Sisi Tergelap Surga: Menggugat Batas Benar dan Salah di Tengah Miskin

Hayuning Ratri Hapsari | Taufiq Hidayat
Sisi Tergelap Surga: Menggugat Batas Benar dan Salah di Tengah Miskin
Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna (instagram.com/brian.khrisna)

Bagi banyak orang, ibu kota tampak seperti pelabuhan harapan yang menjanjikan kemakmuran. Dari kejauhan, ia terlihat layaknya surga yang dipenuhi cahaya dan peluang. Namun, melalui novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna, kita diajak untuk menyelami bayang-bayangnya dan menyingkap apa yang tersembunyi di balik gemerlap tersebut.

Alih-alih kesuksesan yang manis, kita justru menemukan perjuangan hidup yang getir; tentang para perantau yang datang membawa mimpi, namun harus pulang dengan luka yang tak pernah sembuh.

Nasib Perantau di Balik Rimba Beton

Membaca buku ini menyadarkan saya bahwa setiap perantau yang mengadu nasib ke ibu kota sebenarnya tengah mempertaruhkan nyawa. Mereka bertahan di sela-sela gedung pencakar langit yang acuh, berjuang keras sekadar untuk menyambung napas.

Brian Khrisna dengan sangat apik menggambarkan bagaimana kota ini bisa menjadi medan yang sangat kejam bagi mereka yang tak memiliki kuasa. "Surga" yang mereka dambakan ternyata memiliki sudut kelam di mana harapan sering kali layu sebelum sempat berkembang.

Lingkaran Setan Kemiskinan dan Krisis Moralitas

Lebih jauh, novel ini membedah bagaimana kemiskinan bekerja layaknya lingkaran setan yang tak berujung. Kita melihat bahwa jeratan ekonomi sering kali memaksa seseorang mengambil keputusan instan yang justru merugikan masa depan mereka. Mereka bekerja keras bukan untuk naik kelas sosial, melainkan hanya agar tidak tenggelam lebih dalam dari batas kemanusiaan.

Hal yang paling menarik dalam novel ini adalah caranya menggugat standar moral kita. Kita kerap terlalu mudah menghakimi seseorang tanpa memahami latar belakang tindakannya. Dalam Sisi Tergelap Surga, batas antara benar dan salah menjadi sangat tipis. Novel ini menyadarkan kita bahwa di bawah tekanan ekonomi yang mencekik, moralitas menjadi barang mewah yang sulit digapai. Apakah seseorang layak dicap jahat jika ia terpaksa melanggar aturan hanya demi sesuap nasi esok hari?

Cermin Retak Realitas Sosial

Novel ini bukan sekadar fiksi biasa, melainkan cermin retak yang memantulkan kenyataan pahit masyarakat kita. Brian Khrisna mengajak kita untuk tidak melihat dunia secara dikotomis, hitam dan putih saja. Kota besar digambarkan sebagai entitas yang tega melumat nilai-nilai kemanusiaan demi perputaran uang. Sebagai pembaca, saya merasa diundang untuk lebih berempati dan tidak terburu-buru menghakimi kesulitan orang lain.

Akhirnya, Sisi Tergelap Surga adalah pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin mengadu peruntungan jauh dari rumah. Kehidupan kota sering kali menuntut bayaran yang mahal. Namun, di tengah pekatnya kegelapan, kita masih bisa menemukan satu hal berharga: kejujuran. Kejujuran bahwa hidup memang berat, dan di setiap kesulitan, kita selalu punya pilihan—apakah tetap bertahan menjadi manusia baik atau justru ikut larut dalam kegelapan itu sendiri.

Identitas Buku:

  • Judul: Sisi Tergelap Surga
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2023
  • Genre: Fiksi / Drama Sosial

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak