerja di bidang astrostatistika, yang berarti Robin melihat angka di antariksa. Semua pembahasan tersebut membuat Aliyah semakin menyukai angka-angka, dan ingin menjadi seorang ahli matematika.
‘Ahli matematika selalu mencoba memahami dan membuat dunia sekitar mereka lebih baik dengan menggunakan angka dan menemukan aturan. Mereka banyak bertanya dan menemukan jawabannya dari mengamati pola, dan menguji ide mereka.’ (Hal. 28).
Usai membaca buku setebal 32 halaman ini hati saya menjadi hangat. Ternyata matematika itu bisa menyenangkan dan terang benderang. Asal dijelaskan secara konkret melalui kehidupan sehari-hari, serta dibantu dengan visualisasi yang baik. Selamat membaca!