Ulasan

Daredevil: Born Again Season 1, Sajikan Tema Keadian dan Korupsi Kekuasaan!

Daredevil: Born Again Season 1, Sajikan Tema Keadian dan Korupsi Kekuasaan!
Poster serial Daredevil: Born Again Season 1 (IMDb)

Daredevil: Born Again Season 1 merupakan kelanjutan yang telah lama dinantikan dari serial Netflix Daredevil (2015–2018), yang kini terintegrasi ke dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) dan tayang eksklusif di Disney+. Serial ini premiered pada 4 Maret 2025 dengan dua episode awal, diikuti rilis mingguan hingga episode kesembilan pada 15 April 2025.

Untuk penonton di Indonesia, seluruh season telah tersedia untuk streaming di Disney+ sejak penyelesaian jadwal rilis tersebut. Dengan sembilan episode berdurasi sekitar satu jam, season ini mengikuti perjalanan Matt Murdock (Charlie Cox), pengacara buta yang dulunya beroperasi sebagai vigilante Daredevil di Hell's Kitchen.

Kebangkitan Wilson Fisk sebagai Kekuatan Politik

Salah satu adegan di serial Daredevil: Born Again Season 1 (IMDb)
Salah satu adegan di serial Daredevil: Born Again Season 1 (IMDb)

Cerita dimulai dengan peristiwa tragis yang mengubah segalanya: pembunuhan Foggy Nelson (Elden Henson) oleh Bullseye (Wilson Bethel) di episode pembuka. Kejadian ini mendorong Matt untuk hampir melanggar kode moralnya, sebelum ia memilih mundur sementara dari identitas Daredevil. Setahun kemudian, Matt menjalani kehidupan sipil dengan firma hukum baru dan hubungan romantis, sementara Wilson Fisk (Vincent D'Onofrio) muncul sebagai kandidat Wali Kota New York yang karismatik namun berbahaya.

Narasi season ini mengeksplorasi tema keadilan, korupsi kekuasaan, dan perjuangan internal antara identitas sipil dengan panggilan sebagai vigilante. Fisk, yang terpilih sebagai wali kota, memanfaatkan posisinya untuk membangun rezim anti-vigilante, menciptakan ketegangan politik yang kuat.

Matt harus berhadapan dengan ancaman baru seperti seniman pembunuh Muse, serta konflik emosional dengan Karen Page (Deborah Ann Woll) yang terpisah pasca-kematian Foggy. Kehadiran karakter pendukung seperti Punisher (Jon Bernthal) menambah lapisan kedalaman, terutama dalam eksplorasi moralitas vigilante.

Ulasan serial Daredevil: Born Again Season 1

Salah satu adegan di serial Daredevil: Born Again Season 1 (IMDb)
Salah satu adegan di serial Daredevil: Born Again Season 1 (IMDb)

Kurasa, serial ini berhasil mempertahankan esensi gritty dan dewasa dari pendahulunya, meski dengan penyesuaian untuk platform Disney+. Adegan kekerasan tetap brutal dan koreografi pertarungan yang presisi, meskipun adanya sedikit perubahan nada yang lebih terang dibandingkan Netflix.

Charlie Cox kembali menghadirkan Matt Murdock dengan kerumitan emosional yang mendalam, sementara Vincent D'Onofrio mendominasi sebagai Wilson Fisk dengan karisma menyeramkan. Penampilan pendukung, termasuk Deborah Ann Woll dan Elden Henson (meski perannya terbatas), memberikan fondasi yang solid.

Secara keseluruhan, season ini mendapat respons positif dengan rating sekitar 87% di Rotten Tomatoes dari kritikus dan 79-83% dari audiens. Banyak yang memuji pendekatan karakter-driven dan integrasi ke MCU, kritikku sih, ada pada transisi produksi yang terlihat di beberapa subplot. Serial ini menandai pergeseran matang dalam tone MCU, lebih fokus pada drama kriminal daripada elemen superhero yang bombastis.

Salah satu kekuatan utama Daredevil: Born Again adalah adegan aksi yang intens dan koreografi inovatif. Adegan paling menegangkan dan berkesan bagiku adalah pertarungan pembuka di episode pertama. Setelah pembunuhan Foggy, Matt yang murka mengejar Bullseye dalam baku hantam brutal di bar dan atap bangunan. Adegan ini menampilkan kekerasan mentah, di mana Daredevil hampir membunuh musuhnya dengan melemparnya dari atap, mencerminkan perjuangan internalnya yang ekstrem. Suasana gelap, suara hujan, dan koreografi yang menggabungkan tongkat billy club Daredevil menciptakan ketegangan luar biasa.

Adegan lain yang tak kalah memorable adalah pertarungan di bank selama perampokan pada episode 5. Matt, yang sedang melindungi Yusuf Khan (ayah Ms. Marvel), terlibat duel ketat di tangga dan vault. Ia menggunakan keterampilan MMA untuk melumpuhkan perampok tanpa menimbulkan suara yang berlebihan, menunjukkan kontrol sensoriknya yang luar biasa. Adegan ini tegang karena elemen stealth dan risiko tinggi, dengan Matt yang harus menahan diri agar tidak terdeteksi.

Di bagian akhir season, klimaks melibatkan kerjasama Daredevil dengan Punisher melawan pasukan anti-vigilante Fisk. Sekans ini penuh aksi koordinasi yang epik, di mana kedua vigilante saling melengkapi dalam pertempuran brutal. Pertarungan melawan Muse juga berkesan karena elemen artistik dan kekerasan yang visceral, di mana Daredevil menghadapi lawan dengan gaya unik yang melibatkan darah dan seni jalanan.

Adegan-adegan ini tidak hanya memuaskan secara visual, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator emosional, menggambarkan bagaimana kekerasan memengaruhi jiwa Matt Murdock. Koreografi yang panjang dan one-take style mengingatkan pada keunggulan Netflix, dengan tambahan elemen sinematik yang lebih modern.

Daredevil: Born Again Season 1 berhasil menghidupkan kembali warisan karakter dengan cara yang hormat sekaligus inovatif. Meski produksinya sempat mengalami overhaul, hasil akhirnya koheren dan menjanjikan arah cerita yang lebih besar di season mendatang.

Buat kamu penggemar aksi superhero dewasa, drama hukum, dan karakter kompleks, serial ini wajib banget buat kamu tonton, sih. Dengan seluruh episode tersedia di Disney+, kamu bisa menikmati perjalanan Matt Murdock yang penuh gejolak tanpa hambatan. Season ini membuktikan bahwa Daredevil tetap menjadi salah satu aset terbaik Marvel di ranah televisi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda