Film Wildcat: Trope Klasik dalam Kemasan Modern yang Menegangkan!

Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Film Wildcat: Trope Klasik dalam Kemasan Modern yang Menegangkan!
Poster film Wildcat (IMDb)

Film Wildcat (2025) adalah sebuah thriller aksi yang disutradarai oleh James Nunn, dengan naskah ditulis oleh Dominic Burns. Dibintangi Kate Beckinsale sebagai pemeran utama, film ini menggabungkan elemen heist, balas dendam, dan drama keluarga dalam latar belakang dunia kriminal London yang brutal.

Dirilis di Amerika Serikat pada 25 November 2025, Wildcat tayang di bioskop Indonesia mulai akhir Januari 2026, tersedia di jaringan seperti Cinema XXI dan Cinépolis. Di Indonesia, film ini mendapat rating dari Lembaga Sensor Film sebagai cerita misi penyelamatan berisiko tinggi dengan tema kekerasan dan aksi, cocok untuk penonton dewasa. Dengan durasi 99 menit, film ini menjanjikan adrenalin tinggi meski dengan anggaran terbatas, membuatnya terasa seperti produksi direct-to-video yang energik.

Heist Berisiko Tinggi di Tengah Perang Geng

Salah satu adegan di film Wildcat (IMDb)
Salah satu adegan di film Wildcat (IMDb)

Sinopsis cerita berpusat pada Ada (Kate Beckinsale), seorang mantan agen black ops yang kini hidup sebagai ibu tunggal di East London. Ia membesarkan putrinya yang tuna rungu, Charlotte (Isabelle Moxley), sambil berusaha meninggalkan masa lalu gelapnya.

Namun, kehidupan tenang itu hancur ketika saudara laki-lakinya yang ceroboh, Edward (Rasmus Hardiker), mencuri dari bos kriminal besar, Frasier Mahoney (Charles Dance). Akibatnya, Charlotte diculik sebagai jaminan, memaksa Ada untuk menyatukan kembali tim lamanya: mantan kekasihnya Roman (Lewis Tan), dan rekan setia Curtis (Bailey Patrick).

Mereka harus melakukan heist berbahaya terhadap rival Mahoney, Christina Vine (Alice Krige), di tengah kekacauan perang geng di kota. Plot ini sederhana tapi efektif, mengikuti formula klasik one last job untuk menyelamatkan orang terkasih, dengan twist keluarga dan elemen emosional yang menambah kedalaman.

Dari segi penyutradaraan, James Nunn membuktikan keahliannya dalam genre aksi, seperti yang terlihat di film-film sebelumnya seperti One Shot series. Adegan pertarungan dan tembak-menembak dieksekusi dengan presisi, menggunakan koreografi yang rapi dan editing cepat yang membuat penonton terlibat.

Salah satu kekuatan utama adalah bagaimana Nunn memanfaatkan setting London yang gritty—gang-gang sempit, gudang tua, dan apartemen kumuh—untuk menciptakan atmosfer tegang. Penggunaan single-take sequences di beberapa aksi menambah intensitas, mirip gaya Guy Ritchie tapi dengan budget lebih rendah. Tetapi, ini juga menjadi kelemahan: produksi terlihat murah, dengan efek visual yang kadang kasar dan pencahayaan yang kurang halus, membuatnya terasa seperti knockoff dari film seperti Lock, Stock and Two Smoking Barrels.

Review Film Wildcat

Salah satu adegan di film Wildcat (IMDb)
Salah satu adegan di film Wildcat (IMDb)

Akting para pemain campuran. Kate Beckinsale sebagai Ada tampil tangguh dan karismatik, mengingatkan peran ikoniknya di Underworld. Ia berhasil menyampaikan kerapuhan seorang ibu yang dipaksa kembali ke dunia kekerasan, dengan ekspresi wajah yang tegas meski kritikku karena terlalu kaku—mungkin akibat usia dan makeup yang berusaha menyembunyikan itu.

Lewis Tan sebagai Roman memberikan chemistry yang solid dengan Beckinsale, menambahkan elemen romantis yang tidak terlalu dipaksakan. Tan's martial arts background bersinar di adegan fight, membuat duet mereka menyenangkan ditonton.

Rasmus Hardiker sebagai Edward membawa humor gelap, meski karakternya sering terasa kartunish dan over-the-top, dijuluki Looney Tunes dalam cerita. Pendukung seperti Charles Dance dan Alice Krige sebagai bos kriminal memberikan gravitas, tapi peran mereka underutilized, lebih seperti cameo daripada antagonis mendalam.

Isabelle Moxley sebagai Charlotte menonjol dengan akting alami, menambahkan sentuhan emosional yang membuat taruhan cerita terasa nyata. Secara keseluruhan, akting cukup untuk mendukung plot, tapi tidak ada penampilan breakout yang membuat film ini memorable.

Plot Wildcat mudah ditebak dan bergantung pada trope khas genre: penculikan anak, reuni tim, serta balas dendam. Flashback sering dipakai untuk jelaskan latar belakang, tapi justru memperlambat ritme di awal.

Humor gaya British dengan slang Cockney berusaha meniru Guy Ritchie, namun sering gagal—terutama dialog Edward yang panjang dan bertele-tele. Tema keluarga serta penebusan cukup menarik, menyinggung bayang-bayang masa lalu, tapi tidak dieksplorasi mendalam.

Kekerasan eksplisit seperti tembakan ke kepala dan perkelahian brutal membuatnya rated R, tapi masih terkendali. Musiknya energik dan mendukung aksi, meski terasa generik. Secara keseluruhan, film ini menghibur dengan aksi yang kuat, tapi plotnya berbelit-belit, kurang orisinal, dan akting Kate Beckinsale yang masih kurang.

Secara keseluruhan, Wildcat adalah hiburan ringan untuk penggemar aksi low-budget. Kekuatannya di adegan pertarungan dan performa Beckinsale, membuatnya layak ditonton di bioskop untuk sensasi besar layar. Akan tetapi, kelemahan di script dan produksi membuatnya tidak standout di genre yang penuh kompetisi.

Kalau kamu suka film seperti Taken atau The Raid dengan sentuhan British, ini bisa memuaskan. Rating dariku: 6.5/10. Di Indonesia, tayang pada akhir Januari 2026, film ini potensial atraktif untuk penonton aksi lokal, meski mungkin tidak sepopuler blockbuster Hollywood.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak