Ulasan

Kesepian dan Depresi: Kisah Tragis Kusunoki dalam Three Days of Happiness

Kesepian dan Depresi: Kisah Tragis Kusunoki dalam Three Days of Happiness
Three Days of Happiness (Dok.Pribadi/Oktavia)

Novel-novel Jepang memang identik dengan kisah yang filosofis seperti air. Tenang, mengalir hingga menjerumuskan dalam kesepian yang terlalu dalam. Seolah menunggu waktu untuk sinar matahari datang dan air-air itu menjadi percikan yang bersinar dan lebih menyenangkan. 

Di novel ini kita akan disambut oleh premis yang menarik. Bagaimana jika sisa hidup manusia bisa dijual dengan uang? Pertanyaan aneh sekaligus menyeramkan itulah yang menjadi inti dari novel Three Days of Happiness karya Sugaru Miaki.

Novel Jepang yang memiliki judul asli Jumyou wo Kaitotte Moratta. Ichinen ni Tsuki, Ichimanen de ini adalah kisah yang sangat emosional mengenai kesepian, depresi, penyesalan, dan bagaimana manusia sering kali baru memahami arti hidup ketika waktunya hampir habis. Versi Indonesia novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama melalui lini m&c! pada tahun 2020.

Sinopsis Novel

Meski premisnya terdengar supernatural, kekuatan utama novel ini justru terletak pada kedekatannya dengan realitas kehidupan anak muda modern: rasa gagal, tekanan sosial, kehilangan arah hidup, dan ketakutan menjadi “orang biasa” yang tidak berarti apa-apa.

Tokoh utamanya adalah Kusunoki, mahasiswa 20 tahun yang hidupnya berantakan. Ia miskin, kesepian, tidak punya mimpi, dan merasa masa depannya hampa. Dulu, ketika kecil, ia percaya dirinya akan menjadi seseorang yang hebat.

Namun kenyataan hidup menghancurkan semua harapan itu. Hidup yang ia bayangkan penuh pencapaian berubah menjadi rutinitas membosankan dengan kamar sempit, uang pas-pasan, dan relasi sosial yang nyaris tidak ada.

Dalam kondisi putus asa itulah Kusunoki mendengar tentang sebuah toko misterius yang bisa membeli sisa hidup manusia. Awalnya terdengar seperti lelucon, tetapi toko itu benar-benar ada. Di sana, hidup manusia dihitung berdasarkan nilai masa depannya: apakah orang tersebut akan bahagia, berguna bagi masyarakat, atau memberi pengaruh pada orang lain.

Kusunoki lalu mengetahui fakta paling menyakitkan dalam hidupnya. Tiga puluh tahun sisa hidupnya ternyata hanya dihargai 300 ribu yen. Nilai yang sangat kecil karena masa depannya dianggap tidak penting bagi siapa pun. Ia akhirnya menjual seluruh sisa hidupnya dan hanya menyisakan tiga bulan terakhir untuk dijalani.

Dari sinilah cerita berubah menjadi sangat emosional.

Setelah transaksi itu, Kusunoki ditemani seorang pengawas bernama Miyagi. Sosok perempuan dingin dan misterius yang ditugaskan untuk mengawasi hari-hari terakhirnya. Awalnya hubungan mereka terasa canggung. Miyagi bersikap formal dan menjaga jarak, sementara Kusunoki tetap terjebak dalam rasa putus asa. Namun perlahan, interaksi kecil di antara mereka justru menjadi inti paling menyentuh dari novel ini.

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu hadir dari hal besar. Kusunoki mulai menikmati momen-momen sederhana yang dulu tidak pernah ia perhatikan: berjalan santai, memotret mesin penjual otomatis, mengobrol dengan seseorang, atau sekadar menghabiskan waktu bersama Miyagi.

Novel ini juga sangat jujur dalam menggambarkan depresi dan rasa rendah diri. Kusunoki bukan karakter heroik. Ia egois, tertutup, dan sering memandang dirinya sendiri dengan sangat kejam.

Salah satu kutipan paling menyentuh dalam novel ini adalah ketika ia menyadari bahwa mungkin dunia sebenarnya tidak pernah sejahat itu, tetapi dirinya sendiri yang terlalu keras menilai hidupnya hanya berdasarkan angka, pencapaian, dan ekspektasi sosial.

Di balik kisah fantasinya, novel ini seperti kritik terhadap masyarakat modern yang terlalu sering mengukur nilai manusia dari produktivitas dan keberhasilan. Kusunoki merasa hidupnya gagal karena ia tidak sukses, tidak terkenal, dan tidak dianggap penting.

Padahal justru di tiga bulan terakhir hidupnya, ia mulai menemukan sesuatu yang selama ini hilang: koneksi emosional dan alasan untuk tetap hidup.

Hubungan Kusunoki dan Miyagi menjadi elemen paling memorable dalam cerita ini. Mereka sama-sama kesepian, sama-sama membawa luka, dan perlahan belajar memahami arti keberadaan satu sama lain. Romansa mereka terasa sunyi, sederhana, tetapi justru sangat menyakitkan.

Pesan Moral

Gaya penulisan Sugaru Miaki juga menjadi kekuatan besar novel ini. Bahasanya sederhana, tidak berlebihan, tetapi penuh refleksi filosofis yang relatable bagi banyak pembaca muda. Novel ini tidak mencoba menjadi rumit, tetapi mampu meninggalkan pukulan emosional yang kuat.

Pada akhirnya, Three Days of Happiness bukan sekadar novel tentang menjual umur. Ini adalah cerita tentang manusia yang terlalu lama hidup tanpa benar-benar merasakan hidup.

Novel ini mengingatkan bahwa waktu yang singkat bersama orang yang tepat bisa jauh lebih berharga dibanding puluhan tahun hidup dalam kesepian. Dan mungkin, tiga hari penuh kebahagiaan memang bisa lebih berarti daripada tiga puluh tahun kehidupan yang kosong.

Identitas Buku

  • Judul: Three Days of Happiness
  • Penulis: Sugaru Miaki
  • Penerbit: m&c!
  • Tahun Terbit: 2020 
  • Tebal: 256 halaman
  • ISBN: 9786230302176
  • Kategori: Fiksi, Novel, Psikologi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda