Kolom
Bukan Hanya Sapi atau Kambing: Sudahkah Anda Menyembelih 'Sifat Binatang' di Dalam Diri?
Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, sebuah ungkapan satir sempat melintas di lini masa For Your Page (FYP) TikTok saya. Isinya terasa sangat menohok dan tajam: "Jika kamu belum mampu berkurban hewan, berkurbanlah dengan menyembelih sifat kebinatangan yang selama ini kamu pelihara di dalam dirimu." Kalimat singkat yang ramai diperbincangkan netizen ini hadir layaknya tamparan keras yang tepat sasaran di tengah kesibukan kita mempersiapkan seremonial hari raya. Kutipan tersebut seolah membangunkan kita yang kerap kali terjebak dalam rutinitas formalitas ritual tahunan.
Ketika ruang publik asyik memperdebatkan bobot sapi, menakar jenis kambing, atau membandingkan fluktuasi harga hewan ternak di pasar, ungkapan satir ini justru memaksa kita untuk menunduk dan menengok ke dalam dada masing-masing. Ia mengajak kita merenung secara jujur: jangan-jangan, di balik kesalehan artifisial yang kita pertontonkan di media sosial, ada ego yang membatu dan keserakahan yang tanpa sadar kita beri makan setiap hari di dalam hati.
Mutasi Sifat "Buas" di Ruang Digital
Jika kita mengontekstualisasikan esensi ibadah kurban dengan ritme kehidupan modern yang serbacepat, instan, dan individualistis seperti sekarang, esensi dasarnya sebenarnya tidak pernah berubah. Hal yang mengalami pergeseran hanyalah wujud dari "hewan sembelihan" itu sendiri. Jika hewan ternak berkaki empat tumbuh besar di dalam kandang fisik, maka sifat kebinatangan manusia modern justru tumbuh subur, gemuk, dan dirawat dengan baik di ruang-ruang digital serta zona kenyamanan pribadi kita.
Salah satu sifat "buas" yang telanjur kita pelihara tanpa ampun adalah agresivitas, kesombongan spiritual, dan kecanduan akan validasi semu. Lihat saja bagaimana perilaku destruktif dan jemari yang kejam begitu mudah berseliweran di kolom komentar media sosial. Hukum rimba seolah berpindah ke dunia maya; mereka yang kuat menindas yang lemah, dan mereka yang vokal secara agresif membungkam yang sunyi.
Dalam konteks modern ini, berkurban secara substantif bertransformasi menjadi sebuah tindakan sadar untuk mengeksekusi ego pribadi, membunuh keinginan untuk selalu tampil sebagai yang paling benar, paling sukses, atau paling dominan. Pengorbanan ego inilah yang menjadi kunci utama untuk menghidupkan kembali rasa empati yang tulus dan nyata terhadap sesama di dunia nyata.
Romantisme Ibrahim-Ismail dan Dekonstruksi Sifat Serakah
Secara biologis, insting dasar seekor hewan akan selalu berpusat pada akumulasi dan pertahanan sumber daya: menguasai wilayah kekuasaan, menimbun makanan sebanyak-banyaknya, dan egois dalam mengutamakan kelangsungan hidup kelompoknya sendiri. Ironisnya, manusia modern kerap kali terjebak dalam pola perilaku yang sama. Kita kerap terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk menimbun materi, mengoleksi gelar, dan meraup pengikut (followers) demi memuaskan dahaga narsisme pribadi, sembari menutup mata rapat-rapat terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang menganga di sekeliling kita.
Di titik nadir inilah, narasi agung mengenai Nabi Ibrahim dan Ismail hadir sebagai sebuah disrupsi sekaligus dekonstruksi radikal terhadap konsep kepemilikan. Peristiwa kurban merupakan momentum tahunan yang memaksa kita untuk bermigrasi dari egosentrisme menuju sosiosentrisme. Ketika kita memiliki keberanian untuk melepaskan atau menyembelih sesuatu yang paling kita cintai demi sebuah perintah dan tujuan yang lebih mulia, pada hakikatnya kita sedang memerdekakan diri dari belenggu materialisme yang selama ini mengikat dan mengerdilkan nilai-nilai kemanusiaan kita.
Kurban Inklusif: Manifestasi Moral Tanpa Batas Dompet
Keindahan terbesar dari dekonstruksi makna kurban ini terletak pada sifatnya yang sangat inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Ibadah penyembelihan hewan ternak secara syariat memang memiliki batasan fikih, yakni hanya diwajibkan bagi mereka yang memiliki kecukupan dan kemapanan secara finansial. Namun, perintah untuk mengorbankan sifat kebinatangan, seperti kelicikan jahat, kesombongan, dendam kesumat, dan kebebalan ego, adalah bentuk pengorbanan universal yang wajib dan dapat diimplementasikan oleh siapa saja, tanpa perlu memandang tebal atau tipisnya isi dompet mereka.
Bagi mereka yang menduduki takhta kekuasaan atau memiliki privilese pengetahuan, berkurban berarti memotong urat nadi keserakahan dan egoisme kelompok demi membela hak-hak masyarakat yang terpinggirkan. Sementara itu, bagi kita selaku warga digital (netizen), kurban dapat diwujudkan melalui laku spiritual yang paling sederhana namun krusial: menahan jemari untuk tidak memproduksi, mengonsumsi, dan menyebarkan berita bohong (hoax), fitnah, serta narasi kebencian yang berpotensi merusak tatanan sosial bangsa.
Kesimpulan
Pada akhirnya, kita harus menyadari sebuah garis batas: penyembelihan hewan kurban secara fisik memiliki masa kedaluwarsa, karena ia dibatasi hanya pada hari tasyrik. Namun, perjuangan untuk membasmi watak destruktif, egoisme, dan sifat kebinatangan di dalam diri adalah sebuah perang suci (jihad) yang berlangsung seumur hidup. Ia tidak boleh ikut berhenti begitu takbiran usai dan perayaan hari besar selesai.
Menjelang Iduladha kali ini, marilah kita tegak berdiri di depan cermin nurani masing-masing. Hewan ternak jenis apa yang sudah kita persiapkan untuk disembelih di lapangan esok hari? Dan yang jauh lebih esensial, sifat "hewan" mana di dalam labirin hati kita yang saat ini benar-benar telah siap untuk kita biarkan mati, agar sisi kemanusiaan kita dapat lahir kembali untuk merawat dan memanusiakan manusia lain?